Pasar Modal Indonesia Masih Maskulin, KSEI: 66,35% Laki-Laki di Sepanjang Tahun 2025
Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat menjabarkan, demografi investor pasar modal Indonesia masih didominasi oleh laki-laki, dengan porsi 66,35% per 24 Desember 2025. Ini juga didominasi investor yang bekerja sebagai pegawai dengan porsi 66,20% dan berusia di bawah 30 tahun dengan porsi 52,59%.
“Secara demografi, memang laki-laki itu lebih senang berinvestasi, karena 66,3% investor baru itu adalah laki-laki. Artinya sisanya perempuan,” jelas Samsul kepada awak media saat acara penutupan perdagangan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Selasa (30/12/2025).
Selain ditopang oleh investor muda yang bekerja sebagai pegawai, sebagian dari mereka itu berpenghasilan di rentang Rp10 juta sampai Rp100 juta per bulan. Porsinya mencapai 57,29% selama tahun 2025. Sementara dari sisi pendidikan, terdapat 15,15% investor lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat.
Sepanjang tahun 2025, investor pasar modal bertambah 5.354.401 investor. Sementara tahun lalu, pertambahannya sebanyak 2.703.578 investor. Dari sisi pertumbuhan nomor identitas tunggal investor atau Single Investor Identification (SID), menembus 20.226.040 juta SID investor per 24 Desember 2025.
KSEI mencatatkan jumlah total 25.020.250 SID hingga akhir tahun 2025. Sebanyak 4 juta SID darri jumlah itu dibuat khusus untuk institusi tertentu, seperti Tapera. Sisanya, merupakan SID untuk investor pasar modal Indonesia yang jumlahnya mencapai 20 juta SID tersebut.
Meski investor pasar modal masih dominan di Pulau Jawa, tetapi ada 5 provinsi dengan pertumbuhan SID terbesar per 24 Desember 2025. Rinciannya yaitu, Sumatera Selatan dengan porsi 50,71%, Aceh (50,44%), Riau (48,65%), Kalimantan Tengah (48,19%), dan Jambi (47,56%).
Sementara dari sisi pertumbuhan aset, lima provinsi ini bertumbuh pesat. Misalnya Sulawesi Barat tumbuh 132,87%, Banten (69,47%), Jambi (63,14%), Kepulauan Riau (54,50%), dan Maluku (53,38%). (*)