Hollywood di Meja Wall Street: Memahami Perang Netflix–Paramount Berebut Warner dan Dampaknya pada Industri
Netflix vs Paramount, upaya penaklukan dengan dua pendekatan: satu lewat deal, satu lewat tender. Saat Warner jadi ring pertarungan mereka, pertanyaan pun muncul: bagaimana dampaknya terhadap eksosistem — Hollywood, para pembuat film, bioskop, studio, atau para streamer?
Sebuah Aksi yang Mengguncang
Suara langkah-langkah kaki di lot Warner Bros. di Burbank, Kalifornia, seperti selalu terdengar sama. Namun pekan pertama Desember 2025 membuatnya terasa berbeda: bukan karena ada syuting besar, melainkan lantaran nama perusahaan itu tiba-tiba menjadi pusat perebutan paling keras di Hollywood.
Pada 5 Desember 2025, Netflix melakukan sesuatu yang selama ini dianggap bertentangan dengan DNA mereka. Alih-alih membangun pelan-pelan dari dalam, raksasa streaming itu mengumumkan rencana akuisisi yang ukurannya belum pernah mereka coba sebelumnya.
Netflix menyatakan akan mencaplok bisnis studio dan streaming milik Warner Bros. Discovery — termasuk HBO Max — melalui transaksi cash-and-stock. Nilainya tak tanggung-tanggung: US$82,7 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun) termasuk utang. Ini sebuah angka yang langsung membuat banyak eksekutif studio lain menghitung ulang peta kekuatan industri.
Tetapi yang dibeli Netflix bukanlah “seluruh Warner” seperti yang dibayangkan publik. Rencana penutupan transaksi baru dilakukan setelah Warner Bros. Discovery resmi memisahkan unit kabelnya, yang target penyelesaiannya disebut pada kuartal III/2026, dan hasilnya akan melahirkan perusahaan publik terpisah yang mengendalikan kanal seperti CNN, TNT, dan Discovery.
Di satu sisi, ini terdengar seperti transaksi korporasi biasa: yang dianggap “masa depan” (studio dan streaming) dipindahkan ke Netflix, sementara yang dianggap “warisan” (kabel/linear) dipisahkan menjadi entitas lain.
Di sisi lain, bagi Hollywood, pemisahan itu justru menegaskan satu hal: pertaruhan besar industri kini bukan lagi soal "siapa punya gedung paling megah", melainkan "siapa yang memegang distribusi, data penonton, dan langganan bulanan".
Warisan yang sedang diperebutkan juga bukan sekadar logo. Warner membawa HBO — yang lama dianggap operasi televisi premium nomor satu — dan tumpukan judul yang membentuk imajinasi pop-kultur lintas generasi, dari Looney Tunes sampai franchise raksasa yang selama ini menghidupi model recurring engagement (digunakan berualang-ulang) lewat sekuel, spin-off, dan katalog.
Dari sisi Netflix, logikanya sederhana dan benar-benar bisnis: mereka sudah menjadi layanan streaming berbayar terbesar di dunia, dengan lebih dari 300 juta pelanggan, dan menambah mesin konten Warner akan membuat skala itu makin sulit ditandingi. Dalam bahasa Ted Sarandos, “we can’t stand still.” Artinya: Netflix tidak bisa diam di tempat, harus terus bergerak, beradaptasi, dan berinovasi.
Sarandos, Co-CEO Netflix ini menyebut kombinasi dua perusahaan itu (Netflix dan Warner) sebagai investasi untuk menciptakan "Netflix yang lebih baik di masa depan". Ini sebuah kalimat yang terdengar seperti tagline produk, tetapi sebenarnya adalah sinyal bahwa perang streaming telah naik kelas: dari perang "produksi judul" menjadi perang "kepemilikan pabrik dan perpustakaan cerita".
Perang
Di tengah guncangan yang muncul karena kabar itu, tiga hari setelah pengumuman Netflix, cerita itu berubah dari “deal raksasa” menjadi “perang terbuka”. Pada 8 Desember 2025, Paramount masuk gelanggang. Mereka meluncurkan pendekatan agresif: tender offer yang langsung menyasar pemegang saham Warner, dengan tawaran US$30 per saham dalam bentuk all-cash.
Bagi pembaca awam, tender offer terdengar seperti istilah teknis yang jauh dari lampu sorot Hollywood. Tetapi mekanismenya justru sangat teatrikal: ia memotong jalur diplomasi dengan dewan direksi dan mengajak pemegang saham memutuskan sendiri.
Dalam versi Wall Street Journal (WSJ) pemegang saham diberi tenggat hingga 8 Januari 2026 untuk menentukan apakah mereka mau “menender” sahamnya, kecuali tenggat itu diperpanjang.
WSJ juga mencatat dinamika pasar yang mengundang spekulasi: saham Warner diperdagangkan dekat US$30, memberi sinyal sebagian investor menduga Paramount akan menaikkan tawaran. Di saat yang sama, Netflix — yang menawarkan US$27,75 per saham untuk studio dan HBO Max — tidak ingin terpancing masuk ke perang harga yang bisa mengubah persepsi disiplin finansial mereka.
Pada 17 Desember 2025, Warner menjawab dengan nada yang tidak ambigu: mereka merekomendasikan pemegang saham menolak tawaran Paramount dan tetap menganggap proposal Netflix yang hanya mengambil studio dan HBO Max sebagai pilihan yang lebih unggul. Dalam suratnya, Warner menyebut tawaran Paramount sebagai sesuatu yang semu dan menyatakan kekhawatiran pada kredibilitas struktur pendanaannya.
Warner bahkan menuliskan bahwa dokumen komitmen pendanaan dari pihak Paramount yang dipimpin David Ellison “contain gaps, loopholes and limitations” yang mereka nilai berisiko bagi pemegang saham dan perusahaan. Di titik ini, pertarungannya bukan lagi sekadar “berapa harganya” melainkan “seberapa pasti uangnya benar-benar ada dan bisa menutup transaksi”.
Di sisi lain, Paramount mencoba menahan narasi agar tetap sederhana. David Ellison mengatakan, “Proposal kami dengan jelas menawarkan kepada para pemegang saham nilai dan kepastian yang lebih unggul, jalur yang jelas untuk mencapai penutupan transaksi, dan tidak membuat mereka harus menanggung bisnis linear berskala kecil yang sarat utang.”
Sementara dua kubu saling menilai “nilai” dan “kepastian”, regulator menjadi hantu yang tidak pernah benar-benar keluar dari ruangan. Pada 8 Desember 2025, Presiden Trump menyebut merger itu “could be a problem” karena “a very big market share” dan mengatakan ia akan terlibat dalam keputusan itu — meski antimonopoli secara formal ditangani lembaga seperti FTC atau DOJ.
Yang menarik, di luar perang Netflix dan Paramount, Comcast juga sempat disebut-sebut ingin ikut masuk dalam proses penawaran Warner. Dalam sebuah dokumen perusahaan yang kemudian diberitakan Bloomberg (18/12/2025) Comcast mengajukan skema penggabungan NBCUniversal dengan aset studio dan streaming Warner.
Valuasi yang tersirat US$35,43 per saham; strukturnya US$5,25 per saham tunai plus 49% kepemilikan bagi pemegang saham Warner di entitas gabungan, sementara Comcast menilai porsi kepentingannya dalam bisnis gabungan itu sekitar US$81 miliar.
Co-CEO Comcast, Mike Cavanagh juga mengakui proposalnya relatif “light on cash” (lebih banyak saham ketimbang uang tunai) dibanding penawaran perusahaan lain. Ini sebuah detail yang memperjelas bahwa perebutan Warner bukan sekadar adu harga, melainkan adu desain masa depan: siapa yang bisa memberi skala, sinergi, dan kepastian eksekusi paling meyakinkan.
Pendanaan
Pihak Netflix sendiri disebut mengetahui bahwa di dunia M&A (merger dan akuisisi), opini publik hanya akan bertahan sejauh kredibilitas pendanaan. Karena itu, mereka meletakkan fondasi transaksi: mengamankan hingga US$25 miliar pembiayaan bank, terdiri dari fasilitas revolving credit US$5 miliar dan dua delayed-draw term-loan total US$20 miliar dengan Wells Fargo, BNP Paribas, dan HSBC.
Delayed-draw term loan adalah pinjaman berjangka (term loan) yang tidak dicairkan sekaligus saat perjanjian ditandatangani, tetapi bisa ditarik (dicairkan) kemudian pada waktu tertentu atau saat syarat tertentu terpenuhi.
Di atas kertas, perjanjian juga dirancang agar kedua pihak tetap merasa “terkunci”. New York Times (NYT) menyebut bila deal gagal karena tidak mendapat approvals yang diperlukan, Netflix harus membayar breakup fee (denda kompensasi) sebesar US$5,8 miliar jika batal; sementara jika Warner memutuskan pindah ke tawaran lain, ada kewajiban membayar US$2,8 miliar. WSJ menambahkan Netflix punya empat hari kerja untuk menyamai atau mengungguli tawaran yang dianggap superior.
Pada akhirnya, cerita ini masih menggantung pada kata yang paling tidak sinematik: approvals. Transaksi itu belum “closing” karena harus menunggu pemisahan unit kabel dan proses regulasi; tetapi pengumuman 5 Desember 2025 sudah cukup untuk mengubah cara Hollywood berbicara tentang masa depan: tentang siapa yang punya hak menentukan rilis bioskop, siapa yang mengatur paket langganan, dan siapa yang memegang katalog yang membuat penonton kembali lagi dan lagi.
Jika kelak kesepakatan itu benar-benar selesai, yang berpindah tangan bukan hanya studio dan aplikasi streaming, melainkan simbol: bahwa penaklukan Hollywood oleh pemain teknologi baru (Netflix), telah mencapai babak yang sulit dibantah.
Bahkan jika deal itu tersendat, pertarungan tender, surat-surat keras, dan perang persepsi ini sudah memperlihatkan satu kenyataan: industri hiburan kini berdagang masa depannya di meja yang sama dengan Wall Street.
Persoalannya sekarang: apa efek jika deal ini benar-benar terjadi terhadap industri hiburan dan ekosistemnya secara keseluruhan?
Dampak
Rencana Netflix mengambil bisnis studio dan streaming Warner Bros. Discovery (termasuk HBO Max) bukan sekadar transaksi korporasi besar. Ini adalah uji kekuatan yang bisa mengubah cara Hollywood bekerja, dari ruang rapat studio sampai loket bioskop.
Di atas kertas, arsitekturnya sederhana: Netflix mengambil “mesin cerita” (studio + streaming), sementara aset kabel lama dipisah ke perusahaan publik lain yang kelak bernama Discovery Global — dipimpin CFO WBD, Gunnar Wiedenfels — yang menampung CNN, TNT, Discovery, HGTV, Food Network, dan jaringan kabel lain.
Namun, kesederhanaan itu tampaknya bisa menyesatkan. Karena yang sedang dipindahkan bukan hanya aset, melainkan titik kendali: siapa yang memutuskan film seperti apa yang dibuat, seberapa besar anggarannya, kapan rilisnya, dan — yang paling sensitif — di mana penonton “diarahkan” untuk menonton.
Itulah sebabnya kombinasi ini disebut-sebut akan memberi Netflix kekuatan ekspansif atas pemilik bioskop dan serikat pekerja industri hiburan. Di era ketika distribusi adalah mahkota, platform yang juga memegang studio bisa menekan rantai nilai dari dua ujung sekaligus.
Oke. Kembali ke pertanyaan awal: jadi apa dampaknya terhadap ekosistem?
Dampak pertama yang paling mudah dibayangkan adalah perubahan peta industri. Jika Netflix yang sudah menjadi layanan streaming berbayar terbesar (NYT menyebut lebih dari 300 juta pelanggan) menambah HBO dan Warner, maka lanskap streaming bergerak dari “banyak pilihan yang saling bersaing” menuju “beberapa raksasa yang makin sulit dikejar”.
Dampak kedua — yang membuat bioskop langsung tegang — adalah soal jendela rilis. Netflix mengatakan akan mempertahankan operasi Warner dan tetap menjalankan rilis teater untuk film, yang kalau dijalankan penuh berarti sekitar belasan film per tahun tampil di bioskop.
Kecemasan juga berdenyut di level bisnis. Pemilik bioskop dan analis menilai baik skenario Netflix maupun Paramount — jika salah satunya menyerap studio legacy — berpotensi berujung pada lebih sedikit rilis bioskop dan masa eksklusivitas yang lebih pendek sebelum film masuk streaming.
Bagi bioskop, ini bukan debat estetika, tapi hitung-hitungan arus kas. Ketika pipeline film melambat, kursi kosong menjadi biaya tetap yang tak bisa dinegosiasikan: sewa, perawatan, pajak, sampai investasi upgrade yang sudah dikeluarkan untuk mengundang orang kembali pascapandemi.
Karena itu, satu perubahan kecil dalam strategi rilis dapat terasa besar di lapangan. Jika studio yang dulu memasok kalender rilis menjadi bagian dari platform yang hidup dari menit-menit tontonan di rumah, bioskop khawatir “aturan main” lama akan pelan-pelan digeser: bukan dilarang, tapi dibuat kurang menarik secara ekonomis.
Dampak ketiga menyentuh jantung Hollywood: tenaga kreatif. Di bawah permukaan, yang dipertaruhkan bukan hanya jumlah judul, tetapi posisi tawar. Jika jumlah “pembeli besar” untuk naskah, proyek, dan talenta menyusut, maka negosiasi upah, syarat kerja, dan peluang proyek ikut menyempit, sekalipun konsumen tidak melihat perubahan harga langganan secara langsung.
Tak heran, sementara perang masih berlanjut, di saat yang sama, gejolak muncul pada ekosistem industri. Serikat pekerja penulis skenario di Amerika Serikat (Writers Guild of America) menyatakan, “merger ini harus diblok” dan menyebut penggabungan pemain streaming terbesar dengan salah satu kompetitor besar sebagai hal yang sebenarnya sudah dirancang untuk dicegah melalui adanya undang-undang antimonopoli.
Kekhawatiran ini bisa dimengerti. Konsolidasi lewat merger-akuisisi terhadap Warner akan mengurangi “consumer choice” dan, dalam industri pembuat budaya, berarti hilangnya satu filosofi pemrograman, satu kultur pengembangan, satu set selera dan ambang risiko.
Lalu ada dampak keempat: antitrust dan definisi “pasar”. Banyak merger besar bukan kalah karena tidak masuk akal secara bisnis, tetapi karena regulator tidak sepakat cara menghitung kekuatan. Di sini, NYT menulis hasil review akan sangat bergantung pada bagaimana administrasi Trump mendefinisikan industri media yang cepat berubah.
Netflix diperkirakan akan mendorong definisi pasar yang lebih lebar — bukan hanya streaming premium, tetapi “konsumsi hiburan” yang juga mencakup raksasa teknologi lain. Ini bisa memasukkan YouTube dan TikTok sebagai pembanding, sehingga dominasi terlihat lebih tersebar di atas kertas.
Sebaliknya, para pengkritik akan memaksa definisi pasar yang lebih sempit: premium film/TV, studio, streaming, dan ekosistem distribusi yang relevan bagi produser dan pekerja kreatif. Pertarungan definisi ini sering menentukan apakah sebuah deal dianggap mengurangi pilihan atau menciptakan efisiensi.
Dimensi politiknya ikut menambah ketidakpastian. Presiden Trump sendiri dilaporkan menyebut deal ini “could be a problem” karena “very big market share” dan mengatakan akan ikut terlibat. Pernyataan ini membuat banyak pihak membaca regulasi bukan hanya sebagai proses teknis, tapi juga arena lobi.
Dampak kelima adalah efek domino pada konsolidasi. Jika Netflix berubah daru “builder” menjadi “buyer” raksasa, pemain lain akan dipaksa memikirkan ulang strategi bertahan. Mereka melihat bidding war ini sebagai tanda bahwa perang skala sudah jadi bahasa industri.
Paramount sendiri membingkai langkahnya sebagai upaya “menciptakan Hollywood yang lebih kuat” dan menyebut kepentingan komunitas kreatif, konsumen, dan industri bioskop — sebuah framing yang, sengaja atau tidak, menempatkan bioskop sebagai simbol legitimasi di tengah perang streaming.
Sementara itu, pemisahan CNN dan jaringan kabel ke Discovery Global membuka bab lain, yakni masa depan “legacy TV” yang berdiri sendiri, lebih ramping, tetapi mungkin juga lebih rentan. NYT bahkan menulis bahwa meski Discovery Global terbentuk, sejumlah jaringan kabel — termasuk CNN — masih bisa kembali “dipajang” untuk dijual di kemudian hari.
Artinya, deal Netflix–Warner tidak hanya mengubah siapa pemilik studio; ia juga bisa mempercepat pemilahan industri menjadi dua dunia: dunia pertumbuhan (platform + IP + data pelanggan) dan dunia penyusutan (kabel/linear) yang harus mencari bentuk baru, entah lewat efisiensi ekstrem atau penjualan aset.
Di luar lima dampak di atas, ada potensi dampak lain yang sering luput: perubahan norma kontrak dan insentif kreator. Netflix sejak lama membayar kreator dengan fee besar di muka dan menghindari pola “back-end profits” khas Hollywood, sekaligus terkenal enggan mengikuti rilis teater yang panjang dan lebar. Ketika budaya ini masuk ke studio legacy (pemain lama sejak era Hollywod tradisional), cara orang mencari nafkah dari sebuah karya bisa ikut bergeser.
Bagi sebagian kreator, uang di muka berarti kepastian; bagi yang lain, itu berarti hilangnya peluang “upside” (potensi kenaikan keuntungan) jika suatu karya meledak di box office. Dan ketika pusat pengambilan keputusan terkonsentrasi, risiko paling sunyi adalah homogenisasi: proyek yang “cukup aman” untuk algoritma dan cita rasa global, tetapi kurang ruang untuk eksperimen yang biasanya lahir dari kompetisi antarstudio.
Well...
Pada akhirnya, pengaruh terbesar deal ini mungkin bukan pada satu film atau satu serial, melainkan pada “peta kekuasaan” yang menentukan siapa bernegosiasi dengan siapa. Pemilik bioskop, serikat pekerja, produser independen, agen talenta, sampai regulator, semuanya membaca sinyal yang sama: platform terbesar sedang mencoba mengikat studio paling ikonik dan salah satu merek TV paling prestisius ke dalam satu payung.
Dan meski penutupan transaksi masih menunggu proses berikutnya, dampaknya sudah mulai bekerja seperti trailer yang terlalu keras: industri keburu menyesuaikan diri sebelum film utamanya benar-benar tayang.
Ketika semua pihak mulai bertanya “apa yang terjadi kalau deal ini lolos?”, mereka secara tidak langsung juga mengubah keputusan bisnis hari ini — dari strategi rilis, negosiasi upah, sampai keberanian mengambil risiko kreatif. (*)
Diolah dari berbagai sumber