Anak-anak Muda Miliarder AI: Kaya Secepat Kilat, Tapi Baru “Di Atas Kertas”
Di San Francisco, ledakan kecerdasan buatan (AI) membuat para miliarder lama menjadi makin kaya. Nama Jensen Huang (Nvidia) dan Sam Altman (OpenAI) termasuk yang paling sering disebut ketika orang membicarakan siapa yang paling diuntungkan dari gelombang ini.
Anak Muda Kaya
Tetapi yang lebih menarik justru lahir di pinggiran panggung: sekelompok miliarder muda di bawah 40 tahun, dari start-up yang ukurannya belum sebanding dengan raksasa teknologi, kini valuasinya sudah melesat seperti roket. Mereka, kata The New York Times (30/12/2025) berpotensi menjadi broker kuasa Silicon Valley berikutnya, seperti para eksekutif kaya yang muncul dari euforia dot-com dan kemudian ikut membiayai gelombang teknologi berikutnya.
Nama-nama anak muda itu terasa seperti daftar tamu di sebuah pesta yang baru dimulai. Ada Alexandr Wang (29 tahun) dan Lucy Guo (31) dari Scale AI — perusahaan pelabelan data — yang menerima investasi US$14,3 miliar dari Meta pada Juni.
Ada pula para pendiri Cursor, start-up AI untuk coding: Michael Truell (25), Sualeh Asif (25), Aman Sanger (25), dan Arvid Lunnemark (26). Mereka masuk jajaran miliarder ketika perusahaan mereka dinilai US$27 miliar dalam putaran pendanaan, November lalu.
Di belakangnya, berjejal para “anggota klub sembilan digit”: Perplexity, Mercor, Figure AI, Safe Superintelligence, Harvey, dan Thinking Machines Lab — berdasarkan keterangan perusahaan atau orang dekat start-up tersebut, ditambah data PitchBook dan laporan berita.
Alkimia kekayaan mereka sederhana, sekaligus boleh jadi menyesatkan: valuasi perusahaan privat yang melonjak mengubah kepemilikan saham menjadi semacam tambang emas. Namun emas ini tidak selalu berbentuk batangan; ia sering hanya berupa angka yang berkilau di layar investor.
Di titik itulah muncul frasa yang terdengar seperti peringatan dini. Jai Das, partner Sapphire Ventures, menyamakan mereka dengan “railroad barons” pada era Gilded Age (1870–1900) — masa ketika orang-orang yang menang karena menunggangi teknologi zamannya — tetapi ia menggarisbawahi bahwa kekayaan itu bisa lenyap jika start-up gagal memenuhi janji. “The question is which of these companies is going to survive,” katanya, dan siapa yang akan menjadi miliarder sejati, bukan sekadar “paper billionaires.”
Pertempuran VC
Kalau para pendiri adalah wajah yang tersorot lampu, maka bahan bakarnya adalah uang yang bergerak di belakang layar. The New York Times menulis bahwa boom AI itu mahal, sehingga firma modal ventura (VC) perlu menggalang dana jumbo agar tetap sanggup mengikuti ritme.
Contohnya Lightspeed Venture Partners, yang disebut telah mendukung 165 perusahaan AI. Mereka mengumumkan berhasil menghimpun lebih dari US$9 miliar — penggalangan terbesar dalam sejarah mereka — sekaligus menandai betapa pertarungan AI bukan lagi soal ide, melainkan juga soal napas panjang.
Bukan hanya Lightspeed yang “makan besar”. Tahun lalu, Andreessen Horowitz mengumpulkan US$7,2 miliar dan General Catalyst menghimpun US$8 miliar. Tahun ini, 10 firma VC terbesar menyumbang 43% dari total modal ventura yang terhimpun, menurut PitchBook — seolah menegaskan bahwa uang pun kini terkonsentrasi seperti komputasi.
Mengapa harus sebesar itu?
Karena AI, pada akhirnya, bukan kabut abstrak: ia bekerja di atas chip yang mahal dan pusat data yang rakus listrik. Artikel itu menekankan bahwa perusahaan AI mengeluarkan biaya besar untuk mengembangkan teknologi, lalu biaya besar lagi untuk menyalakan teknologi itu dengan chip mahal dan data center.
Dana baru Lightspeed disebar ke enam fund; porsi terbesar (US$3,3 miliar) disiapkan untuk “menuang bensin” ke hit-hit mereka. Termasuk taruhan besar pada Anthropic (pembuat Claude), xAI (Grok), dan Mistral (start-up AI Prancis).
Bahkan cara kerja mereka ikut berubah. Setelah ChatGPT debut pada 2022, para partner senior Lightspeed berkumpul dan menyimpulkan AI adalah “paradigm shift”. Lalu muncul arahan internal: fokus semua orang harus AI; para partner duduk di setiap pitch AI; komposisi partner diubah; dan satu deal digarap lima atau enam partner sekaligus — meninggalkan model lama “rainmaker” tunggal.
“Rainmaker” di dunia bisnis/VC itu istilah untuk satu orang kunci yang “mendatangkan hujan uang” — yaitu pembawa deal, orang yang paling jago membuka jaringan, meyakinkan investor/klien, dan menutup transaksi.
Lalu datang sebuah momen yang membuat ruangan terasa lebih dingin bagi para venture capital: DeepSeek, start-up dari Tiongkok, mengungkapkan mereka membuat model AI kuat dengan ongkos jauh lebih murah, menggunakan teknologi yang tersedia terbuka.
Saat itu, Lightspeed baru saja sepakat menanamkan US$1 miliar ke Anthropic — cek terbesar yang pernah mereka tulis — dan terobosan DeepSeek dianggap bisa mengguncang posisi unggul Anthropic.
Namun, kepalang tanggung, Lightspeed memilih tetap menekan pedal. Pada September 2025, mereka ikut memimpin putaran investasi yang menilai Anthropic sebesar US$183 miliar.
Lalu, Anthropic mengumumkan telah mencapai US$1 miliar “annualized monthly revenue” (pendapatan bulanan yang diproyeksikan) untuk satu produk (Claude Code) dalam enam bulan; sementara bisnis mereka secara keseluruhan menyentuh US$7 miliar “annualized monthly revenue” pada Oktober 2025.
Di sini, tema “di atas kertas” seperti memantul ke segala arah. Valuasi banyak start-up AI seperti pencakar langit, dan Ravi Mhatre (co-founder Lightspeed) mengatakan nilai portofolio Lightspeed naik US$7 miliar tahun ini — “on paper”.
Ironisnya, ketika dana AI membesar, fundraising VC secara keseluruhan disebut menurun. Salah satu sebabnya: IPO yang relatif seret membuat investor institusional masih menunggu hasil dari investasi lama; ditambah kehati-hatian akibat ketidakpastian ekonomi.
Tapi sebagian investor justru ingin lebih banyak eksposur ke AI, sampai Lightspeed menemukan sumber modal baru di Korea, Jepang, Australia, negara-negara Nordik, dan Meksiko, termasuk pihak yang sebelumnya tidak pernah berinvestasi langsung di dana VC.
DI tengah agresifnya putaran dana, tak ayal, muncul catatan yang menarik: potensi “bubble” (gelembung) di dunia AI. Kekhawatiran itu muncul.
Toh, Mhatre mengatakan ia tidak melihat gelembung; baginya bubble terjadi ketika rasio “hype” dibanding “substance” terlalu timpang sampai menimbulkan “snapback”, (hentakan balik yang cepat). Ia menunjuk pertumbuhan pendapatan Anthropic, juga terobosan seperti Waymo dan AlphaFold, sebagai alasan keyakinannya bahwa dunia sedang berada di titik balik teknologi.
Komikal
Sementara investor menyusun argumen, para pendiri tetap hidup di dunia yang kadang terasa komikal: kaya raya, tetapi belum tentu bisa dipakai untuk membayar kopi dengan santai. Kok bisa?
Contohnya, Harvey — start-up software legal — menggalang dana pada Februari; valuasinya melonjak menjadi US$8 miliar dari US$3 miliar pada Februari. Tapi salah satu pendirinya, Winston Weinberg (31 tahun), masih tinggal bersama co-founder Gabe Pereyra (34) dan satu roommate lain. Lalu dengan santainya berkata, “Yeah, sure it’s in the billions, but it’s on paper.”
Kisah AI juga punya ciri khas lain: usia muda. Margaret O’Mara, profesor sejarah yang meneliti ekonomi teknologi, menyebut momen AI ini membuat orang-orang muda “very, very, very rich, very quickly”.
Mercor, misalnya, didirikan oleh para pendiri berusia 22 tahun; CEO-nya Brendan Foody drop out dari Georgetown pada 2023, dan perusahaan itu dinilai US$10 miliar dalam putaran pendanaan Oktober.
Cursor pun membawa romantika kampus: Truell dan co-founder-nya bertemu di MIT dan lulus pada 2022; putaran pendanaan US$2,3 miliar membawa valuasi start-up mereka (juga dikenal lewat nama induknya, Anysphere) menjadi US$27 miliar, menurut PitchBook.
Tetapi di bawah semua kisah “kaya kilat” itu, ada pola yang terasa usang: boom AI terutama mengangkat pendiri laki-laki menjadi miliarder; hanya sedikit perempuan — seperti Lucy Guo dan Mira Murati (37) — yang mencapai level itu. O’Mara menyebut kegilaan AI memperkuat “homogeneity” (keseragaman) orang-orang yang paling diuntungkan oleh boom ini.
Artinya kegilaan AI membuat kelompok yang paling diuntungkan oleh boom ini cenderung datangnya dari tipe orang yang sama (misalnya dari latar demografis/jaringan tertentu), sehingga keragamannya kecil.
Maka cerita tentang miliarder baru AI sebenarnya bukan sekadar daftar nama dan valuasi; ia adalah kisah tentang uang yang menumpuk di tempat yang sama, tentang ongkos komputasi yang membuat semua orang harus berlari lebih kencang, dan tentang kekayaan yang sering kali masih berupa kemungkinan.
Pada akhirnya, pertanyaan Jai Das tetap berdiri seperti lampu merah di ujung jalan: perusahaan mana yang akan bertahan — dan siapa yang, setelah hype reda, akan menjadi miliarder “nyata”, bukan hanya miliarder “di atas kertas”. (*)