Sekitar 70% Investor Ritel dari Gen Y dan Gen Z, OJK Memacu Pendalaman Pasar dan Menangkal Saham Gorengan

Sekitar 70% Investor Ritel dari Gen Y dan Gen Z, OJK Memacu Pendalaman Pasar dan Menangkal Saham Gorengan
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK), Mahendra Siregar menyampaikan pidato pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Jumat (2/1/2026). Foto: Nadia K. Putri/SWA

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan sekitar 70% investor ritel saham di sepanjang tahun 2025 itu ditopang oleh kelompok investor muda, yaitu dari generasi Y dan generasi Z. Persertase Ini lebih banyak jika dibandingkan jumlah investor institusi domestik maupun asing. Rencananya, OJK melakukan pendalaman pasar, termasuk mengurangi praktik manipulasi pasar atau saham gorengan.

“Porsi transaksi investor ritel meningkat pesat dari 38% di akhir tahun 2024 menjadi 50% berdasarkan data terakhir, dan proporsi ini sangat besar dibandingkan negara lain yang lebih mengandalkan investor institusi dalam maupun luar negeri,” jelas Mahendra dalam pidato pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Jumat (2/1/2026).

Mahendra menyampaikan regulator mandiri atau self-regulatory organization (SRO) pasar modal akan terus meningkatkan urgensi penguatan aspek pelindungan investor, termasuk melindungi investor ritel dari praktik manipulasi pasar, termasuk saham gorengan. Kemudian, penguatan literasi dan edukasi yang lebih masif, bertarget, dan berkualitas.

“Sehingga investor ritel kita yang lebih 70% di antaranya adalah gen Y dan gen Z tidak melihat pasar saham sebagai transaksi perdagangan harian yang semata-mata mengejar kekayaan dalam jangka pendek, justru menjadikannya salah satu sumber pendanaan untuk jangka menengah dan panjang dalam meningkatkan kesejahteraan keuangan,” tutur Mahendra.

Pada kesempatan ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan pendalaman pasar dilakukan bertahap. Misalnya dari sisi komposisi investor ritel dan domestik.“Peran serta dari investor institusi domestik itu sangat penting, sehingga seimbang ini antara ritel dan investor institusi domestik harus diperkuat,” jelas Inarno.

Adapun, jumlah investor pasar modal di 2025 menembus lebih dari 20 juta. Menurut data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 24 Desember 2025, jumlah investor itu tecermin dari jumlah identitas tunggal investor atau Single Investor Identification (SID) sebanyak 20.226.040 SID.

Lebih lanjut, KSEI juga menjabarkan jumlah SID ritel dan institusi di periode itu menembus 25.020.250 SID. Dari 20 juta SID, sekitar 4-5 juta SID berasal dari institusi tertentu, misalnya Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).

Selain penguatan investor, OJK juga masih memberlakukan batas free float saham secara bertahap dan segera diterapkan pada tahun 2026. Namun, Inarno mencermati, penerapan ini masih terkendala oleh kematangan perusahaan yang mampu memenuhi batas free float.

“Tidak bisa langsung tinggi, 30% begitu tidak bisa, harus bertahap. Karena free float itu butuh pendanaan. Semakin tinggi free float, semakin tinggi pendanaan [perusahaan] yang harus disiapkan,” tutup Inarno.

Sebelumnya, BEI dan OJK berencana mengatur kenaikan free float hingga 10%-15% bagi emiten yang telah tercatat. Untuk perusahaan yang baru melantai di bursa (IPO), kedua SRO tersebut juga akan mengubah perhitungan free float sekitar 10%. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag