Infografik SWA: Industri Pariwisata Berpotensi Mencetak Devisa US$18,5 Miliar di 2025
Pariwisata Indonesia memasuki babak baru. Setelah berhasil keluar dari fase pemulihan pasca pandemi Covid-19, sektor ini tidak lagi sekadar mengejar lonjakan jumlah wisatawan. Tahun 2025 menjadi titik balik ketika pemerintah dan pelaku usaha mulai mengarahkan pariwisata ke level yang lebih strategis: Tourism 5.0 — pariwisata berbasis kualitas, teknologi, dan keberlanjutan. Industri pariwisata berpeluang mencetak devisa senilai US$18,5 miliar di 2025.
Kementerian Pariwisata mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari-Oktober 2025 mencapai 12,8 juta orang, tumbuh 10,32% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini semakin mendekati level pra pandemi dan menjadi sinyal kuat pulihnya kepercayaan global terhadap destinasi Indonesia.
Dari sisi kualitas pasar, lima negara utama penyumbang wisatawan mancanegara masih didominasi kawasan regional, dengan 57,77% kunjungan berasal dari Asia Pasifik, menunjukkan efektivitas strategi pemasaran berbasis pasar dekat (near market). Pemulihan pariwisata turut tercermin pada devisa pariwisata Indonesia di kuartal IIII/2025 yang mencapai US$13,8 miliar atau naik sebesar 7,42% dibandingkan tahun sebelumnya.
Bahkan, target jangka menengah menunjukkan potensi devisa hingga US$18,5 miliar bakal tercapai di tahun ini seiring meningkatnya durasi wisatawan dan belanja wisatawan di Indonesia .Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga terus menguat. Pada 2025, kontribusi pariwisata tercatat di kisaran 4,04%–4,09% yang senilai Rp943–1.167 triliun.
Hal ini menegaskan posisi pariwisata sebagai sektor strategis penopang ekonomi nasional di luar komoditas. Dari sisi investasi, realisasi investasi pariwisata mencapai Rp 53,9 triliun, melonjak 52,66% secara tahunan. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap sektor perhotelan, kawasan wisata terpadu, hingga industri pendukung berbasis ekonomi kreatif.
Efek berganda pariwisata juga terlihat jelas pada penciptaan lapangan kerja. Sepanjang 2025, sektor ini menyerap 25,91 juta tenaga kerja, atau bertambah sekitar 910 ribu orang, menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja terbesar secara nasional. Pemerintah tidak hanya mengejar angka kunjungan.
Pada program pengembangan, tercatat 2.905 lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata, 27.393 tenaga kerja tersertifikasi, serta penguatan desa wisata dan destinasi bersih sebagai bagian dari strategi pariwisata berkelanjutan.
Di sisi hilir, transformasi menuju Tourism 5.0 mulai digencarkan, dengan pemanfaatan teknologi digital, data, dan pengalaman wisata berbasis personalisasi. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah, bukan sekadar volume wisatawan. (*)