Bukan Sekadar Startup AI: Mengapa Meta Berani Tebus Manus Lebih dari Rp33,4 Triliun
Pada penghujung Desember 2025, Meta menutup tahun dengan sebuah langkah yang terasa seperti pernyataan arah: membeli Manus, startup AI berbasis Singapura, dalam transaksi bernilai lebih dari US$2 miliar (Rp33,4 triliun)
Angkanya besar, tetapi yang membuatnya menarik justru pertanyaan di baliknya: Mengapa Meta memilih untuk membeli, bukan sekadar bermitra? Dan sebenarnya, Manus itu siapa sampai layak ditebus semahal itu?
Jawabannya membawa kita ke sebuah kategori yang sedang diperebutkan semua raksasa teknologi: AI agent — AI yang bukan hanya “pintar menjawab”, tetapi bisa mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan pekerjaan.
Siapa Manus
Manus adalah produk AI agent yang dikembangkan oleh perusahaan bernama Butterfly Effect. Nama Manus sendiri diambil dari motto Latin MIT, Mens et Manus, yang berarti “pikiran dan tangan”. Dari awal, pesan yang ingin dibangun jelas: Manus bukan sekadar “otak” yang memberi jawaban, tetapi “tangan” yang bisa mengeksekusi.
Secara fungsi, Manus dipopulerkan sebagai AI yang dapat mengerjakan tugas kompleks: menyusun riset panjang, merangkum dokumen menjadi presentasi, menulis kode, sampai membantu membangun situs web. Jadi, jika chatbot adalah “teman ngobrol yang pintar”, maka agent seperti Manus ingin menjadi “rekan kerja digital” yang bisa diberi pekerjaan lalu mengembalikan hasil.
Di balik Manus ada dua pendiri yang dikenal dengan panggilan “Red” dan “Peak”: Xiao Hong dan Ji Yichao. Keduanya berangkat dari ekosistem teknologi yang bertaut dengan China, dan Butterfly Effect sendiri sempat memiliki basis operasi dan talenta engineering di China.
Sebelum Manus, Butterfly Effect membangun produk bernama Monica, asisten AI untuk browser yang menyasar pengguna luar China. Ini penting, karena menunjukkan sejak awal mereka tidak ingin jadi produk lokal; mereka ingin jadi pemain global.
Proyek Manus mulai dikembangkan sekitar Oktober 2024, lalu meledak secara publik ketika demonya muncul pada Maret 2025. Akses awal yang terbatas membuatnya viral, bahkan sempat muncul fenomena “kode undangan” yang diperlakukan seperti tiket eksklusif untuk mencoba Manus. Pada titik itu, Manus mulai bergerak dari sekadar “produk menarik” menjadi “aset yang diperebutkan”.
Mengapa Meta membeli Manus
Ada alasan pertama yang paling mudah dibaca: Meta sedang memburu agent.
Di level model AI, perlombaan “siapa paling pintar” mulai terasa komoditas. Banyak model besar kini mampu menjawab dengan kualitas tinggi. Maka medan perangnya bergeser: bukan lagi jawaban, melainkan eksekusi. Siapa yang bisa membuat AI benar-benar menyelesaikan tugas? Siapa yang bisa membuat AI jadi alat kerja, bukan sekadar hiburan?
Mark Zuckerberg, bos Meta, melihat agent sebagai bab berikutnya dari produk konsumen. Jika dulu orang datang ke internet lewat browser, lalu lewat media sosial dan aplikasi chat, maka agent berpotensi menjadi “antarmuka baru”: pengguna cukup berkata “tolong kerjakan ini”, dan AI yang akan membuka dokumen, merangkum, menyusun, mengirim, atau membangun.
Alasan kedua: talenta. Dalam akuisisi AI, yang dibeli sering kali bukan hanya teknologi, melainkan tim yang mampu membuatnya bekerja stabil di skala besar. Ini menjelaskan mengapa transaksi Meta–Manus juga disertai paket besar untuk mempertahankan orang-orang kunci. Meta tidak ingin membeli mesin lalu kehilangan pengemudinya.
Alasan ketiga: distribusi, yang menjadi senjata khas Meta. Banyak startup AI bisa membuat produk bagus, tetapi sedikit yang punya jalur untuk menempelkan produk itu ke kebiasaan harian miliaran orang. Meta punya WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Meta AI. Manus, jika masuk ke dalam ekosistem itu, bukan lagi aplikasi yang harus dicari orang; ia bisa hadir di tempat orang sudah tinggal setiap hari.
Alasan keempat: biaya skala. Agent yang benar-benar berguna membutuhkan komputasi besar dan mahal. Banyak startup AI menghadapi paradoks: makin cepat mereka tumbuh, makin cepat pula biaya infrastruktur membengkak. Dengan masuk ke Meta, Manus mendapatkan “pemilik bermodal besar” yang mampu menanggung biaya itu sambil memperluas pasar.
Namun, ada satu alasan yang sering terasa di latar belakang, jarang diucapkan gamblang, tapi menentukan: geopolitik.
Manus dan “Paspor” Perusahaan
Manus tumbuh dengan jejak yang bertaut dengan China — dari lokasi tim dan sejarah pendirinya. Dan di era ketika AI dianggap teknologi strategis, hal semacam itu bisa menjadi beban: memperpanjang pemeriksaan, membuat investor lebih hati-hati, dan memicu kekhawatiran regulator.
Yang menarik, sebelum Meta datang, Manus tampak sudah menyiapkan “jalan agar bisa diterima”. Mereka memindahkan kantor pusat ke Singapura, memperbesar tim di sana, dan mengurangi operasi di China.
Mereka juga membangun sinyal kredibilitas lewat kemitraan dengan perusahaan global seperti Microsoft dan Stripe. Di sisi bisnis, mereka mengomunikasikan pertumbuhan pendapatan dengan metrik seperti run rate: proyeksi tahunan berdasarkan laju pendapatan saat ini.
Dengan kata lain, Manus tidak hanya membangun produk. Mereka juga membangun legitimasi: sebuah struktur perusahaan yang lebih mudah diterima di panggung global.
Bagi Meta, ini penting. Membeli startup AI bernilai miliaran dolar bukan cuma soal teknologi. Itu juga soal apakah transaksi ini akan memicu badai politik dan regulasi. Dalam kerangka itu, Manus yang sudah berbasis Singapura dan dirapikan strukturnya menjadi target yang lebih “mulus” untuk diakuisisi.
Apa Arti Deal Ini?
Pertama, akuisisi ini menegaskan bahwa perang AI sedang bergeser dari “model war” ke “agent war”. Yang diperebutkan bukan hanya siapa paling pintar, tetapi siapa yang bisa membuat AI menjadi pekerja digital yang bisa dipercaya.
Kedua, ini mengingatkan bahwa di AI, startup pada akhirnya butuh platform, terutama untuk agent yang mahal dan membutuhkan distribusi. Banyak pemain akan sampai pada titik pilihan: terus membakar uang untuk komputasi dan akuisisi pengguna, atau bergabung dengan raksasa yang punya infrastruktur dan jalur pasar.
Ketiga, ini memperjelas bahwa di AI global, teknologi saja tidak cukup. Perusahaan juga butuh “paspor” yang tepat: struktur kepemilikan, lokasi pusat operasi, dan narasi korporasi yang membuat regulator serta mitra merasa aman.
Dan terakhir, bagi Meta, Manus adalah taruhan bahwa masa depan platform bukan hanya feed, video, atau chat, melainkan asisten yang menyelesaikan pekerjaan. Meta ingin agent hadir di produk konsumen dan bisnisnya, bukan sebagai fitur tempelan, tapi sebagai pusat pengalaman.
Itulah sebabnya Meta membeli Manus. Bukan semata karena Manus viral atau karena metrik pertumbuhannya menggiurkan, tetapi karena Manus berada di titik temu tiga hal yang kini paling dicari di industri AI: agent yang konkret kegunaannya, tim yang kuat, dan struktur perusahaan yang cukup “global-ready” untuk melaju tanpa tersandung politik. (*)