Begini Jurusnya Sharp Indonesia Merespons Serbuan Produk China, Bersiap-Siap Mencicipi 12% dari Nilai Pasar Elektronik Rp50 Triliun

Sharp akan mempertahan pangsa pasar dan tetap menjadi pemain utama di industri elektronik Indonesia.(Foto:Sharp)

Industri home appliances (peralatan rumah tangga) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat menuju tahun 2026. Hal ini didorong beberapa faktor, seperti urbanisasi, meningkatnya pendapatan kelas menengah, serta kebutuhan konsumen akan kenyamanan dan efisiensi rumah tangga mendorong perluasan pasar perangkat seperti lemari es, mesin cuci, AC, hingga peralatan dapur kecil.

Populasi penduduk nasional yang gemuk dan penetrasi perangkat modern yang masih di bawah 60% itu membuat bisnis di industri masih seksi. Meski persaingan makin sengit, potensi pertumbuhan masih terbuka lebar untuk pemain yang mampu membaca arah tren dan menghadirkan solusi sesuai kebutuhan konsumen. Nilai pasar elektronik nasional tahun ini diperkirakan mencapai Rp50 triliun. Gurih 'kan?

Kunci suksesnya kini bukan sekadar harga murah atau iklan besar-besaran, tapi kemampuan menciptakan pengalaman baru di rumah lebih efisien, lebih pintar, dan lebih bergaya. Selain itu pertumbuhan ini juga didorong oleh adopsi teknologi pintar (smart appliances), efisiensi energi, serta integrasi online/offline.

Persaingan kini tak lagi didominasi pemain elektronik global, semisal Sharp, LG, Samsung, Panasonic, dan Midea. Merek-merek ini masih memegang pangsa besar, tetapi merek lokal mulai menggeser peta persaingan. Polytron, misalnya, terus memperkuat reputasi sebagai ikon elektronik nasional dengan strategi “teknologi untuk semua”menghadirkan kulkas inverter, mesin cuci digital, dan televisi pintar dengan harga terjangkau.

Andry Adi Utomo, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, mengatakan Sharp akan mempertahan pangsa pasar dan tetap menjadi pemain utama di industri elektronik Indonesia, dengan target penjualan sekitar Rp12 triliun atau berpeluang merengkung pangsa pasar 12% dari nilai pasar elektronik sebesar Rp50 triliun. Sharp Indonesia mencermati serbuan produk China dengan harga sangat kompetitif itu menjadi tantangan untuk inkumben di industri elekronik nasional, seperti Sharp. Namun Andry menegaskan, strategi Sharp bukan bersaing di harga, melainkan relevansi dan diferensiasi.

“Kami sudah 55 tahun di Indonesia dan tahu betul perilaku konsumen lokal. Kami bermain di aspek local fit product, produk yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dan selera masyarakat Indonesia,” katanya di Jakarta, baru-baru ini

Salah satu bentuk adaptasi itu adalah desain dan warna produk yang berbeda untuk tiap wilayah. “Produk kami tidak hanya dijual, tapi dihidupi oleh pasar lokal. Karena punya pabrik di Indonesia, kami bisa cepat menyesuaikan produksi, sementara pemain impor tidak punya fleksibilitas itu,” tambahnya.

Namun, Andry juga menyoroti fakta bahwa lebih dari 50% komponen elektronik di Indonesia masih impor, seperti kompresor AC dan lembar baja. “Itu membuat harga produk lokal sulit benar-benar bersaing. Tapi yang kami butuhkan bukan proteksi, melainkan fair play,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah memperkuat kebijakan industri lewat penerapan SNI ketat, pengawasan impor ilegal, dan kewajiban memiliki pabrik atau layanan purna jual di Indonesia. “Kalau itu diterapkan, industri lokal akan punya ruang tumbuh,” tutup Andry.(*).

# Tag