Investor Menantikan Laporan Emiten Tahun 2025, Cermati Saham Yang Terimbas MBG dan Keuangan

Investor Menantikan Laporan Emiten Tahun 2025, Cermati Saham Yang Terimbas MBG dan Keuangan
Ilustrasi pergerakan indeks-indeks tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (3/11/2025), di Mainhall BEI, Jakarta. Indeks tersebut antara lain komposit atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga indeks likuid 45 saham atau LQ45. Foto: Nadia K. Putri/SWA

Sejumlah analis menjabarkan peluang pertumbuhan level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal tahun ini. Laju IHSG berpotensi terdorong oleh sentimen positif pasca kinerja keuangan tahunan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang Januari sampai April 2026, para emiten ini akan menyampaikan laporan keuangan tahunan 2025 atau laporan keuangan kuartal IV/2025.

“Kinerja laba emiten ke depannya juga akan mendukung kenaikan IHSG, kembalinya dana asing semenjak IHSG tidak didominasi asing didukung oleh stabilitas politik dan perekonomian,” jelas pengamat pasar modal, Reydi Octa, dalam keterangan tertulis pada Senin (5/1/2026).

Berkaca pada tahun 2025, mayoritas perusahaan tercatat di BEI itu menyampaikan laporan keuangan tahunan pada Maret hingga April. Ini juga bersamaan dengan penyampaian laporan kuartal I/2026.

Reydi mengamati sektor-sektor likuid dan mampu menampung akumulasi asing bakaln menopang IHSG. Misalnya, sektor keuangan perbankan. Kemudian, sektor konsumer, yang terhubung dengan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.“Tahun 2026 ini, anggaran MBG lebih besar dari sebelumnya, sehingga sektor-sektor yang terkait penyediaan bahan pangan MBG bisa dicermati,” lanjut Reydi.

Sejumlah emiten menjaring penjualan yang terimbas dari program MBG. Pada kesempatan terpisah, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (Ultrajaya/ULTJ) memaparkan strategi perseroan untuk memperkuat posisi merek dan perannya di industri susu nasional. Sekretaris Perusahaan Ultrajaya Helina Widayani menjelaskan, ada enam strategi yang terus dikembangkan perseroan sepanjang tahun ini. Pertama, memperkuat merek untuk memperluas jangkauan pasar dan mendorong pendapatan. Kedua, mengoptimalkan platform distribusi dan ketersediaan produk secara nasional.

Ketiga, perseroan akan meningkatkan kapasitas produksi dan gudang. Keempat, pengembangan peternakan serta rantai pasok susu. Kelima, menjaga keberlanjutan bisnis melalui pengembangan produk baru. Keenam, melakukan investasi untuk efisiensi operasi dan mengintegrasikan kinerja.

“Ultrajaya sepenuhnya mendukung program pemerintah yaitu Makan Bergizi Gratis. Ini memperkuat brand kita dan sekaligus ada promosi atau free campaign untuk meningkatkan tingkat susu nasional dalam jangka panjang,” ujar Helina kepada peserta paparan publik daring pada Jumat (19/12/2025).

Adapun susu yang diproduksi khusus untuk program MBG ditujukan bagi konsumen berusia 6–18 tahun, yakni siswa sekolah dasar hingga menengah. Produk tersebut tidak diperjualbelikan untuk umum.“Pendapatan MBG melalui pesanan langsung ke perusahaan dari sejak Juli sampai Desember 2025 mengalami peningkatan. Peningkatan sampai dengan Desember, ini juga terus mengalami peningkatan,” tutur Helina.

PT Platinum Wahab Nusantara Tbk atau Teguk (TGUK) berekspansi di bidang pengolahan daging sapi dan ayam serta usaha terkait, mulai dari pengawetan daging hingga perdagangan makanan dan minuman.

Perseroan akan membangun pabrik pemrosesan makanan beku yang berlokasi di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat,” terang manajemen TGUK dalam dokumen materi paparan publik di laman profil perusahaan tercatat BEI pada 28 November 2025.

Target penyelesaian pabrik tersebut dijadwalkan pada kuartal IV/2026. Manajemen TGUK menjabarkan, pabrik tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 18.585 meter persegi, dengan kapasitas processing plant 13.320 ton dan gudang pendingin (cold storage) seluas 630 meter persegi.

Pabrik tersebut diproyeksikan memproduksi dan mengolah daging di processing plant dengan total kapasitas 13.320 ton, masing-masing 6.660 ton pada 2026 dan 6.660 ton di 2027.

Perseroan berencana mengimpor daging sapi dari Australia dan Brasil, serta daging kerbau dari India. Adapun produk olahan daging dan ayam akan berupa daging giling, bakso, sliced beef, sosis, nugget, dimsum, otak-otak, hingga burger patty.

Selain itu, perseroan telah menyiapkan kanal penjualan daging beku dan produk olahannya ke distributor di Pulau Jawa dan Sumatera; hotel, restoran, dan katering, penjualan langsung ke konsumen, serta ke program MBG.

Tak mau kehilangan momentum emas, PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) menargetkan perbaikan kinerja pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh konsumsi daging nasional yang diproyeksi mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan populasi serta upaya pemerintah dalam mencapai swasembada pangan untuk mendukung program MBG.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan permintaan daging sapi pada 2026 diproyeksikan mencapai 885,17 ribu ton atau meningkat sekitar 2,5% dari permintaan daging sapi di 2025 yang diprediksi mencapai 863,7 ribu ton. Peningkatan ini salah satunya bersumber dari potensi kebutuhan daging sapi untuk program MBG sekitar 90 ribu ton dalam setahun.

Hal yang sama juga terjadi pada industri perunggasan. Melalui program MBG, pemerintah bakal menambah pasokan telur hingga 700 ribu ton dan daging ayam sekitar 900 ribu sampai 1,1 juta ton. Prospek cerah industri pangan ini tentu akan berdampak positif pada pemulihan kinerja Perusahaan kedepannya.

“Dari sisi pendapatan, pada tahun 2026 Perusahaan menargetkan pertumbuhan hingga 2 kali lipat dibanding pendapatan tahun 2025. Dengan strategi efisiensi, Perusahaan juga menargetkan dapat kembali mencatatkan laba bersih,” jelas Tumiyono, Founder & CEO WMPP pada Kamis (31/12/2025).

Sedangkan analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow dan Republik Investor, Hendra Wardana, menjabarkan sektor keuangan masih menjadi penopang utama indeks. Khususnya, bank-bank raksasa (big banks) atau bank-bank yang diuntungkan dari suku bunga domestik yang stabil dan ekspektasi pertumbuhan kredit.

Kemudian, sektor infrastruktur dan konstruksi juga berpeluang mendapat perhatian karena realisasi belanja pemerintah dimulai pada awal tahun 2206. Sektor komoditas tertentu, khususnya emas masih dilirik sebagai aset lindung nilai (hedge).

“Saham perbankan utama, saham konsumsi defensif, hingga saham berbasis komoditas emas berpeluang mendapat aliran dana jangka pendek,” ujar Hendra serya menjelaskan efek awal tahun atau January effect.

Investor pada awal tahun 2026 ini tak hanya berburu saham lapis dua (second liner) secara acak. Hendra mencermati pelaku pasar pada tahun ini seharusnya dapat mengarahkan investasinya ke saham-saham yang memiliki katalis jelas dan valuasi yang masih rasional.

“Pasar cenderung melirik saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah dengan likuiditas tinggi serta narasi fundamental yang kuat,” tutup Hendra. (*)

# Tag