Target Harga Saham UNVR di Rp2.800
Setahap demi setahap, kinerja finansial PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berada pada fase pemulihan. Harga saham UNVR diperkirakan semakin melonjak di 2026 seiring peningkatan kinerja finansial di 2025. Hendra Wardana, analis pasar modal dan pendiri Republik Investor, mengatakan fase ini terlihat setelah melewati fase penyesuaian bisnis dalam beberapa tahun terakhir.
Pendapatan Unilever pada Januari-September 2025 tumbuh relatif di level 0,7% apabila dibandingkan periode yang sama di 2024, Pada periode ini, UNVR mampu mencatatkan kenaikan laba bersih hingga 10,8%. Sisi profitabilitas UNVR juga terbilang sangat unggul dibandingkan rata-rata industri makanan dan minuman. Ini tercermin dari net profit margin perseroan sebesar 12,5% atau melampaui margin industri sebesar 5,1%.
Secara valuasi, saham UNVR saat ini berada pada level relatif lebih menarik dibandingkan kompetitornya. Rasio harga saham terhadap pendapatan (PER) tahunan UNVR sekitar 22,1 kali, lebih rendah dari rerata industri di kisaran 27,9 kali. Pelaku pasar relatif minim memberikan premi terhadap potensi pemulihan kinerja UNVR.
"Kondisi ini membuka peluang re-rating valuasi apabila pertumbuhan pendapatan dan volume penjualan mulai menunjukkan tren yang lebih konsisten sepanjang 2026, terutama jika didukung oleh perbaikan sentimen di sektor konsumsi," ucap Hendra kepada SWA.co.id pada Senin (5/1/2026).
Hendra berpendapat saham UNVR berpeluang melanjutkan fase pemulihan secara bertahap di 2026. Strategi buy on weakness di area Rp2.480 dengan target harga Rp2.800 menjadi relevan, khususnya bagi investor yang melihat UNVR sebagai saham konsumer defensif yang tengah memasuki fase turnaround moderat dengan risiko yang relatif terkelola. Saham UNVR merupakan salah satu saham konstituen di Indeks High Dividend 20 (IDX Hidiv 20). Harga saham Unilever pada tahun lalu itu melonjak sebesar 37,93%,

Faktor Pendukung
Adapun sisi internal, kinerja UNVR akan dipengaruhi oleh keberhasilan strategi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara efisiensi dan pertumbuhan. Mulai dari inovasi produk yang lebih relevan dengan preferensi konsumen, penyesuaian harga yang adaptif terhadap daya beli masyarakat, serta optimalisasi jaringan distribusi menjadi faktor kunci. Selain itu, penguatan kanal distribusi tradisional dan digital juga diharapkan mendorong pertumbuhan volume, khususnya segmen kebutuhan harian yang menjadi tulang punggung bisnis UNVR.
Sementara dari faktor eksternal, stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional dan inflasi yang relatif terkendali berpotensi menopang konsumsi rumah tangga, meskipun tekanan dari sisi persaingan masih terasa di 2026.
Tantangan dan Potensi di 2026
Hendra, sang Founder Republik Investor, menyebutkan upaya mendorong pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat tanpa mengorbankan margin keuntungan, menjadi tantangan bagi UNVR. Sebab adanya merek-merek lokal dengan harga lebih kompetitif serta perubahan perilaku konsumen yang semakin sensitif terhadap harga, menjadi tantangan struktural yang harus dihadapi oleh UNVR.
Di sisi lain, potensi tetap terbuka lebar mengingat kekuatan merek yang sudah mengakar, portofolio produk yang luas, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang stabil. "Karakter ini membuat UNVR tetap menarik bagi investor yang mengincar kombinasi antara stabilitas, dividen, dan peluang pemulihan harga saham," pungkasnya. Harga saham UNVR pada penutupan perdagangan hari ini terkoreksi sebesar 1,53% atau menjadi Rp2.580 dari perdagangan sebelumnya. (*)