Saham Bank Tertekan Sepanjang 2025, Kredit Masih Jadi PR Besar
Saham sektor perbankan melemah sepanjang 2025 seiring melambatnya pertumbuhan kredit dan masih tingginya suku bunga yang menekan permintaan pinjaman. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kinerja saham perbankan milik negara (bank BUMN) cenderung turun.
Sepanjang 2025, hanya saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencatatkan kenaikan, yakni 0,46%. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 10,53%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 10,29%, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 2,08% secara year to date (YtD).
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menilai pelemahan saham perbankan BUMN mencerminkan tekanan ekonomi makro dan daya beli masyarakat yang masih rendah.
Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan kredit tetap menjadi tantangan utama, meski aktivitas transaksi masyarakat terus meningkat—terutama melalui digitalisasi pembayaran seperti QRIS—yang turut menopang kinerja sektor perbankan.
“Prospek perbankan masih cukup baik karena banyak transaksi dilakukan di masyarakat. Selain dari kredit, perbankan juga memperoleh kontribusi kinerja dari fee based income atas DPK, tabungan, dan deposito,” ujarnya kepada SWA.co.id.
Dari sisi permodalan, kondisi bank-bank BUMN dinilai solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang berada di level dua digit. Hal ini menjadi bantalan di tengah ketidakpastian global. Reza memperkirakan laba perbankan masih dapat tumbuh satu digit, sekitar 5–6%, meski menghadapi kenaikan biaya operasional dan laju kredit yang belum signifikan.
Sementara itu, Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menyoroti valuasi saham perbankan yang saat ini masih relatif menarik, khususnya kelompok big four banks yang pergerakan harganya dinilai masih lambat.
“Key driver kenaikan earning di 2026 berasal dari peningkatan likuiditas seiring penurunan suku bunga BI, cost of fund yang turun sehingga mendorong net interest margin, serta estimasi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik yang akan menopang pertumbuhan kredit,” jelasnya.
Andrey memperkirakan, pada 2026 kinerja bank-bank besar akan mengungguli bank small-mid cap maupun bank digital, seiring kekuatan struktur pendanaan dan skala bisnis yang lebih mapan.
Hal senada disampaikan Reydi Octa, pengamat pasar modal, yang menilai sektor perbankan BUMN tetap menjadi penopang utama stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menjadi sasaran akumulasi investor asing saat aliran dana kembali masuk ke emerging market.
“Prospeknya cukup baik walau tidak agresif. Perbankan saat ini tidak dalam fase ekspansi besar, tetapi pertumbuhan kredit masih ada dan kualitas aset terjaga,” kata Reydi.
Ia menambahkan, faktor yang paling memengaruhi pergerakan saham perbankan ialah arah suku bunga, inflasi yang terjaga, stabilitas ekonomi domestik, pertumbuhan kredit, serta tingkat kredit bermasalah (NPL) yang terkendali. Menurutnya, tekanan global terhadap saham perbankan saat ini sudah jauh berkurang dan lebih bersifat sentimen jangka pendek.
“Selama tidak ada gejolak ekstrem, bank-bank besar di IHSG lebih digerakkan oleh faktor domestik dibanding isu eksternal,” tegasnya.
Secara spesifik, Reydi menilai BMRI, BBRI, dan BBNI masih memiliki ruang pertumbuhan berkat efisiensi biaya pendanaan seiring tren penurunan suku bunga. Sementara itu, BBTN berpotensi tumbuh dari kredit konsumsi dan perumahan, meski lebih sensitif terhadap kebijakan suku bunga dan permintaan kredit masyarakat. (*)