Dampak Konflik AS ke Venezuela Relatif Minim, BNI Sekuritas Unggulkan Saham Emiten Emas di Perdagangan Selasa Ini
Indeks-indeks saham Wall Street ditutup menguat signifikan pada perdagangan Senin pekan ini meskipun AS melancarkan serangan militer ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Selain itu, pelaku pasar menilai langkah tersebut tidak akan memicu konflik geopolitik yang meluas dan berpotensi mengganggu stabilitas pasar global. Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1,23%, S&P 500 naik 0,64% dan Nasdaq Composite menguat 0,69%. Saham sektor energi memimpin penguatan, seiring optimisme bahwa perusahaan minyak AS akan diuntungkan dari potensi pembangunan kembali infrastruktur energi Venezuela.
Harga saham Chevron melesat 5,1% dan dinilai menjadi penerima manfaat terbesar karena telah memiliki kehadiran bisnis di Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Sedangkan, saham Exxon Mobil turut menguat 2,2%.
Harga saham Halliburton melesat 7,8% dan SLB (Schlumberger) naik hampir 9%. Saham sektor keuangan juga menguat, mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek ekonomi AS pada 2026. Saham Goldman Sachs naik 3,7%, sementara U.S. Bancorp menguat 2,9%. Di sisi lain, saham General Dynamics naik 3,5%, dan Lockheed Martin menguat 2,9%, seiring pandangan bahwa serangan militer cepat akan menjadi bagian dari pendekatan kebijakan luar negeri Trump dalam merespons risiko geopolitik.
Dampak geopolitik AS-Venezuela tak berpengaruh terhadap bursa saham Asia. Mayoritas perdagangan saham di kawasan ini menguat pada perdagangan Senin. Sementara harga minyak bergerak volatil seiring investor menilai dampak aksi militer AS di Venezuela dan bersiap menghadapi banjir data ekonomi pada pekan perdagangan penuh pertama tahun ini.
Pelaku pasar mencermati implikasi geopolitik setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan menempatkan Venezuela di bawah kendali sementara AS. Harga minyak mentah bergerak tidak stabil. di tengah evaluasi pasar terhadap intervensi AS di Venezuela dan keputusan OPEC+ yang mempertahankan level produksi.
Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,97%, Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,03%, Kospi Korea Selatan melesat 3,43%, Taiex Taiwan menguat 2,57% dan S&P/ASX 200Australia naik tipis 0,1%.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin kemarin ditutup naik 1.27%, tapi disertai dengan net sell asing senilai Rp9,98 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah PT Bumi Resources Tbk (BUM)I, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
"IHSG potensi koreksi wajar hari ini, level support IHSG di rentang 8.780 hingga 8.800 poin dan resistance 8.880-8.900," ujar Fanny Suherman, Head of Retail Research Analyst PT BNI Sekuritas di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
BNI Sekuritas pada perdagangan Selasa ini merekomendasikan saham INET, BRMS, MBMA, UNTR, ARCI, dan HRTA. Sekitar 3 dari 6 saham ini merupakan saham emiten emas.
INET : Area beli di Rp590, cutloss di bawah Rp560. Target dekat di Rp615-650.
BRMS : Area beli di Rp1.260-1.275, cutloss di bawah Rp1.240. Target dekat di Rp1.290-1.310.
MBMA : Area beli di Rp620-625, cutloss di bawah Rp615. Target dekat di Rp635-645.
UNTR : Area beli di Rp30.750-30.800, cutloss di bawah Rp30.500. Target dekat di Rp31.000-31.300.
ARCI : Buy if break Rp1.725, dengan target jual dekat di Rp1.745-1.775. Cutloss di bawah Rp1.700.
HRTA : Area beli di Rp2.240-2.270, cutloss di bawah Rp2.220. Target dekat di Rp2.310-2.380.