Surplus Neraca Perdagangan US$2,66 Miliar Pada November 2025

Surplus Neraca Perdagangan US$2,66 Miliar Pada November 2025

Neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 kembali surplus dengan US$2,66 miliar atau lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 senilai US$ 2,39 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan surplus neraca perdagangan pada November 2025 didorong kinerja positif di sektor nonminyak dan gas (nonmigas). Adapun neraca perdagangan nonmigas berhasil mencatatkan surplus US$4,64 miliar. Sejak Januari–November 2025, sebagian besar sektor nonmigas disumbang oleh perdagangan dengan beberapa negara mitra utama, seperti Amerika Serikat US$19,21 miliar, India US$12,16 miliar dan Filipina US$7,72 miliar.

Dari sisi ekspor, mencapai US$22,52 miliar atau turun 7,08% dibandingkan Oktober 2025. Penurunan ini terutama didorong turunnya ekspor nonmigas sebesar 7,30% dan turunnya ekspor migas sebesar 1,25%. "Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada Januari–November 2025 adalah aluminium dan barang daripadanya yang naik hingga 57,69%; berbagai produk kimia naik 48,02%; serta kakao dan olahannya naik 44,06%,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, sektor industri pengolahan mendominasi struktur ekspor dengan kontribusi 80,27%, disusul pertambangan dan lainnya (12,65%), migas (4,60%), serta pertanian (2,48%).

Sementara kinerja impor Indonesia tercatat sebesar US$9,86 miliar. Nilai ini turun 9,09% dibandingkan Oktober 2025. Nilai impor November 2025 terdiri dari sektor nonmigas US$ 17,00 miliar dan migas US$2,86 miliar. Per Januari–November 2025 mencapai US$ 218,02 miliar atau tumbuh 2,03%. Peningkatan ini disebabkan oleh impor nonmigas yang naik 4,37% menjadi US$ 188,61 miliar.

Beberapa komoditas impor nonmigas dengan peningkatan tertinggi seperti garam, belerang, batu, dan semen sebesar 70,89%; kakao dan olahannya 54,53%; serta berbagai produk kimia 36,12%. Struktur impor Januari–November 2025 masih didominasi bahan baku atau penolong dengan pangsa 70,27%, diikuti barang modal 20,55% dan barang konsumsi 9,18%.

Impor produk bahan baku atau penolong yang menurun selama periode tersebut mencakup bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil untuk pakan ternak, dan polipropilena. Lalu impor barang konsumsi turun terutama untuk mesin pengatur suhu udara, bawang putih, mobil listrik (CKD), non-dairy creamer, dan obat-obatan. (*)

# Tag