Sewu Segar Nusantara: Sunpride Harvest Passport, Buah Manis Inovasi Digital

Inovasi digital mebantu Sewu Segar Nusantara menyajikan produk berkualitas. (Ist)

Keberhasilan sebuah inovasi biasanya diukur dari seberapa cepat ia mengubah perilaku kerja, memperbaiki proses yang tidak efisien, dan membuka peluang yang sebelumnya tertutup. Di PT Sewu Segar Nusantara, perusahaan agribisnis dalam Group Gunung Sewu, transformasi itu dimulai dari kebun-kebun mitra petani.

Inisiatif Digital End-to-End

Ketika sebuah kelompok tani di Lumajang berhasil meningkatkan kualitas panen hanya dalam dua musim tanam setelah menggunakan sistem digital perusahaan, manajemen Sewu Segar Nusantara di sana menangkap sebuah pola baru: Pendampingan yang dulu berlangsung manual kini berubah menjadi pendampingan berbasis data, terukur, dan konsisten.

“Kami ingin agar setiap petani merasakan manfaat yang nyata, bukan sekadar menjalankan instruksi teknis,” kata Cindyanto Kristian, CEO PT Sewu Segar Nusantara.

Dari keberhasilan awal di Lumajang, kemudian berkembang menjadi sebuah program inovasi digital yang lebih ambisius. Namanya: Sunpride Harvest Passport, sebuah inisiatif digital end-to-end berbasis blockchain, dirancang oleh tim manajemen Sewu Segar Nusantara. Tujuan digitalisasi ini: membangun ekosistem perkebunan sunpride yang lebih transparan, efisien, dan memberdayakan petani.

Cerita dimulai dari persoalan sederhana tapi mendasar: Selama ini masih banyak petani di berbagai daerah di Indonesia yang bekerja sendiri-sendiri, tanpa sistem operasi agrikultura yang rapi, dan tanpa koneksi langsung dengan rantai pasok pasar premium. Potensi produksi sering tidak tercapai hanya karena kurangnya keterhubungan, sementara akses pasar yang sebenarnya tersedia tidak bisa dijangkau karena standar yang tidak terpenuhi.

“Target kami sederhana,” ujar Cindyanto. “Melibatkan lebih banyak petani untuk masuk dalam ekosistem Sunpride dan membantu mereka menghasilkan panen terbaik yang sesuai standar pasar,”katanya.

Sunpride Harvest Passport tak dirancang sebagai aplikasi tunggal, tetapi sebagai sistem kerja. Di dalamnya ada modul pendampingan budidaya, sistem monitoring berbasis data, pencatatan aktivitas harian petani, proses quality control, hingga integrasi ke blockchain yang membuat semua data tidak dapat dimanipulasi. Transparansi ini menjadi kunci sekaligus diferensiasi utama.

Setiap boks buah sunpride kini memiliki passport digital berisi data perjalanan buah dari kebun hingga ke konsumen. Hal ini meningkatkan kepercayaan tidak hanya dari sisi petani, tetapi juga peritel dan pelanggan premium di dalam maupun luar negeri.

“Blockchain membantu kami memastikan traceability yang kuat,” Cindyanto menegaskan. “Setiap pihak bisa melihat perjalanannya secara jelas dan akurat.”

Program ini dikembangkan melalui multifase. Tidak ada batasan anggaran dan waktu untuk pengembangan karena akan berjalan paralel dengan perluasan jumlah petani yang bergabung. Namun, prosesnya melibatkan lintas divisi —mulai dari operasional kebun, packing house, quality control, hingga tim digital dan strategy office.

Manajemen membangun sebuah platform inovasi agar ide dari karyawan bisa diinkubasi, diuji, dan dikembangkan menjadi solusi konkret. Setiap tahun, seluruh kepala departemen dapat mengajukan proposal program, dan proyek terbaik mendapat innovation reward beserta dukungan anggaran.

“Yang penting bagi kami adalah relevansi ide itu terhadap masalah nyata,” ujar Cindyanto.

Cindyanto Kristian - CEO, PT Sewu Segar Nusantara. (Dok: Pribadi)
Cindyanto Kristian, CEO PT Sewu Segar Nusantara. (Dok: Pribadi)

Sunpride Harvest Passport

Salah satu persoalan terbesar yang ingin ditangani ialah konsistensi kualitas. Dengan petani mitra yang tersebar dari Lampung hingga Sulawesi Selatan, tantangan utama terletak pada cuaca ekstrem, perubahan pola iklim, pasokan air, serangan hama, dan dinamika produktivitas kebun yang tidak seragam.

Perusahaan menyadari bahwa tanpa data, semua keputusan — termasuk keputusan komersial — akan rentan meleset. Cuaca ekstrem memicu banjir, kekeringan membuat pohon stres, sementara perubahan iklim 5-10 tahun terakhir menyebabkan munculnya jenis penyakit baru pada tanaman.

“Faktor cuaca adalah hal yang tidak bisa kami kendalikan,” kata Cindyanto. “Namun, dengan inovasi digital, kami bisa memperkecil risiko yang muncul dari faktor tersebut.”

Di luar faktor alam, perusahaan juga menghadapi dinamika pasar pascapandemi. Konsumsi masyarakat memang pulih, tetapi tidak sekuat yang diharapkan.

Beberapa kota besar di Jawa mengalami tekanan ekonomi yang membuat permintaan tidak stabil. Proyeksi penjualan menjadi lebih sulit, sehingga perusahaan membutuhkan lebih banyak data untuk memperkuat ketepatan analisis pasar. Melalui Sunpride Harvest Passport dan sistem digital pendukungnya, data panen, produktivitas, potensi supply, hingga pergerakan harga pasar dapat dianalisis lebih cepat.

Dari sisi kepentingan petani, keuntungan digitalisasi terasa lebih signifikan. Banyak dari mereka yang baru pertama kali menggunakan aplikasi digital untuk memantau tanaman atau meng-input data harian. Dalam sistem ini, mereka bisa mencatat kegiatan pemupukan, menyampaikan kondisi tanaman melalui foto, memantau rencana panen, dan mendapatkan rekomendasi pengendalian penyakit secara tepat.

Sistem membantu menstandarkan budidaya sesuai dengan standar Global GAP — sertifikasi hortikultura tertinggi di dunia yang dipegang Sewu Segar Nusantara. Dampaknya, kualitas panen lebih konsisten, dan peluang masuk ke pasar premium meningkat. “Kami ingin semakin banyak petani muda bergabung ke sektor pertanian,” ujar Cindyanto.

Sejauh ini tantangan terbesar dari sisi implementasi ialah skala. Dengan 1.500 petani yang kini menjadi bagian dari ekosistem Sunpride, heterogenitas kondisi lahan, dan pengetahuan teknis membuat proses pendampingan membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan sistem yang fleksibel.

Ada wilayah yang berkembang cepat seperti Jawa Timur dan Cilacap (Jawa Tengah), sementara daerah lain membutuhkan waktu dua-tiga tahun untuk mencapai standar kualitas yang stabil. Ada pula kelompok masyarakat seperti mantan pekerja pariwisata Bali yang memulai dari nol pada masa pandemi, dan kini mampu menghasilkan panen berkualitas. Keberhasilan seperti ini menjadi indikator penting bahwa program digital bukan sekadar alat bantu, melainkan enabler bagi pemberdayaan petani.

Yang pasti, dampak program digital semakin terlihat ketika perusahaan mulai melakukan ekspor bersama petani mitra. Pisang mas dari Lampung kini dikirim ke Jepang, Singapura, dan Timur Tengah. Salak dari mitra petani telah tembus ke pasar Tiongkok.

Real Time

Untuk menjaga kualitas ekspor yang jauh lebih ketat, teknologi digital seperti drone monitoring, robotisasi, digital employee, hingga big data analytics mulai diadopsi. Ini membantu perusahaan memantau produktivitas kebun dari berbagai provinsi secara real time, sekaligus mengoptimalkan rekomendasi budidaya sesuai dengan kebutuhan tiap negara tujuan ekspor.

Dengan karakter komoditas yang berbeda-beda, perusahaan membutuhkan data yang presisi. “Setiap negara punya standar yang berbeda,” ucap Cindyanto.

Ia menambahkan, “Teknologi membantu kami mengurangi kesalahan budidaya dan menjaga kualitas sesuai dengan yang diminta buyer.” Tentu, dengan jaringan petani yang kian luas, pasar yang semakin menuntut traceability, dan tekanan perubahan iklim yang makin nyata, hadirnya Sunpride Harvest Passport menjadi fondasi digital baru yang sangat diperlukan bagi bisnis buah Indonesia.

Tak hanya itu. Melalui sistem digital, perusahaan mampu memetakan supply-demand lebih presisi, memprediksi panen lebih akurat, dan mengatur distribusi dengan lebih cepat. Pasokan dari Sumatera dapat dikirim ke Jawa saat terjadi kekosongan, dan sebaliknya, mengurangi risiko penumpukan produk dan menjaga harga tetap stabil. Sistem ini tidak serta-merta menghilangkan fluktuasi, tetapi memberikan kemampuan intervensi lebih cepat sebelum masalah membesar.

Ke depan, manajemen Sewu Segar Nusantara tidak berhenti pada blockchain dan aplikasi petani. Mereka juga sudah menyiapkan berbagai inovasi, seperti integrasi big data cuaca, machine learning untuk mengantisipasi hama berdasarkan pola musim, hingga automatisasi di proses pemilahan buah. Perusahaan pun memperluas kerjasama dengan universitas, lembaga penelitian, dan perusahaan teknologi dari Jepang, Taiwan, Filipina, Australia, hingga Selandia Baru. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag