Bianca Belnadia: Menjahit Mimpi Loluna dari Cinta Seorang Ibu

Bianca Belnadia. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)
Bianca Belnadia. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Di antara percakapan para ibu muda yang memenuhi lini masa media sosial, satu nama baru terus muncul dan kini makin akrab di telinga: Loluna. Brand skincare bayi lokal ini melesat cepat dalam kurun waktu yang relatif singkat, seperti memiliki mesin pendorong yang tidak terlihat tapi bekerja sangat efektif.

Dari Toko Kecil

Di baliknya, ada sosok Bianca Belnadia. Perempuan ini sudah lebih dari satu dekade berkecimpung dalam dunia brand building dan retail modern, tapi baru menemukan panggilan terdalamnya setelah menjadi seorang ibu.

“Saya memulai entrepreneurship journey saya dari Love Bonito,” ujar Bianca, mengenang awal kariernya. Di usia awal dua puluhan, ia menjadi partner lokal sekaligus pemegang lisensi brand fashion tersebut di Indonesia, sebuah peran yang pada akhirnya membentuk intuisi dan ketajamannya dalam membangun merek.

Selama tujuh hingga delapan tahun, ia mengembangkan Love Bonito dari toko kecil dan kanal e-commerce menjadi salah satu merek fashion perempuan paling berpengaruh di Asia Tenggara. “Dari situ saya benar-benar belajar menjadi entrepreneur. Misi Love Bonito untuk empower women sangat relevan dengan usia saya waktu itu,” katanya.

Namun, pandemi mengubah banyak hal. Selain memberikan ruang untuk pause, masa itu juga menegaskan dorongan batin yang selama ini samar, yaitu mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Bianca akhirnya memutuskan untuk perlahan melepas peran operasionalnya di Love Bonito. “Setelah delapan tahun, saya merasa waktunya memberi ruang bagi generasi berikutnya.”

Masuk ke Pasar

Keputusan itu ternyata menjadi pintu menuju babak hidup berikutnya. Di momen ia mengumumkan transisinya di LinkedIn dan Instagram, bermunculan berbagai peluang baru.

Salah satunya datang dari seseorang yang bahkan belum terlalu ia kenal sebelumnya: Faldo, seorang profesional dunia venture capital. “Dia menghubungi saya dengan ide membuat brand bayi lokal berkualitas internasional. Kami akhirnya eksplor bersama,” kata Bianca.

Tak lama berselang, Gary, teman suami Bianca yang berlatar private equity, bergabung. Kolaborasi tiga pendiri dengan latar belakang berbeda itulah yang kemudian menjadi fondasi Loluna.

Pembangunan brand dimulai pada 2022. Mereka memetakan lanskap pasar yang selama puluhan tahun relatif statis. “Produk bayi di pasaran masih sama seperti 30 tahun lalu. Hampir tidak ada inovasi,” kata Bianca. Ia melihat jarak yang besar antara pesatnya inovasi skincare perempuan dan lambannya perubahan kategori baby care.

Kekosongan itulah yang membuat Loluna memiliki ruang untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar relevan bagi para ibu muda masa kini. Mereka adalah generasi yang peduli kualitas, sadar literasi skincare, dan menginginkan pengalaman yang lebih modern untuk anak-anak mereka.

Setahun penuh dihabiskan Loluna untuk research & development, menyusun business plan, hingga merintis kemitraan produksi. Bianca dan tim ingin memastikan setiap detail memenuhi standar internasional.

“Kami adalah brand bayi pertama yang menggunakan lima kali ceramide,” ujar CEO Loluna ini. Ceramide merupakan bahan populer di skincare dewasa, nyaris belum digunakan di produk bayi. Selain itu, seluruh formulasi Loluna dikembangkan di Australia, bersifat non-toxic, dan halal.

Keputusan-keputusan itu bukan tanpa risiko. Biaya riset meningkat, produksi menjadi lebih rumit, dan kebutuhan edukasi pasar menjadi lebih besar. Namun, Bianca percaya, generasi ibu-ibu hari ini menghargai transparansi, kualitas, dan science-based products. “Buat kami, kualitas tidak bisa dinego,” ujarnya mantap.

Pada September 2023, Loluna resmi diluncurkan dengan dua produk perdana: baby body lotion dan baby wash. Tak disangka, baby lotion langsung menjadi best seller dan bertahan hingga kini.

Produk itu kini menyumbang sekitar 40% total penjualan. “Produksi awal hanya 5.000–10.000 unit per produk,” ungkap Bianca. “Investasi terbesar justru di marketing dan brand awareness,” tambahnya.

Produk-produk Loluna. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo)
Produk-produk Loluna. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo)

Presisi

Meski modal awal tidak besar, Bianca dan tim membangun brand dengan strategi pemasaran yang presisi. Yaitu, mengandalkan influencer yang relevan, key opinion leader yang nyata menggunakan produk, dan para ibu yang menjadi brand ambassador, tanpa gemerlap selebritas besar.

Kecepatan pertumbuhan Loluna mengejutkan banyak orang di industri. Dalam setahun, Loluna telah masuk ke sekitar 5.500 titik distribusi di seluruh Indonesia: dari toko bayi, toko susu, ritel besar, hingga apotek, dan menargetkan 7.000 titik pada akhir tahun.

“Dari 2023 ke 2024 kami tumbuh dua sampai tiga kali lipat,” ungkap Bianca. Kini Loluna menjual 200–300 ribu unit per bulan dari delapan produk yang telah beredar, termasuk varian refill yang lebih ramah lingkungan.

Seluruh dimensi brand dirancang senada dengan target konsumennya, yaitu ibu-ibu muda modern yang ingin pengalaman baru. Dari desain kemasan yang berwarna lembut dan modern —jauh dari ciri khas white & sterile produk bayi konvensional— hingga gaya komunikasi yang hangat, intim, dan mudah diterima, semuanya memperlihatkan identitas Loluna yang segar.

“Kami ingin tampil berbeda dari kompetitor. Kami ingin Loluna terasa fresh dan dekat dengan generasi ibu muda masa kini,” Bianca menegaskan.

Meski melesat pesat, perjalanan Loluna bukan tanpa tantangan. Ada beberapa produk yang performanya tidak sekuat yang lain. Bagi Bianca, itu bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses belajar.

“Perilaku konsumen bayi berbeda. Mereka cenderung tidak sering ganti produk, jadi butuh waktu membangun kepercayaan,” katanya. Itulah sebabnya, Loluna tidak terburu-buru memperluas portofolio, meski tetap berambisi menambah tiga produk baru setiap tahun.

Belakangan, semakin banyak brand bayi baru bermunculan, sebagian terinspirasi oleh tren yang ikut dibentuk Loluna. Namun, Bianca memandang kompetisi sebagai sinyal ekosistem yang sehat. Fokus Loluna tetap pada riset, kualitas, dan pengalaman pengguna.

Tim internal kini berjumlah sekitar 50 orang, dengan pembagian peran para founder yang sangat jelas. Bianca di brand, e-commerce, dan tim; Faldo di sales dan distribusi; dan Gary di finance, procurement, dan hubungan investor.

Ketika ditanya bagaimana ia membayangkan Loluna dalam beberapa tahun ke depan, Bianca menjawab tanpa ragu. “Harapannya, Loluna bisa menjadi top-of-mind brand untuk produk bayi, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di pasar internasional,” katanya tandas.

Bianca Belnadia ingin Loluna jadi top of mind. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)
Bianca Belnadia ingin Loluna jadi top of mind. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Ambisi itu terasa bukan sebagai mimpi kosong, melainkan langkah logis dari perjalanan yang selama ini ia jalani, yaitu fondasi pengalaman fashion premium, keberhasilan membangun brand regional, keberanian mengambil risiko saat menjadi ibu baru, dan kejeliannya membaca generasi konsumen masa kini. Semua itu menyatu dalam strategi Loluna yang penuh perhitungan tapi eksekusinya ringan dan modern.

Mengenai nama Loluna, Bianca menjelaskan, asal usulnya ternyata sederhana tapi penuh makna. “Dari nama anak-anak kami bertiga, yaitu Arlo, Mika, dan Alana. Kami gabungkan dan kreasikan jadi ‘Loluna’,” ungkapnya.

Seperti sebuah penanda, di balik ambisi bisnis dan struktur strategi yang matang, Loluna sesungguhnya berangkat dari sesuatu yang sangat personal: cinta pada keluarga dan keyakinan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan produk terbaik sejak hari pertama.

Dalam konteks itu, perjalanan Bianca bersama Loluna bukan hanya tentang membangun brand. Melainkan tentang menciptakan standar baru dalam industri yang lama diam.

Dan, jika laju pertumbuhan saat ini menjadi indikator, masa depan Loluna tampaknya hanya tinggal menunggu waktu untuk benar-benar bersinar. Bukan hanya di Indonesia, tetapi bisa jadi di pasar global juga. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag