Enduro Entrepreneurship Program Cara Pertamina Mencetak Wirausahawan Muda Otomotif
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan bernama Enduro Entrepreneurship Program, Pertamina Lubricants melatih siswa SMK dan anak-anak muda dari berbagai komunitas menjadi tenaga mekanik dan entrepreneur bengkel motor. Bagaimana program ini dikelola?
Enduro Entrepreneurship Program (EEP) merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina yang awalnya ditujukan untuk mendidik dan menyiapkan siswa SMK menjadi pengusaha bengkel motor. Dalam perkembangannya, program yang diinisiasi oleh Pertamina Lubricants pada 2016 ini juga menyasar warga binaan Lapas, komunitas warga tapal batas, komunitas ojek online (ojol), santri, komunitas nelayan, dan komunitas disabilitas.
Hingga akhir 2025 program ini telah melatih lebih dari 3.000 orang, mencetak 199 bengkel motor, dan memberikan dampak positif kepada sekitar 100 ribu penerima manfaat. Lebih dari itu, jaringan bengkel EEP yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara juga telah menciptakan nilai ekonomi bagi Pertamina Lubricants melalui penjualan 30 ribu liter minyak pelumas di tahun 2025 dengan value creation yang tercipta dari 2016 sebesar Rp15,8 miliar.
“Jadi, TJSL Pertamina Lubricants bukan lagi program yang bersifat filantropi atau santunan kepada masyarakat, tetapi memberikan manfaat secara sustain (terus menerus) dan juga bisa memberikan dampak bisnis bagi perusahaan,” kata Hardiyanto Tato, Corporate Secretary Pertamina Lubricants.
Menurut Hardiyanto, setidaknya ada tiga alasan penting mengapa Pertamina mengangkat EEP sebagai program TJSL. Pertama, EEP —yang memberikan pendidikan dan pelatihan— adalah program strategis karena sejalan dengan Asta Cita program pemerintah dalam pembangunan dan peningkatan mutu SDM.
Kedua, program yang awalnya hanya menyasar lulusan SMK ini bertujuan mengurangi pengangguran lulusan SMK yang ternyata cukup tinggi. “Program ini hadir untuk menjembatani transisi lulusan SMK ke dunia industri dengan memberikan pembekalan tambahan, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang lebih siap dan relevan saat memasuki dunia kerja/usaha” ungkapnya.
Dan ketiga, adanya tuntutan dari perusahaan (Pertamina) untuk menghadirkan program TJSL yang sekaligus bisa berkontribusi terhadap bisnis perusahaan (creating shared value).
Sesuai dengan tujuan untuk mengurangi tingkat pengangguran lulusan SMK, pada tahap awal EEP hanya ditujukan kepada para lulusan SMK, yaitu dengan memberikan bimbingan, pelatihan, dan modal usaha sampai mereka siap menjalankan usaha perbengkelan. “Harapannya, para lulusan ini setelah menjalani pelatihan bisa menjadi pengusaha-pengusaha muda bidang perbengkelan,” kata Hardiyanto.
Namun, dari hasil evaluasi yang dilakukan, ternyata para lulusan SMK ini belum cukup siap untuk langsung diterjunkan mengelola bengkel. “Skill komunikasinya masih kurang. Mereka juga tidak paham manajemen perbengkelan,” ungkapnya.
Dari temuan itu, kemudian muncul gagasan menghadirkan program EEP yang dimulai sejak bangku SMK. “Yang membedakan, program pelatihannya tidak diberikan setelah mereka lulus, tetapi sejak mereka masih duduk di SMK.”
Untuk itu, Pertamina Lubricants dan SMK binaan kemudian menyiapkan satu bengkel di sekolah berikut perlengkapannya, disertai produk-produk yang diperlukan, antara lain pelumas motor. Bengkel ini bukan sekadar sarana praktik bagi siswa, tetapi juga menjadi bengkel komersial yang melayani pelanggan dari sekitar lokasi sekolah.
“Di sini para siswa akan belajar bagaimana melakukan komunikasi dengan pelanggan, melakukan penanganan komplain pelanggan, melakukan digital marketing, hingga bagaimana melakukan program-program promosi yang telah diagendakan,” Hardiyanto menjelaskan.
Untuk melakukan pelatihan kepada siswa, Pertamina Lubricants menjalin kolaborasi dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, Balai Latihan Kerja, dan content creator untuk memberikan sharing knowledge terkait komunikasi, ilmu teknis otomotif, manajemen perbengkelan, dan digital marketing.
Dalam perjalanannya, ternyata yang memerlukan pelatihan bukan hanya para siswa, tetapi juga guru pembimbing. Ini karena pengelolaan bengkel akan dilakukan oleh siswa secara silih berganti. Ketika siswa kelas XII telah lulus, mereka akan digantikan oleh adik-adik kelasnya untuk mengelola bengkel. Namun, para adik kelas ini masih perlu bimbingan dan pendampingan. Di sinilah peran guru pembimbing untuk mendampingi para siswa.
Untuk membekali para guru, lahirlah program yang dinamai Teacherpreneur. Di sini para guru pembimbing akan mendapatkan pelatihan, mulai dari aspek teknis, produk, manajemen perbengkelan, hingga update teknologi terbaru.
“Kami mengundang pakar-pakar dari praktisi bengkel untuk melatih guru pembimbing,” kata Hardiyanto. Tidak hanya itu, para guru juga diajari digital marketing melalui TikTok dan media sosial lain oleh content creator agar omzet bengkelnya meningkat.
Saat ini jumlah SMK yang tergabung dalam program EEP telah mencapai 55 sekolah, tersebar dari Sabang hingga Merauke, yang masing-masing telah dilengkapi dengan sebuah bengkel aktif. Setiap bengkel mempunyai tantangan yang berbeda-beda untuk dapat survive, yang tentu memerlukan inovasi dan terobosan dari para siswa pengelola.
Guna memberikan motivasi kepada para siswa untuk berinovasi, Pertamina mengadakan program kompetisi bernama Enduro Skill Contest. “Kami membuat lomba inovasi dan skill di antara seluruh SMK binaan. Lalu, pemenangnya akan diberi reward,” kata Hardiyanto.
Lomba pertama, adu inovasi dalam program penjualan (Duta Entrepreneur).
Lomba kedua adu skill dalam menangani masalah di motor (Duta Mekanik). “Di sini ada semacam tes mekanik.”
Lomba Ketiga, bagaimana melakukan digital marketing untuk meningkatkan omzet bengkel (Duta Social Media).
Menurut Hardiyanto, tiap-tiap pemenang dari lomba tersebut telah diberi penghargaan. Juara Umum mendapat hadiah menonton langsung MotoGP di Sepang, Malaysia, yang kebetulan Pertamina Lubricants menjadi sponsor untuk tim balap Valentino Rossi bernama Pertamina Enduro VR46 Racing Team. “Mereka bisa bertemu dengan para mekanik MotoGP, pembalap, dan seluruh tim yang terlibat di dalamnya.” Adapun seluruh nominasi juara dalam kompetisi tersebut mendapat penghargaan mengunjungi pameran otomotif GIIAS di Bandung.
Di luar materi lomba, ternyata cukup banyak inovasi kreatif yang dilakukan para siswa untuk meningkatkan omzet bengkelnya. Misalnya, di salah satu SMK di Majalengka, para siswa membuat program ganti oli pada saat panen yang dibayar dengan hasil panen.
Di SMK Salatiga, ada program servis atau ganti oli gratis dengan menukarkan sampah botol plastik.
Ada juga SMK yang menggalang kerjasama dengan wali kota untuk mendapatkan izin melakukan servis kunjungan ke instansi-instasi secara bergiliran, sehingga dalam satu minggu jadwal servis kunjungan mereka tak ada yang kosong. Cara serupa juga dilakukan oleh bengkel SMK yang berlokasi di area pabrik, yaitu dengan program servis kunjungan ke pabrik-pabrik.
Yang menarik, program EEP tak hanya berhenti sampai siswa lulus SMK. Bagi siswa yang sudah lulus dan ingin mendirikan bengkel, Pertamina Lubricants akan memberikan pelatihan lanjutan selama enam bulan serta bantuan pendirian bengkel termasuk di dalamnya berupa peralatan, perlengkapan, dan produk oli Pertamina.
Selama periode pembinaan, yakni selama tiga tahun, usaha bengkel akan dijalankan oleh peserta lulusan SMK dan seorang mekanik profesional secara bersama-sama. Diharapkan setelah tiga tahun, bengkel dapat berdiri secara mandiri dan modal usaha yang diberikan dapat berkembang.
Di sisi lain, Pertamina juga membuka bengkel-bengkel di gerai SPBU untuk tempat penyaluran lulusan yang ingin bekerja. “Kami rekrut lulusan SMK untuk bekerja di bengkel-bengkel ini.”
Jadi, bagi lulusan yang mau membuka bengkel disediakan program pelatihan lanjutan. Dan, bagi yang mau bekerja telah disediakan bengkel-bengkel untuk tempat bekerja.
Dengan demikan, sesuai dengan tujuan awal ketika program EEP diluncurkan, program ini berhasil mengantarkan para lulusan SMK untuk bekerja dan menciptakan lapangan pekerjaan baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Program EEP tak hanya menyasar siswa SMK, tetapi juga ditujukan bagi sejumlah komunitas. Misal, ada EEP yang khusus disiapkan untuk warga binaan Lapas yang disebut Enduro Sahabat Lapas.
Ada juga program EEP untuk Enduro Sahabat Tapal Batas, Enduro Sahabat Komunitas, Enduro Sahabat Santri, Pertamina Sahabat Difabel, dan Pertamina Sahabat Nelayan. “Kami buatkan bengkel-bengkel untuk mereka beserta pelatihan agar mereka dapat meningkatkan pendapatan,” kata Hardiyanto.
Kelebihan bengkel EEP yang saat ini mencapai 199 bengkel: telah terdaftar sebagai bengkel resmi Pertamina. Dengan demikian, bengkel-bengkel ini bisa memesan produk langsung kepada distributor melalui aplikasi untuk mendapatkan harga yang kompetitif, jaminan pasok, dan produk original Pertamina.
Mereka juga akan selalu diikutsertakan dalam program diskon dan promosi. Dan, mereka pun akan mendapat supervisi dari sales Pertamina Lubricants dalam penataan produk sehingga tampilan bengkelnya sesuai dengan standar bengkel resmi Pertamina Lubricants.
Dengan pencapaian ini, kini EEP telah menjadi salah satu program TJSL unggulan Pertamina yang mendapatkan dukungan dana CSR dari Pertamina (Persero). Dan untuk itu, ke depan EEP akan terus ditingkatkan agar lebih banyak lagi masyarakat yang dapat menerima manfaat. “Untuk tahun 2026, kami punya target menambah lagi sebanyak 160 bengkel,” Hardiyanto menandaskan.§