Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Danantara Untuk Garap Program Waste to Energy (WTE)
Sampah masih menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh Indonesia. Dari 343 kabupaten/kota di Indonesia pada 2024, timbulan sampah tercatat mencapai 38,2 juta ton, namun baru 34,74 persen yang terkelola.
Laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJPN 2025–2045 memproyeksikan, volume sampah nasional mencapai 63 juta ton pada 2025 dan meningkat menjadi 82,2 juta ton pada 2045.
Untuk mengatasi masalah sampah, pemerintah telah menginisiasi program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Danantara mendukung pelaksanaan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 dengan berinvestasi pada proyek waste-to-energy (WtE) dengan teknologi mutakhir.
Dalam Investment Forum 2025 akhir tahun 2025 lalu, Managing Director Investment Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, mengacu data Kementerian Lingkungan Hidup, program WtE dapat menyelesaikan 10 persen masalah sampah di Indonesia.
Berikut empat negara Asia yang sudah lebih dulu mengimplementasikan program WtE sebagai solusi mengelola sampah di perkotaan. Siapa saja negara tersebut dan bagaimana mereka mengolah sampah menjadi energi listrik bagi kebutuhan sehari-hari warganya?
1. Singapura
Negara yang memiliki keterbatasan lahan ini sudah memiliki tiga proyek WtE, salah satunya adalah Tuas South Incineration Plant yang menjadi fasilitas pengelolaan sampah terbesar di negara tersebut. Memiliki kemampuan mengolah 3 ribu ton sampah per hari, fasilitas ini mampu menghasilkan 80 megawatt (MW) listrik.
Proyek lainnya adalah TuasOne WTE Plant. Mulai dioperasikan pada 2021, fasilitas ini memiliki kapasitas membakar 3.600 ton setiap hari dengan menghasilkan 120 MW listrik. Fasilitas canggih ini juga menunjukkan bagaimana teknologi modern mampu mengolah sampah dengan emisi minimal yang dihasilkan. Berikutnya adalah Keppel Seghers Tuas. Pengelolaan WTE ini menampilkan model kemitraan antara publik-swasta yang sukses. Menangani 800 ton sampah setiap hari, fasilitas ini menghasilkan 22 MW melalui struktur pembiayaan yang cukup inovatif.
Pengelolaan sampah yang dilakukan Singapura ini telah mendemonstrasikan solusi efisien lahan untuk kota-kota padat seperti Jakarta dan Surabaya. Selain itu, model pembiayaan yang melibatkan peran swasta akan mengurangi beban yang terfokus pada pemerintah. Sebagai negara tetangga yang berada di kawasan tropis di Asia Tenggara, Singapura membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan secara baik dengan teknologi terkini akan bisa menjadi solusi bagi masalah di perkotaan.
2. Jepang
Jepang merupakan salah satu negara paling intensif dan terdepan dalam menjalankan proyek WtE di Asia, negara ini memiliki dua fasilitas WtE, yakni Hikarigaoka Plant dan Toshima Plant. Pada Hikarigaoka Plant yang berada di Tokyo, volume sampah yang diproses per harinya sebanyak 300 ton dengan turbin uap 9 MW. Pembangkit ini mampu menyediakan listrik dan kebutuhan pemanasan untuk distrik di kota Tokyo yang menjadi salah satu populasi penduduk terpadat di dunia.
Fasilitas WtE lainnya adalah Toshima Plant yang juga berada di Tokyo. Pengelolaan sampah di tempat ini memiliki kapasitas 400 ton per hari dan mampu menghasilkan listrik 7,8 MW serta membantu memasok listrik untuk 20.000 rumah.
3. Korea Selatan
Seperti halnya Jepang, Korea Selatan menjadi salah satu contoh yang mampu mengelola sampah perkotaan secara efektif dengan tingkat emisi yang rendah. Di negara ini, setidaknya ada lebih dari 35 pembangkit WtE termal beroperasi di bawah standar pengelolaan lingkungan yang ketat.
Korea Selatan memperlihatkan bagaimana pengelolaan sampah secara terintegrasi dalam bentuk jaringan mampu menjadi solusi sekaligus suplai kebutuhan listrik yang membuatnya telah mendapatkan respons publik secara positif.
Korea Selatan bersama Jepang menunjukkan keunggulannya dalam menangani aliran limbah dengan kadar air tinggi dan kandungan organik tinggi, yang hampir identik dengan komposisi limbah kota di Indonesia. Instalasi pengelolaan sampah yang ketat dan berada di kota-kota besar memberikan contoh langsung untuk konteks perkotaan seperti Indonesia.
4. Tiongkok
Tiongkok telah muncul sebagai pemimpin global dengan ratusan pabrik pengolahan limbah menjadi energi (WtE) yang tersebar di berbagai kota selama 15 tahun terakhir. Peluncuran cepat ini merupakan salah satu respons paling agresif di dunia terhadap lonjakan limbah perkotaan yang mampu memproses volume besar limbah padat kota untuk pembangkitan listrik.
Negara ini menunjukkanekonomi berkembang dapat menaikkan skala melalui komitmen pemerintah yang kuat, regulasi yang disederhanakan, dan mekanisme pembiayaan strategis. Beberapa pabrik dibangun secara bersamaan di berbagai kota, menciptakan efisiensi pengadaan dan manfaat transfer teknologi.
Tiongkok dengan populasi penduduknya yang tinggi dan laju urbanisasi yang besar telah membuktikan kepada dunia dan juga Indonesia bahwa semua itu bukan menjadi masalah dalam mengolah sampah. Sebaliknya, dengan perencanaan strategis Tiongkok mampu mengubah limbah sampah menjadi sumber energi listrik bagi kehidupan warganya.(*)