Profit Taking Saham Konglomerasi Picu Volatilitas IHSG, Cermati Saham AMRT, BBYB dan BMRI di Hari Ini

Ilustrasi pergerakan indeks sektoral saham di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Jumat (19/9/2025). Foto oleh Nadia K. Putri/SWA
Pergerakan indeks sektoral saham di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Jumat (19/9/2025). (Foto : Nadia K. Putri/SWA).

IHSG pada hari pertama pekan ini mencatat volatilitas yang tinggi, dengan pergerakan intraday yang sempat membawa indeks turun sekitar 2,5% ke level 8.715 sebelum akhirnya ditutup di 8.884,7. Aksi profit taking yang cukup agresif di beberapa saham komoditas yang dimiliki grup konglomerat, seperti BUMI dan DEWA, mendorong pelemahan indeks, setelah kedua saham tersebut terkoreksi sekitar 11–12% intraday sebelum berbalik rebound menjelang penutupan.

Dari sisi sentimen, kombinasi faktor global dan domestik berpotensi memicu koreksi yang lebih dalam pada IHSG, terutama mengingat indeks sudah mengalami penguatan yang relatif tajam dalam waktu singkat. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya solid.

“DEWA tetap menjadi salah satu saham rekomendasi kami. Hingga 9 Januari, saham ini telah menguat lebih dari 20% secara year to date, sehingga wajar jika aksi ambil untung muncul ketika volatilitas pasar meningkat,” kata analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto di Jakarta Selasa (13/1/2026).

IHSG pada 12 Januari 2026 ditutup melemah di 8.885 poin atau turun 0.58%. Secara struktur, indeks terkoreksi dari area atas kanal naik dan masuk konsolidasi jangka pendek, dengan eesistance 1 di level 8.925 poin dan resistance 2 pada 8.975 poin, sementara support ditopang support 1 pada 8.800 poin dan support 2 di 8.750 poin. Mirae Asset Sekurita merekomendasikan saham-saham ini pada perdagangan Selasa ini;

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) : buy on weakness, target price (TP) Rp2.040 (5,15%).

AMRT pada 12 Januari 2026 turun 0,77% di Rp1.940. Secara struktur, harga sedang koreksi dari area atas tren naik dan mendekati area demand jangka pendek. Level kunci berada di resistance Rp1.965 dan Rp1.990 (2.58%), Sementara sisi bawah ditopang support Rp1.905 dan Rp1.875. Investor wajib disiplin cut loss pada harga Rp1.870 jika harga breakdown support itu terealisasi.

PT Bank Neo Commerce (BBYB) : buy on weakness, TP Rp510 (8,05%).

BBYB pada 12 Januari 2026 ditutup di Rp472 atau turun 2,07%. Secara struktur, harga sedang pullback/koreksi jangka pendek pasca fase naik. Area kunci di sisi atas adalah resistance 1 di harga 492 atau potensi cuan sebesar 4,24% dan resistance 2 di Rp510 (8,05%). Sisi bawah ditopang support 1 pada harga Rp460 alias potensi loss sebesar 2,54% dan support 2 di Rp446 (minus 5,51%). Cut loss Rp444 menjadi batas disiplin bila terjadi breakdown di bawah support utama.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) : buy on weakness, TP Rp5.140 (7,76%).

Potensi kenaikan lebih lanjut mulai terlihat. BMRI pada perdangan Senin kemarin itu ditutup melemah di Rp4.770 (-0,21%). Harga saham BMRI sedang koreksi dari area atas tren naik dan mulai menguji zona demand jangka pendek di support Rp4.720 dan Rp4.650. Level rebound terdekat berada di resistance Rp4.830 (1,26%) dan Rp4.890 (2,52%). Cut loss Rp4.640 menjadi batas disiplin jika harga breakdown di bawah support utama. (*)

# Tag