Saham Perkapalan Diprediksi Jadi “Kuda Hitam” Investasi 2026–2027

Ilustrasi kapal. Saham sektor perkapalan diprediksi jadi "kuda hitam" yang patut diperhitungkan dalam investsi tahun 2026 sampai 2027. (Ist)

Di tengah fluktuasi pasar saham dan ketidakpastian ekonomi global, platform edukasi dan analisis investasi Mikirduit merilis riset terbaru mengenai proyeksi sektor yang berpotensi menjadi primadona pada periode 2026–2027. Hasil analisis mendalam Mikirduit menyoroti sektor perkapalan (shipping) sebagai instrumen investasi yang menarik untuk dicermati, terutama bagi investor berorientasi jangka menengah.

Founder dan CEO Mikirduit, Surya Rianto, mengungkapkan bahwa daya tarik sektor perkapalan tidak bisa dilepaskan dari siklus komoditas. Meskipun kinerja mayoritas emiten perkapalan hingga Kuartal III/2025 masih terlihat tertekan dari sisi pendapatan, justru di situlah Surya melihat adanya peluang bagi investor yang jeli.

Surya menjelaskan, kondisi harga komoditas yang saat ini relatif rendah mengindikasikan siklus berada di titik bawah (bottom). Secara historis, pemulihan siklus tersebut memakan waktu sekitar 1 hingga 3 tahun.

“Skema investasi di saham perkapalan ini menggunakan asumsi adanya potensi kenaikan permintaan komoditas saat produksi mulai melandai. Ketika harga komoditas bangkit, aktivitas produksi meningkat, dan permintaan kapal pun melonjak. Biasanya ada periode lagging (jeda waktu), sehingga saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai mengakumulasi sebelum momentum puncak terjadi pada 2026–2027,” ujar Surya Rianto dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Berdasarkan analisis fundamental yang ketat — dengan menyaring emiten berneraca sehat dan memiliki basis klien yang kuat — Mikirduit mengerucutkan pilihan pada beberapa nama besar yang dinilai memiliki valuasi murah namun prospek menarik.

Surya menekankan pentingnya diversifikasi klien untuk meminimalisir risiko. “Kami menyarankan investor melirik saham-saham yang tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas, tetapi memiliki diversifikasi klien yang kuat, mulai dari sektor energi, kertas, hingga nikel,” tambahnya.

Beberapa saham yang menjadi sorotan antara lain:

Samudera Indonesia (SMDR) dinilai menarik karena memiliki armada yang sangat terdiversifikasi — mulai dari peti kemas, tanker, hingga curah. Katalis positif dinilai dapat datang dari potensi beroperasinya Pelabuhan Patimban pada 2026 yang dapat mendongkrak volume angkut.

Pelayaran Nelly Dwi Putri (NELY) masuk radar karena fundamental yang solid, rasio utang yang sangat rendah, serta rencana ekspansi yang selektif. NELY juga memiliki basis klien yang beragam, dari industri pulp & paper hingga pertambangan nikel.

Trans Power Marine (TPMA), sebagai salah satu pemain tongkang terbesar dengan 120 armada, dinilai memiliki valuasi yang relatif murah. Rencana belanja modal (capex) sebesar US$118 juta dibaca sebagai sinyal optimisme manajemen terhadap pertumbuhan ke depan.

Soechi Lines (SOCI) dinilai menarik dari sisi ekspansi internasional. Langkah perseroan mendirikan anak usaha di luar negeri serta akuisisi kapal LNG membuka peluang pendapatan dari pasar global yang lebih luas, sekaligus menyeimbangkan fluktuasi pasar domestik.

Meski prospeknya dinilai cerah, Surya mengingatkan investor untuk tetap disiplin dalam menyusun strategi masuk. Mengingat beberapa harga saham telah mengalami volatilitas kenaikan, strategi buy on retracement (membeli saat terjadi koreksi wajar) dinilai lebih bijak.

“Kunci dari investasi di sektor siklikal seperti perkapalan adalah kesabaran dan timing. Kami membeli argumen masa depan di harga masa kini yang masih terdiskon,” tutup Surya. (*)

# Tag