Trio Raksasa Siap Picu Mega IPO 2026: OpenAI US$500 Miliar, SpaceX US$800 Miliar, Anthropic US$350 Miliar

Ilustrasi
Ilustrasi trio raksasa (OpenAI, Anthropic, Space-X) meroket untuk masuk pasar modal. (Ist)

Pada suatu titik, euforia teknologi selalu tiba di meja kasir. Setelah bertahun-tahun menjadi bahan perbincangan di ruang rapat modal ventura, panggung demo start-up, dan obrolan para insinyur yang mengukur dunia lewat GPU, kecerdasan buatan kini bergerak menuju tempat paling dingin dan paling jujur dalam kapitalisme: pasar publik.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, 2026 bisa menjadi tahun “mega IPO” — momen ketika AI tak lagi cukup memukau, melainkan harus memperlihatkan angka-angka yang tahan diuji.

Tiga Menuju Bursa

The New York Times (14/1/2026) menulis bahwa setidaknya tiga perusahaan teknologi bernilai paling tinggi dan paling disorot tengah mempersiapkan diri untuk melantai di bursa: OpenAI, Anthropic, dan SpaceX.

Mereka bukan sekadar calon emiten; mereka adalah simbol. OpenAI, wajah paling populer dari revolusi generatif; Anthropic, pesaing yang disebut-sebut paling dekat; dan SpaceX, perusahaan roket yang selama ini mengubah antariksa menjadi industri komersial, kini menambahkan “sudut AI” ke dalam narasinya.

Angka-angka yang beredar membuat narasi ini terasa seperti babak baru Silicon Valley. Anthropic disebut berada dalam pembicaraan pendanaan yang dapat menempatkannya pada valuasi sekitar US$350 miliar, OpenAI di kisaran US$500 miliar, dan SpaceX terakhir dinilai US$800 miliar.

Bahkan satu saja dari perusahaan-perusahaan ini akan masuk kategori IPO “peristiwa pasar” — sekelas debut yang mengubah mood investor global, seperti Saudi Aramco pada 2019.

Tetapi yang membuat 2026 tampak menarik bukan semata besarnya valuasi. Yang membuatnya penting adalah perubahan logika bisnis: AI kini makin mirip industri infrastruktur. Revolusi ini tidak berjalan dengan presentasi dan slogan, melainkan dengan pusat data, listrik, pendinginan, dan belanja modal yang nyaris tak punya jeda. Ketika kebutuhan modal menjadi sebesar itu, jalur menuju bursa bukan lagi sekadar opsi prestise, melainkan kebutuhan struktural.

Sinyal bahwa Anthropic memang mulai merapikan jalan menuju bursa juga diberitakan di media lain. Financial Times (3/12/2025) melaporkan perusahaan itu telah menggandeng firma hukum Wilson Sonsini untuk memulai persiapan IPO — jenis langkah yang biasanya diambil saat perusahaan mulai menata kepatuhan, audit, dan kesiapan prospektus. Reuters (3/12/2025) kemudian menguatkan laporan tersebut, seraya menekankan bahwa prosesnya masih dini dan belum berarti keputusan IPO sudah final.

Sementara itu, SpaceX bergerak lebih konkret. Perusahaan milik Elon Musk disebut telah mewawancarai bank-bank untuk memimpin IPO dan menyampaikan niat itu kepada para pemegang saham.

Yang menarik, SpaceX juga menekankan “angle AI”: bahwa dana hasil IPO, menurut laporan, akan digunakan untuk membangun pusat data AI di luar angkasa. Ini terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi justru di situlah kita bisa melihat cara sebuah perusahaan menyesuaikan diri dengan tema terbesar pasar: AI.

Reuters (10/12/2025) mencatat wacana pusat data berbasis antariksa makin sering dibahas sebagai salah satu kemungkinan baru di era kebutuhan komputasi yang melonjak.

OpenAI membawa cerita yang lebih rumit. Sepanjang 2025, OpenAI menjalani proses konversi dari nirlaba menjadi for-profit dengan tujuan menuju IPO. Sam Altman, CEO OpenAI, mengatakan dirinya “zero percent” antusias memimpin perusahaan publik, tetapi OpenAI perlu terus menghimpun dana lebih besar. Kalimat itu terasa seperti pengakuan jujur dari seorang pemimpin teknologi yang memahami satu kenyataan: AI modern adalah bisnis yang mahal, dan “mahal” dalam skala yang jarang dialami generasi start-up sebelumnya.

Namun jalur OpenAI tidak sesederhana “ubah struktur lalu IPO”. Perubahan struktur organisasi mereka menjadi bahan sorotan luas. Associated Press (5/5/2025) melaporkan OpenAI menegaskan bahwa entitas nirlaba akan tetap mengendalikan bisnis, sementara lengan komersialnya berformat public benefit corporation (PBC).

Penjelasan resmi OpenAI juga menggambarkan evolusi struktur ini sebagai upaya menyeimbangkan misi dan kebutuhan modal. Bagi investor publik, ini bukan sekadar detail legal; ini menyentuh pertanyaan yang lebih sensitif: siapa yang memegang kendali, dan bagaimana “misi” diterjemahkan ketika saham diperdagangkan setiap hari.

CEO Anthropic, Dario Amodei. (Foto: Karsten Moran/NYT)
CEO Anthropic, Dario Amodei. (Foto: Karsten Moran/NYT)

Industri Infrastruktur

Ada angka-angka yang menjelaskan mengapa kebutuhan modal OpenAI dan Anthropic terasa seperti mesin yang terus meminta bahan bakar. OpenAI disebut telah menghimpun lebih dari US$60 miliar pendanaan, sementara Anthropic setidaknya US$40 miliar dan sedang membahas tambahan US$10 miliar.

Laju bisnis mereka juga melesat: OpenAI disebut mencatat pendapatan US$13 miliar tahun lalu dan berharap melipatgandakan angka itu tahun ini. Anthropic, menurut pernyataan CEO Dario Amodei elah mencapai laju pendapatan tahunan US$8–10 miliar. Ini semua mengesankan, dan sekaligus mengundang pertanyaan yang hanya bisa dijawab lewat keterbukaan prospektus: seberapa tahan laju ini?

Sementara itu, sisi biaya terdengar seperti cerita industri berat. OpenAI berencana menghabiskan sekitar US$115 miliar sepanjang 2025–2029. Jika angka itu benar, maka kita tidak sedang membahas “start-up” dalam pengertian klasik. Kita sedang melihat perusahaan yang beroperasi seperti jaringan utilitas: harus membangun kapasitas sebelum permintaan benar-benar matang, dan harus terus meningkatkan skala agar tidak kalah dalam perlombaan komputasi.

Di luar itu, cerita “AI sebagai industri infrastruktur” juga semakin jelas. OpenAI dan SoftBank sama-sama berinvestasi pada proyek energi dan infrastruktur pusat data (Stargate), mengindikasikan bahwa strategi AI kini bersinggungan langsung dengan isu pasokan listrik dan ketahanan energi.

Reuters (10/12/2025) juga menulis rencana xAI untuk menggelontorkan investasi besar pada pusat data, memperlihatkan pola serupa: kompetisi AI ditentukan oleh siapa yang paling cepat membangun mesin komputasi.

Lalu, apa yang membuat semua ini terasa seperti momen penting bagi Silicon Valley? Karena IPO bukan hanya soal menghimpun dana; ia adalah mekanisme legitimasi, atau koreksi. IPO-IPO ini dapat mengakhiri perdebatan “gelembung AI” dengan cara paling konkret: membuka angka yang selama ini masih tertutup.

Investor menyebut ada “information gap” besar; prospektus dan laporan keuangan publik akan menjadi jendela yang memaksa pasar melihat apakah pertumbuhan, kontrak, dan struktur biaya benar-benar sekuat narasi panggung.

Namun momen “terbuka” itu juga datang bersama risiko reputasi. The New York Times sedang menggugat OpenAI dan Microsoft terkait dugaan pelanggaran hak cipta atas konten berita, dan kedua perusahaan membantah tuduhan tersebut. Menjelang IPO, perkara hukum dan tata kelola sering menjadi ganjalan valuasi. Tidak selalu menggagalkan rencana, tetapi bisa membuat investor meminta “diskon risiko” saat menentukan harga.

Ada pula dimensi yang lebih manusiawi: harapan orang-orang di dalam perusahaan. Ekspektasi karyawan start-up AI berubah drastis; mereka tidak lagi ingin menunggu tujuh atau delapan tahun untuk mencairkan opsi saham. Banyak yang berharap dua sampai tiga tahun. Dan jika OpenAI, SpaceX, serta Anthropic benar-benar melantai, ada estimasi yang menyebut IPO-IPO tersebut dapat mencetak lebih dari 16.000 jutawan baru; sebuah gelombang likuiditas yang biasanya menjadi bahan bakar siklus berikutnya di Silicon Valley.

OpenAI. (Foto: Dado Ruvic/Reuters)
OpenAI. (Foto: Dado Ruvic/Reuters)

Arus Balik

Tetapi setiap gelombang besar selalu punya arus balik. Terdapat juga skeptisisme investor pasar publik yang membandingkan perusahaan AI dengan era Facebook dan Google sebelum IPO: saat itu, mereka sudah terlihat sebagai mesin laba.

Perusahaan AI, dalam pandangan skeptis tersebut, masih tampak membakar uang dan terus membutuhkan pendanaan. Ini bukan komentar sinis; ini peringatan sederhana tentang karakter pasar publik: ia bisa merayakan pertumbuhan, tetapi ia juga menuntut jalan menuju profitabilitas, atau setidaknya jalan menuju efisiensi yang masuk akal.

Karena itu, jika 2026 benar menjadi tahun mega IPO, maka maknanya bukan hanya “Wall Street dapat pesta fee” atau “Silicon Valley dapat cash-out”. Maknanya lebih dalam: AI memasuki fase disiplin.

Di fase ini, narasi tidak lagi cukup. Yang akan menentukan adalah apakah perusahaan-perusahaan ini mampu menjelaskan mesin uangnya dengan cara yang dimengerti publik, di tengah belanja infrastruktur yang menggunung, ketegangan tata kelola, dan ekspektasi pertumbuhan yang nyaris tanpa ruang gagal.

Pada akhirnya, pasar publik akan menjadi cermin paling keras. Ia tidak menanyakan apakah AI “keren”. Mereka menanyakan: berapa pendapatan yang benar-benar berulang, seberapa mahal biaya untuk mempertahankan pertumbuhan, dan kapan bisnis ini berhenti hidup dari putaran pendanaan. Tahun 2026, jika jadi, adalah tahun ketika AI diminta menjawab itu semua; di depan dunia, dengan angka sebagai bahasa utamanya. (*)

# Tag