Duet Asro Nasiri–Kiwi Aliwarga Bawa Frogs Indonesia Eksis di Pasar Drone Pertanian dan Perkebunan
Pagi di pusat produksi Frogs Indonesia di Jl. Imogiri Barat Km 8, Bantul, Yogyakarta, terasa seperti ruang kerja yang sedang menunggu sesuatu yang besar datang. Wajah-wajah karyawan tampak cerah; ritme kerja hidup dan penuh optimisme.
Ada alasan kuat di balik suasana itu: divisi pemasaran mencatat lonjakan pesanan drone yang mencapai 2.000 unit di awal 2026 — melonjak tajam dibandingkan tahun 2025 yang hanya berada di kisaran 300 unit.
Sejajar Mesin Pertanian
Kenaikan permintaan itu ikut mengubah cara Frogs Indonesia, produsen drone untuk pertanian dan perkebunan memandang pasar. Mereka tak lagi semata bertumpu pada pengadaan pemerintah. Pelanggan justru datang dari spektrum swasta yang makin luas, khususnya sektor pertanian, perkebunan, dan agroindustri.
Deretan nama perusahaan besar telah menggunakan dan memesan drone produksi Frogs Indonesia. Di antaranya, PTPN, Sinar Mas, Rajawali Nusantara Indonesia, Direktorat PSP Kementrian Pertanian, Petrokimia Gresik, Gunung Madu Platation, Kawan Lama, hingga Astra Graphia Information Technology.
Di balik angka dan daftar pelanggan itu, ada satu temuan yang bagi Asro Nasiri, pendiri dan Direktur Utama Frogs Indonesia, terasa lebih penting daripada sekadar tren: mesin permintaan drone pertanian dan perkebunan ternyata juga digerakkan oleh jaringan ritel.
Menurut Asro, pasar drone pertanian buatan mereka ternyata tidak hanya digerakkan oleh pengguna akhir seperti petani besar dan perusahaan perkebunan. Toko-toko pertanian yang menjual mesin dan alat pertanian secara ritel ikut menjadi pembeli utama. Drone pertanian mulai diposisikan sejajar dengan mesin pertanian lainnya: alat kerja yang dianggap masuk akal untuk dimiliki, bukan sekadar teknologi mahal yang hanya bagus saat demo.
Salah satu pemain ritel terbesar yang ikut menangkap peluang ini adalah Toko Garda Tani, jaringan toko pertanian yang melayani petani skala kecil hingga besar. Masuknya drone spreader Sekar Agri buatan Frogs Indonesia ke kanal ritel Toko Garda Tani menandai pergeseran penting: drone mulai dilihat sebagai standar baru pengelolaan lahan modern.
Di atas kertas, harga yang bisa ratusan juta rupiah per unit memang premium. Namun kalkulasi lapangan membuatnya rasional: efisiensi, produktivitas, dan kecepatan kerja menjadi argumen yang lebih “berat” ketimbang angka di label harga.
Faktor Pembeda
Di pasar yang makin ramai drone impor — terutama dari China — Frogs Indonesia menemukan faktor pembeda yang justru paling sederhana, tetapi paling menentukan: kepastian penanganan saat masalah datang.
“Produk drone impor memang banyak beredar. Tapi ketika terjadi kendala teknis, penanganannya sering kali tidak mudah. Produk kami dibuat di dalam negeri, sehingga jika ada trouble bisa langsung ditangani,” ujar Asro.
Dia menegaskan perusahaan menyiapkan divisi khusus untuk perawatan, perbaikan, dan pendampingan teknis. “Kami memiliki divisi khusus yang melayani drone,” terang Asro, yang saat ini juga tengah menempuh program doktoral di Universitas Amikom Yogyakarta.
Kepercayaan pasar itu ikut dipertebal oleh status produk di level nasional. Pada 2025, Frogs Indonesia memperoleh sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 41,98 persen. Dengan TKDN tersebut, drone produksi Frogs Indonesia menjadi semakin kompetitif dalam pengadaan nasional dan masuk ke berbagai proyek strategis.
Kolaborasi Dua Sosok
Namun, kisah Frogs Indonesia menjadi menarik justru karena ia tidak berangkat dari drone pertanian. Asro menyebut perusahaan ini bermula dari inkubasi bisnis Universitas Amikom Yogyakarta, dengan fokus awal mengembangkan drone taksi udara. Prototipe drone penumpang berhasil diproduksi dan diuji coba.
“Kami sebenarnya sudah berhasil mengembangkan dan memproduksi drone untuk angkutan penumpang. Uji coba juga berjalan sukses, namun untuk produksi komersial masih terkendala regulasi,” jelas Asro, alumnus Universitas Gadjah Mada. Ketika jalur regulasi belum terbuka, arah perusahaan bergeser ke segmen yang lebih siap: drone pertanian dan drone komersial.
Di titik itulah, duet pendiri menjadi kunci. Frogs Indonesia berdiri pada 2018 dan lahir dari kolaborasi dua sosok dengan latar yang saling melengkapi: Harry Kasuma Aliwarga (Kiwi) dan Asro. Kiwi membawa insting bisnis global dan jejaring, sementara Asro menyiapkan fondasi teknologi dari pengalaman panjang di industri pesawat terbang.
Asro sendiri bukan tipe tokoh yang sering tampil di panggung publik. Tetapi di balik hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI), rekam jejaknya terentang di banyak proyek strategis, terutama di dunia avionics; jantung elektronik yang memungkinkan sebuah pesawat bernavigasi, berkomunikasi, dan bertahan dalam misi paling kritis.
Karier Asro bermula dari ruang lingkup avionics yang mencakup perangkat navigasi dan komunikasi; penugasan pertamanya langsung menyentuh proyek bersejarah: N250. Di proyek ini, dia dipercaya menangani Autopilot, sistem pengendali otomatis yang menentukan stabilitas dan presisi penerbangan.
Ketika mimpi N250 berhenti di tengah jalan, spektrum kerja Asro justru melebar. Ia dipindahkan ke CN235 dan ditempatkan di bagian mission system — pengembangan fitur khusus sesuai kebutuhan misi pelanggan.
Di ruang kerja seperti ini, tugasnya sangat beragam: menambahkan sistem kamera dan perangkat pendukung pencarian untuk CN235 SAR, mengerjakan integrasi sistem anti-rudal untuk pesawat VVIP, hingga ikut memodifikasi CN235 menjadi pesawat pembuat hujan (rain maker) atas pesanan BPPT. Setiap proyek menuntut solusi baru, sering kali belum pernah dikerjakan sebelumnya.
Tekanan teknis paling kompleks datang ketika ia terlibat dalam tim yang memodifikasi Sukhoi SU-30. Pesawat tempur itu datang tanpa sistem persenjataan. Asro dan timnya ditugaskan mempersenjatai platform tersebut: pekerjaan yang menyatukan teknologi Barat dan Timur dalam satu mesin. Pada periode yang sama, ia juga menangani modifikasi persenjataan helikopter Mi-35 yang saat itu berada di Bandara Ahmad Yani, Semarang, sementara Sukhoi masih dikerjakan di Madiun.
Jejak kerjanya tidak berhenti di dalam negeri. Asro pernah memodifikasi Boeing 737 dari pesawat penumpang menjadi pesawat surveillance untuk TNI Angkatan Udara, dengan pengerjaan di Maros, Makassar. Ia juga terlibat dalam pengembangan pesawat militer untuk Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) dan Pakistan, memperluas kontribusinya ke tingkat regional dan global.
Namun, dari sekian banyak proyek strategis, ada satu kisah yang paling sering dikenangnya, sekaligus paling unik. Antara 2003 hingga 2005, Asro diminta membuat sistem anti-rudal untuk pesawat VVIP Presiden Korea Selatan berbasis CN235. Suatu hari, ia dipanggil atasannya dan diberikan DVD film Air Force One yang dibintangi Harrison Ford, lalu diminta menonton adegan ketika pesawat kepresidenan Amerika diserang rudal.
Dalam adegan itu, Air Force One mendeteksi serangan melalui Radar Warning Receiver (RWR), lalu otomatis memicu Chaff & Flare Dispensing System untuk mengecoh rudal. Dari “modal” sebuah film itulah Asro diminta merancang sistem anti-rudal serupa untuk CN235, dengan tenggat satu tahun, dan harus ia kerjakan sendiri.
Tantangan itu dijawab dengan kerja sunyi, riset, dan eksperimen yang panjang. Sistem selesai, lalu diuji dalam acceptance test di Busan, Korea Selatan, dan dinyatakan berhasil. Di PTDI, ia mungkin tidak dikenal lewat penghargaan formal, tetapi punya “penghargaan” lain yang lebih mahal dalam dunia insinyur: kepercayaan — untuk ditempatkan pada proyek strategis, fitur baru, dan pekerjaan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Dua Disiplin
Di sisi lain, Kiwi Aliwarga membawa cerita ekspansi bisnis yang tak kalah agresif. Mantan karyawan Astra Internasional dan United Tractors ini mengawali bisnis di Myanmar melalui perdagangan alat berat; UMG Myanmar tumbuh hingga pada 2008 menguasai 70 persen pangsa pasar alat berat di negara tersebut.
Ekspansinya merambah Kamboja, Vietnam, dan Laos, lalu berkembang ke sembilan lini usaha dari food & beverage hingga edukasi. Pada 2014, ia mulai membaca umur pendek bisnis tradisional.
“Saya berpikir umur bisnis konvensional paling tinggal 15 tahun,” ujar lelaki yang kini menjadi Komisaris Utama Frogs Indonesia. Dari kesadaran itu ia mendirikan UMG IdeaLab, corporate venture capital yang fokus membina startup teknologi di Indonesia, Myanmar, dan Thailand.
Hingga kini, UMG IdeaLab telah membina 25 startup inovatif di Indonesia, Myanmar, dan Thailand, memberikan seed funding dan pendampingan strategis. Fokusnya jelas: menghadirkan solusi nyata melalui teknologi, sekaligus menjawab tantangan revolusi industri 4.0.
Kembali ke Frogs Indonesia. Dari luar, lonjakan pesanan drone pertanian Frogs Indonesia di awal 2026 mungkin terlihat seperti cerita tentang produk yang laris. Tetapi dari dalam, ia lebih mirip hasil pertemuan dua disiplin yang jarang akur: ketelitian dunia avionics dan naluri bisnis yang selalu membaca arah angin.
Dari Bantul, Frogs Indonesia membangun keyakinan sederhana di pasar yang keras: teknologi lokal bisa dipakai, bisa dirawat, dan bisa dipertanggungjawabkan — karena di baliknya ada orang-orang yang sudah terbiasa mengerjakan hal-hal yang, pada zamannya, bahkan belum pernah dilakukan. (*)