Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation Menggaungkan Budaya Merencanakan Pensiun Sejak Dini

Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”. (Sri Niken Handayani/SWA)
Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”. (Sri Niken Handayani/SWA)

PT Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation meluncurkan kampanye bertauk Pensiun Gak Susah. Tujuannnya untuk mendorong masyarakat merencanakan masa depan sejak dini agar dapat menikmati kehidupan yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna di usia pensiun.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2035 lebih dari 14% penduduk diperkirakan berusia di atas 60 tahun, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 20% atau sekitar 63 juta jiwa pada 2045. Perubahan ini menunjukkan pergeseran struktur penduduk yang signifikan seiring dengan menyusutnya bonus demografi.

“Perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan," ujar Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia, Mona Monika di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Sebagai bagian dari kampanye ini, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai referensi awal bagi masyarakat untuk merencanakan kebutuhan pensiun secara lebih menyeluruh dan terarah. Kalkulator ini dirancang untuk membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di usia pensiun.

Berdasarkan pantauan SWA.co.id, kalkulator tersebut memudahkan nasabah bisa mengatur rencana pensiun dan harapan umur. Kemudian nasabah diminta mengisi seperti apa gaya hidup pensiun yang diinginkan. Nasabah akan mengisi kebutuhan transportasi per bulan, Kebutuhan gaya hidup, Kebutuhan biaya liburan per tahun serta kebutuhan yang esensial.

Setelah itu, kalkulator akan menghitung biaya yang dibutuhkan saat pensiun. Setelah itu, akan dihitung dengan tabungan dan investasi yang telah dilakukan saat ini. Hasilnya, nasabah akan bisa melihat dana yang ditabung saat ini akan cukup saat pensiun atau masih kekurangan dana.

Founder & CEO serta Lead Financial Trainer di QM Financial, Ligwina Hananto, mengamati mayoritas orang itu cenderung menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal, penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan.

Persiapan pensiun dimulai di usia 20-an maupun 40-an, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup.

Ia mengungkapkan salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10:20:30:40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10% dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari.

Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menyampaikan bauran investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi itu memudahkan nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri.

Dia mencermati urgensi perencanaan pensiun yang menyeluruh ini juga tercermin dalam perubahan demografi global. Penemuan pada CIO Insights bertajuk Ekonomi Umur Panjang” mengungkapkan bahwa harapan hidup manusia meningkat secara tajam dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun di saat ini.

Lonjakan ini tidak hanya akan mendorong peningkatan pengeluaran untuk pengobatan penyakit terkait usia, tetapi juga memperkuat permintaan akan layanan kesehatan dan sistem pensiun yang lebih matang. "Perubahan tren ini membuka peluang strategis untuk mengembangkan silver economy, yaitu aktivitas ekonomi yang fokus pada pemenuhan kebutuhan sekaligus pemberdayaan kelompok lansia," tuturnya.

Ekosistem ini mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, dan transportasi, hingga teknologi dan gaya hidup, semuanya dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Kondisi ini menempatkan ekonomi lansia pada titik infleksi, didorong oleh kemajuan teknologi medis, aliran modal yang meningkat, serta tren penuaan populasi yang semakin nyata. Dengan potensi pasar bernilai triliunan dolar, ekonomi lansia ke depan menawarkan peluang investasi yang semakin relevan, strategis, dan menarik. (*)

# Tag