Ketuk Pintu, Bangun Sistem: Strategi Angkie Yudistia Menyalakan Inclusive Social Enterprise

Angkie Yudistia. (Foto: LSPR)
Angkie Yudistia. (Foto: LSPR)

Pada suatu titik dalam hidup, ada orang-orang yang tidak sekadar beradaptasi dengan keterbatasan, tetapi menjadikannya fondasi untuk merancang jalan hidup yang sama sekali baru.

Angkie Yudistia (38 tahun) adalah salah satunya. Ia tidak pernah memulai perjalanannya dengan narasi heroik. Yang ada justru rangkaian keterbatasan yang datang terlalu dini, memaksa seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun belajar memahami dunia dengan cara yang berbeda.

Pintu yang Terbuka

Perubahan itu bermula dari demam tinggi akibat malaria saat keluarganya tinggal di Indonesia Timur. Antibiotik yang menyelamatkan hidupnya justru merenggut pendengarannya. Sejak saat itu, Angkie hidup dengan alat bantu dengar di kedua telinga — dan dengan kesadaran bahwa hidupnya tidak akan pernah sepenuhnya sama.

“Ketika saya merasa satu pintu tertutup, saya menyadari masih banyak pintu lain yang terbuka,” ujar Angkie dalam acara BizzComm Podcast, kolaborasi SWA dengan LSPR Faculty of Business.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada proses panjang berdamai dengan diri sendiri, juga masa ketika ia sempat memusuhi dirinya sendiri karena merasa berbeda di tengah masyarakat yang belum siap menerima perbedaan.

Keterbatasan Angkie tidak berdiri sendiri. Ia bertumpuk dengan keterbatasan lain: aksesibilitas, fasilitas, komunikasi, hingga pengetahuan. Menjadi perempuan dengan disabilitas pendengaran di Indonesia pada masa itu bukan perkara mudah. Dunia sering kali menatapnya dengan rasa iba, bukan dengan ekspektasi.

Titik balik penting dalam hidupnya justru datang dari keputusan yang secara logika tampak kontradiktif. Angkie memilih kuliah komunikasi di LSPR. Ia masuk ke dunia yang secara inheren bertumpu pada kemampuan mendengar dan berbicara, dua hal yang secara fisik menjadi tantangannya.

Namun di kampus, ia menemukan ruang yang tidak sekadar mengajarkan teori, tetapi juga keyakinan. Para dosen tidak bertanya apa yang tidak bisa ia lakukan, melainkan apa yang bisa ia kembangkan di balik keterbatasan itu. Pendidikan, bagi Angkie, bukan sekadar jenjang akademik, melainkan pintu menuju keberanian.

Ia menyelesaikan S1, lalu S2, dan kini menempuh S3. Pendidikan menjadi jangkar yang membuatnya bertahan ketika dunia kerja belum sepenuhnya ramah. “Pendidikan itu yang membuat saya bertahan hidup,” kata Angkie, mengingat kembali masa-masa ketika ekspektasi sosial justru meragukan pilihannya untuk terus belajar.

Selepas lulus kuliah, realitas berbicara dengan nada yang lebih keras. Tidak semua perusahaan siap mempekerjakan penyandang disabilitas. Bukan karena niat buruk, melainkan karena sistem yang belum siap. Dunia kerja belum dirancang untuk keberagaman kebutuhan.

Dalam situasi itu, seorang dosen memberinya pertanyaan yang mengubah arah hidupnya: jika sulit mendapatkan pekerjaan, mengapa tidak menciptakan kesempatan sendiri? Angkie tidak pernah bercita-cita menjadi wirausaha. Ia melakukannya karena situasi, bukan ambisi.

Pada 2011, lahirlah Thisable Enterprise. Bukan sebagai proyek karitatif (belas kasihan), melainkan sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi penyandang disabilitas. Angkie meyakini satu hal mendasar: semua orang membutuhkan pertahanan hidup, dan ekonomi adalah salah satu fondasinya.

“Kalau dirasa kita bukan orang yang cerdas, kita harus disiplin. Konsisten itu kunci dari segala-galanya,” tuturnya. Konsistensi itu diwujudkan dalam hal-hal paling mendasar: mengetuk pintu, melakukan presentasi, membangun percakapan, dan menerima penolakan sebagai bagian dari proses.

Klien pertamanya justru datang dari BUMN, melalui pintu tanggung jawab sosial. Dari satu pintu yang terbuka itu, pintu-pintu lain perlahan mengikuti. Thisable Enterprise bertahan, tumbuh, dan menjadi ruang belajar kerja bagi banyak penyandang disabilitas yang kini bisa ditemui bekerja di berbagai sektor ritel dan layanan.

Staf Khusus Presiden

Tahun 2019 menjadi babak baru yang sama sekali berbeda. Angkie dipanggil untuk mengabdi di negara sebagai Staf Khusus Presiden Republik Indonesia bidang sosial sekaligus juru bicara. Peran itu menempatkannya di pusat kebijakan, di ruang di mana perubahan struktural bisa dirancang.

Sebagai penyandang disabilitas pendengaran, tantangannya berlipat. Namun ia tidak datang sendirian. Tim yang memahami kebutuhannya, teknologi yang membantu komunikasi, serta latar belakang komunikasi yang ia miliki menjadi modal penting menghadapi dunia pemerintahan dan media.

Dalam salah satu diskusinya dengan Presiden, Angkie menyampaikan pandangan yang lugas: tanpa kebijakan, upaya di tingkat akar rumput tidak akan cukup. Negara harus hadir sebagai pengungkit. Kepercayaan yang diberikan kepadanya menjadi tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.

Ia bekerja dengan pendekatan kolaboratif yang ia sebut sebagai pentahelix: akademisi untuk merancang blueprint, komunitas disabilitas sebagai subjek utama, pelaku usaha untuk keberlanjutan ekonomi, sektor swasta untuk akselerasi, dan media untuk membangun narasi publik.

Hasilnya tidak kecil. Dalam periode tersebut, lahir tujuh peraturan pemerintah, dua peraturan presiden, serta satu lembaga nasional yang secara khusus memperkuat ekosistem pemenuhan hak penyandang disabilitas. Angka-angka itu bukan sekadar administrasi, melainkan fondasi jangka panjang.

Angkie saat diperkenalkan sebagai Staf Khusus Presiden. (Foto: Wahyu Putro/ANTARA)
Angkie (dua dari kanan) saat diperkenalkan sebagai Staf Khusus Presiden, 21/11/2019. (Foto: Wahyu Putro/ANTARA)

Namun Angkie memahami satu hal penting: kebijakan hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya ada pada implementasi. Selepas purna tugas, ia kembali ke komunitas, berdiri sejajar dengan mereka yang sejak awal ia perjuangkan.

Inclusive Social Enterprise

Dari situlah Inclusive IDN lahir sebagai inclusive social enterprise. Fokusnya bergeser dari edukasi menuju implementasi berbasis produk dan digital. Angkie melihat peluang besar pada ekonomi digital, terutama bagi perempuan penyandang disabilitas yang kesulitan bekerja secara konvensional.

Model yang dibangun sederhana tetapi relevan: menjadikan mereka afiliator digital. Dengan ponsel, akun media sosial, dan sistem pendukung dari pusat, mereka bisa bekerja dari mana saja—tanpa harus meninggalkan ruang hidup mereka.

“Semua orang punya HP. Teknologi ini membuka kesempatan untuk bekerja dari mana saja,” kata Angkie. Baginya, digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan alat pemerataan kesempatan.

Produk-produk Inclusive IDN terus berganti, disertai storytelling yang dekat dengan pasar perempuan. Bukan karena segmentasi semata, tetapi karena Angkie percaya pasar perempuan bersifat luas dan berkelanjutan, dan selama ini kurang dilibatkan secara setara.

Tantangan tentu masih ada. Di sejumlah daerah, isu disabilitas masih dipahami sebagai charity, bukan sebagai hak. Bagi Angkie, perubahan cara pandang ini membutuhkan gerakan kolektif dan tokoh-tokoh lokal yang mau bergerak.

Ia juga belajar menjaga keseimbangan antara empati dan profesionalisme. Empati penting, tetapi tanpa sistem yang jelas, keberlanjutan sulit tercapai. Standar tetap harus dijaga, justru untuk melindungi semua pihak yang terlibat.

“Kalau kita mau sustainable, memang harus ada sistem,” ujarnya. Sistem yang adaptif, tidak bergantung pada satu figur, dan mampu mengikuti perubahan zaman, dari pergeseran generasi hingga cara kerja pasca-pandemi.

Mimpi yang Belum Terwujud

Di balik semua peran publik itu, Angkie tetap seorang istri dan ibu. Dukungan keluarga menjadi supersistem yang membuatnya mampu bertahan. Komunikasi, baginya, adalah inti dari semua relasi; di rumah maupun di bisnis.

Ia juga tidak menutup mata pada fase burnout yang sempat ia alami setelah lima tahun di pusat kekuasaan. Jeda menjadi ruang untuk kembali mengenali diri, membangun ulang relasi dengan keluarga, dan menyusun tujuan berikutnya.

Angkie Yudistia (kiri) pada acara BizzComm Podcast. (Foto: LSPR)
Angkie Yudistia (kiri) pada acara BizzComm Podcast. (Foto: LSPR)

Ketika ditanya tentang sepuluh tahun ke depan, Angkie menyebut satu mimpi yang belum terwujud: membangun lembaga pendidikan tinggi yang benar-benar inklusif bagi penyandang disabilitas. Bukan sekolah luar biasa, melainkan kampus yang setara.

Ia percaya, di balik setiap keterbatasan selalu ada potensi yang menunggu dikenali. Generasi berikutnya, menurutnya, akan melanjutkan perjuangan dengan cara yang mungkin berbeda, tetapi dengan semangat yang sama.

Di akhir percakapan, Angkie selalu kembali pada satu prinsip sederhana yang menjadi benang merah seluruh perjalanannya: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.” Bagi Angkie Yudistia, inklusivitas bukan slogan, melainkan kerja panjang yang menuntut konsistensi, keberanian, dan kesediaan untuk terus berdampak. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag