Di Era Algoritma, Investor “Old School” Ini Ditaksir Memberi Keuntungan Bersih bagi Investor Setara Rp320 Triliun pada 2025
Dalam satu dekade terakhir, industri hedge fund global bergerak ke arah yang sama: semakin cepat, semakin kompleks, semakin bergantung pada mesin. Model kuantitatif, sistem multi-strategi, dan perdagangan makro skala besar menjadi norma, seolah kecanggihan adalah syarat wajib untuk unggul.
Di tengah arus itu, menang lewat pemilihan saham secara konvensional tampak seperti menantang zeitgeist (jiwa zaman) industri. Tetapi justru di situlah cerita ini dimulai.
Disiplin Tinggi
Chris Hohn, pendiri TCI Fund Management yang berbasis di London, menutup 2025 dengan estimasi US$18,9 miliar (Rp320 triliun) keuntungan bersih bagi investornya.
Ini sebuah rekor keuntungan tahunan terbesar yang pernah dicatatkan sebuah hedge fund. Dalam survei tahunan Edmond de Rothschild/LCH, capaian itu menempatkan Hohn sebagai “pemenang tunggal” di tahun yang juga disebut sebagai tahun panen raya bagi 20 manajer hedge fund teratas (Forbes, 18/1/2026).
Yang membuat rekor ini terasa lebih tajam adalah caranya. Bukan karena TCI memiliki ribuan posisi lintas aset, melainkan karena portofolionya relatif terkonsentrasi — sebuah pendekatan yang sering dianggap berisiko dalam dunia manajemen dana modern. Namun, 2025 menunjukkan bahwa konsentrasi keyakinan ternyata dapat menghasilkan skala hasil yang ekstrem.
Di atas kertas, TCI mengelola sekitar US$77 miliar (Rp1.304 triliun) aset. Tetapi yang menarik bukan semata besarnya AUM (asset under management/dana kelolaan), melainkan komposisinya. Di pasar saham Amerika Serikat, misalnya TCI melaporkan nilai portofolio yang dibagi hanya ke segelintir emiten, dan sebagian besar bobotnya bertumpu pada nama-nama yang sudah mapan serta berskala global.
Logika konsentrasi ini sederhana namun menuntut disiplin tinggi: lebih baik memahami sedikit perusahaan secara mendalam ketimbang banyak perusahaan secara dangkal.
Pendekatan itu memaksa manajer dana mempertanggungjawabkan setiap kepemilikan, karena satu keputusan saja dapat menggerakkan kinerja keseluruhan. Dalam konteks TCI, kedalaman analisis dipertaruhkan sebagai pengganti diversifikasi yang luas. (Financial Times, 19/1/2026).
Di tahun 2025, sektor yang menjadi jangkar utama narasi TCI adalah kedirgantaraan. Ini bukan pilihan acak: pemulihan perjalanan udara, backlog pesanan pesawat, dan kebutuhan layanan mesin jet berjangka panjang menciptakan kombinasi yang jarang — permintaan kuat bersamaan dengan hambatan pasokan. TCI menempatkan diri pada pusat gelombang tersebut.
Di antara semua posisi, GE Aerospace menonjol sebagai taruhan terbesar. Ia lahir dari transformasi besar General Electric yang mengarah pada pemecahan konglomerasi menjadi entitas yang lebih fokus: Aviation (GE Aerospace), Healthcare, dan Energy (GE Vernova). Ketika struktur menjadi lebih “murni”, pasar lebih mudah memberi valuasi, dan sering kali memberi premi.
Dokumen spin-off GE menunjukkan bahwa rencana pembentukan tiga perusahaan publik diumumkan pada 2021, dengan eksekusi pemisahan Healthcare pada awal 2023 dan roadmap menuju pemisahan berikutnya. Bagi investor, rangkaian peristiwa ini membentuk cerita korporasi yang dapat dibaca sebagai pelepasan nilai: bisnis yang dulu tersembunyi dalam struktur besar menjadi lebih transparan, lebih terukur, dan lebih dapat diinvestasikan. ( Dokumen Spin-Off GE )
TCI memanfaatkan momen itu. Dalam catatan Forbes, GE Aerospace menjadi posisi tunggal terbesar TCI, dan sahamnya naik sekitar 85% pada 2025. Ketika mesin utama portofolio bergerak secepat ini, strategi konsentrasi Hohn berubah dari “berisiko” menjadi “berhadiah besar” — setidaknya untuk satu tahun yang sangat bersahabat.
Sementara itu, di Eropa, TCI juga memposisikan diri pada rantai pasok kedirgantaraan yang sama: Airbus dan Safran disebut sebagai dua nama yang ikut menguat lebih dari 40% sepanjang 2025. Dari sisi narasi bisnis, ini menarik karena menunjukkan konsistensi tesis: TCI tidak hanya bertaruh pada satu perusahaan, tetapi membangun posisi pada satu ekosistem industri yang sedang didorong oleh tren jangka panjang.
Rekor
Kemenangan TCI, bagaimanapun, terjadi di atas panggung industri yang sedang sangat menguntungkan. Riset Edmond de Rothschild/LCH menempatkan 2025 sebagai tahun ketika 20 manajer teratas menghasilkan sekitar US$115,8 miliar (Rp1.962 triliun) keuntungan bersih bagi investor.
Bahkan secara agregat, 2025 disebut sebagai tahun rekor bagi industri hedge fund: total keuntungan industri dikaitkan dengan kombinasi AUM yang tinggi, pasar ekuitas dan obligasi yang kuat, serta peluang trading makro yang besar. Dalam konteks ini, TCI bukan satu-satunya yang menang — tetapi ia menang paling besar.
Salah satu indikator paling kuat tentang “kembalinya” hedge fund adalah arus dana. Menurut Hedge Fund Research (HFR), sepanjang tiga kuartal pertama 2025, inflow industri mencapai sekitar US$71 miliar (Rp1.203 triliun), level terkuat sejak 2014, dan kuartal ketiga saja mencetak inflow terbesar sejak 2007.
HFR juga mencatat total aset kelolaan industri menyentuh sekitar US$4,98 triliun pada kuartal ketiga 2025, menandai rekor baru dan delapan kuartal pertumbuhan berturut-turut. Ini konteks penting untuk pembaca: ketika modal kembali deras, kompetisi kinerja meningkat, dan pemenang besar cenderung semakin disorot.
Dalam catatan Forbes, TCI menghasilkan imbal hasil bersih sekitar 27% pada 2025. Angka ini menjadi pusat pembuktian karena hedge fund sering dipersepsikan “kalah” dari indeks saat bull market; namun TCI justru tampil sebagai contoh bahwa pendekatan tertentu dapat menyamai, bahkan melampaui, hasil investor pasif pada tahun yang sama.
Forbes juga mengaitkan pembanding pasar: HFRI Fund Weighted Composite Index (rata-rata hedge fund) mencatat sekitar 12,6% pada 2025, sementara S&P 500 berada di kisaran 17,9%. Di atas konteks ini, 27% terlihat bukan sekadar bagus, melainkan unggul relatif terhadap dua pembanding paling sering disebut.
Namun inti cerita bukan sekadar return. Financial Times (FT) menyoroti bahwa Hohn mengedepankan perusahaan dengan “keunggulan kompetitif kuat” dan karakter seperti “natural monopolies” — yakni bisnis yang punya hambatan masuk tinggi dan posisi pasar yang sulit digoyang. Dari sudut pandang strategi, ini menegaskan TCI lebih dekat ke “high conviction long-term owner” ketimbang trader.
FT juga menekankan karakter organisasi TCI yang terpusat: berbeda dari banyak hedge fund modern yang terdesentralisasi lewat banyak PM (portfolio manager), TCI disebut tetap berada dalam model kepemimpinan tunggal yang sangat bergantung pada keputusan Hohn. Struktur ini membuat portofolio lebih koheren, sekaligus membuat “sidik jari” manajernya sangat jelas.
MarketWatch menambahkan warna penting: rekor US$18,9 miliar itu bahkan melampaui rekor sebelumnya yang sering dikaitkan dengan Citadel. Secara historis, TCI juga memperoleh posisi elit di daftar “paling menguntungkan sepanjang masa”.
Forbes mencatat total keuntungan bersih TCI sejak awal berdiri mencapai sekitar US$68,4 miliar (Rp1.158 triliun), yang mengangkatnya ke peringkat lima di survei Edmond de Rothschild/LCH. Ini menempatkan TCI dalam klub yang biasanya dihuni nama-nama yang jauh lebih tua dan jauh lebih besar.
Forbes juga menyebut bahwa TCI membukukan sekitar US$40 miliar (Rp677 triliun) keuntungan dalam tiga tahun terakhir; sebuah angka yang membantu publik melihat 2025 bukan sekadar “kebetulan satu musim”. Meski pasar memang mendukung, konsistensi tiga tahun membuat argumen bahwa TCI sedang berada pada fase strategi yang bekerja dengan baik.
Filantropi
Dimensi lain yang memberi warna pada kisah Hohn adalah filantropi. Forbes mengutip laporan tahunan TCI per 31 Maret 2025 yang menyebut dividen ke induk perusahaan serta donasi ratusan juta dolar, termasuk alokasi besar ke The Children’s Investment Fund Foundation yang berfokus pada iklim, kesehatan anak, dan hak reproduksi. Ini memperluas karakter tokoh dari sekadar investor menjadi figur dengan agenda nilai.
Di titik ini, narasi TCI menjadi menarik: uang, keyakinan, dan nilai sosial berada dalam satu garis cerita. Untuk pembaca bisnis, pertanyaannya bukan apakah filantropi mengurangi ketajaman investasi, melainkan bagaimana reputasi, agenda, dan posisi publik seorang manajer mempengaruhi relasinya dengan perusahaan portofolio — terutama jika ia dikenal sebagai investor yang vokal.
Namun dunia investasi selalu menuntut satu pertanyaan lanjutan: apa yang terjadi ketika kondisi berubah?
Ini adalah pertanyaan reflektif. Konteks industri dari HFR membuat pertanyaan itu semakin relevan. Ketika aset industri naik menuju rekor, arus modal masuk biasanya tidak hanya meningkatkan peluang, tetapi juga meningkatkan kerentanan terhadap sentimen kolektif. Dalam pasar yang mahal, fungsi lindung nilai dan manajemen risiko menjadi alasan utama investor kembali mempertimbangkan hedge fund.
Dalam kerangka ini, capaian TCI dapat dibaca sebagai puncak dari dua arus: bull market yang mengangkat aset berkualitas, dan strategi konsentrasi yang membuat TCI “beresonansi” dengan pemenang pasar. Tetapi puncak juga mengandung pertanyaan tentang daya tahan: strategi yang sangat terkonsentrasi bisa spektakuler saat benar, dan sangat menyakitkan saat salah.
Bagi pembaca Indonesia — baik investor ritel, manajer investasi, maupun pemilik bisnis — kisah ini menawarkan pelajaran tentang disiplin. Dalam ekosistem yang mudah tergoda oleh noise dan transaksi jangka pendek, TCI mengingatkan bahwa pemahaman mendalam atas bisnis inti, struktur industri, dan dinamika korporasi — seperti proses spin-off — dapat menghasilkan imbal hasil di atas rata-rata pasar tanpa perlu instrumen yang rumit.
Kisah GE juga memberi satu pelajaran strategis yang berguna untuk korporasi: restrukturisasi yang membuat perusahaan lebih fokus dapat memperjelas proposisi nilai dan menarik basis investor baru. Rangkaian dokumen investor dan filing GE menunjukkan bagaimana narasi pemecahan konglomerasi dibangun secara bertahap, dan bagaimana pasar kemudian memberi respons melalui re-rating valuasi.
Pada akhirnya, sejatinya Chris Hohn tidak menciptakan rumus baru. Ia mengoperasikan kombinasi yang terdengar sederhana, yakni: keyakinan tinggi, pilihan saham yang terfokus, dan keberpihakan pada bisnis dengan posisi dominan, tetapi mengeksekusinya pada skala yang sangat besar, di tahun ketika kondisi pasar memberi ruang bagi pemenang untuk melesat.
Ketika pasar masih berdentum, Chris Hohn tampak seperti penari yang tenang di tengah kerumunan yang berlari. Namun cerita investasi sejati selalu meminta bab berikutnya: bukan tentang seberapa tinggi lompatan saat musik keras, melainkan seberapa stabil pijakan saat musik itu suatu hari berhenti, dan di titik itulah reputasi hedge fund, pada akhirnya diuji. (*)