RI–Inggris Luncurkan Economic Growth Partnership, Fokus Energi Bersih hingga Ekonomi Digital

Indonesia dan Inggris melangkah ke babak baru hubungan bilateral melalui peluncuran Economic Growth Partnership. (Ist)

Pemerintah Inggris dan Indonesia meluncurkan Economic Growth Partnership atau Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi. Perjanjian strategis ini ditujukan untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara.

Kemitraan tersebut ditandatangani pada Senin (19/1/2026) oleh Menteri Koordinator Inggris untuk Bisnis dan Perdagangan, Peter Kyle, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey mengatakan, perjanjian itu merupakan bagian dari penguatan hubungan Indonesia–Inggris dalam format kemitraan strategis yang lebih mendalam. Ia menyebut, kemitraan strategis baru tersebut akan diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada pekan ini.

“Kami telah sepakat untuk meningkatkan kerja sama perdagangan kami di berbagai sektor prioritas, seperti energi bersih, ekonomi digital, infrastruktur, transportasi, pendidikan, dan kesehatan,” kata Jermey dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1/2026).

Menurut Jermey, melalui kemitraan ini kedua negara akan bekerja sama mengatasi hambatan non-tarif, mendukung pelaku ekspor, serta mendorong investasi dua arah yang lebih besar. Tujuannya adalah membuka peluang baru bagi dunia usaha dan memberi manfaat bagi perekonomian kedua negara.

Ia menambahkan, kerja sama ini dibangun di atas momentum yang sudah ada. Pada tahun lalu, Indonesia dan Inggris meneken kesepakatan di sektor maritim senilai £4 miliar (Rp91 triliun) yang dipimpin oleh perusahaan Inggris, Babcock.

“Jadi sekarang kita berupaya menciptakan peluang baru bagi bisnis dan memberikan manfaat bagi kedua ekonomi kita. Diplomasi, kolabrasi, dan prestasi,” jelas Jermey.

Jermey juga menyampaikan Prabowo dan Starmer berkomitmen meluncurkan Kemitraan Strategis yang mencakup empat pilar, yakni pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi (yang menjadi prioritas kedua pemimpin), masyarakat dan sosial, serta iklim, energi, dan alam.

Ia menilai Inggris memandang Indonesia sebagai mitra penting. Jermey menyebut Indonesia saat ini merupakan ekonomi terbesar ke-16 di dunia, sementara Inggris terbesar keenam. Namun, Indonesia masih menjadi pasar ekspor terbesar ke-54 bagi Inggris.

“Itulah mengapa kami mengadakan acara bisnis tingkat tinggi yang dihadiri oleh Presiden, dan mengapa Presiden dan Perdana Menteri akan meluncurkan kemitraan pertumbuhan ekonomi antara kedua negara kita,” ungkap Jermey.

Dalam rangkaian kunjungan kenegaraan di Inggris, Jermey mengatakan Prabowo juga akan bertemu Raja Charles III. Selain itu, Prabowo dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan para wakil rektor universitas-universitas terkemuka Inggris yang tergabung dalam Russell Group untuk membahas potensi pembukaan kampus Russell Group di Indonesia.

Prabowo, lanjut Jermey, juga akan bertemu pelaku bisnis Inggris, sejumlah organisasi, serta investor Indonesia yang menilai Inggris sebagai pasar potensial. Presiden juga akan menghadiri agenda konservasi yang membahas dukungan pemulihan mata pencaharian dan kehidupan sosial masyarakat di Aceh, Sumatra, sekaligus mendukung inisiatif konservasi gajah.

“Presiden juga akan berdiskusi dengan lembaga filantropi mengenai pembiayaan jangka menengah dan panjang untuk inisiatif-inisiatif tersebut serta untuk taman nasional Indonesia yang indah dan kaya keanekaragaman hayati secara berkelanjutan,” ungkap Jermey. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag