LPEM UI Ungkap Tiga Faktor Utama Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

LPEM UI Ungkap Tiga Faktor Utama Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Teller menghitung uang dolar AS di banking hall salah satu bank di Jakarta.(TRIBUNNEWS/HERUDIN)

LPEM FEB UI memaparkan selama sebulan nilai tukar rupiah turun signifikan.

NILAI tukar rupiah anjlok ke level Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa, 21 Januari 2025. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memaparkan selama sebulan nilai tukar rupiah turun signifikan.

Mata uang rupiah makin mendekati Rp 17.000 per dolar AS dan telah melemah terhadap dolar pada periode pertengahan Desember 2025 sampai pertengahan Januari 2026. Padahal di periode tersebut modal asing masuk ke pasar keuangan dalam negeri mencapai mencapai sekitar US$ 1,49 miliar, terdiri dari US$ 0,56 miliar masuk ke obligasi pemerintah dan US$ 0,94 miliar ke saham.

“Meskipun terjadi arus masuk bersih ke pasar keuangan Indonesia, Rupiah melemah sebesar 1,16 persen (month to month) antara pertengahan Desember 2025 dan pertengahan Januari 2026, dari Rp 16.685 per US$ menjadi Rp 16.880 per US$,” demikian dipaparkan dalam publikasi Seri Analisis Makroekonomi LPEM FEB UI yang dirilis Selasa, 20 Januari 2026.

Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menjelaskan setidaknya ada tiga penyebab dolar AS menguat sedangkan rupiah makin melemah. Pertama, dolar AS menguat setelah data tenaga kerja AS yang dirilis awal Januari 2026 lebih baik dari perkiraan. Sehingga meningkatkan ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Kedua, ketidakpastian geopolitik setelah operasi militer AS di Venezuela pada awal Januari yang diyakini berkontribusi pada peningkatan permintaan safe haven terhadap dolar AS. Terakhir, dipengaruhi faktor domestik yakni kekhawatiran terhadap posisi fiskal Indonesia semakin meningkat.

Defisit anggaran 2025 dilaporkan melebar menjadi sekitar 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB). Lebih besar dari proyeksi sebelumnya dan mendekati batas maksimal dalam undang-undang yakni 3 persen. Di satu sisi pendapatan pajak yang lebih lambat dari perkiraan juga berkontribusi pada defisit tersebut.

Membengkaknya defisit menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan fiskal dan bertepatan dengan periode arus keluar pasar obligasi, terutama pada obligasi pemerintah bertenor panjang. Karena beberapa investor mengevaluasi ulang risiko dan menyesuaikan portofolio mereka. “Faktor-faktor global dan domestik ini membantu menjelaskan mengapa Rupiah melemah meskipun arus portofolio tetap positif selama periode ini,” ucap Riefky.

Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah membaik seiring perbaikan ekonomi domestik. “Kalau rupiah kan saya enggak bisa ngomong, urusan Bank Sentral. Tapi begini, kalau nanti ekonominya membaik terus, harusnya rupiah akan menguat juga, hampir otomatis,” ucapnya pada 14 Januari lalu.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea menyatakan beberapa faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah meningkatnya tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju.

Faktor lain adalah ketidakpastian arah kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun.

Meskipun demikian, pelemahan ini dinilai masih wajar karena selaras dengan tren mata uang regional lainnya yang juga terdampak sentimen global. Di antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen.

Sumber: Tempo.co

# Tag