Agincourt Resources, Anak Usaha United Tractors (UNTR), Belum Terima Rincian Keputusan Pemerintah
Anak usaha United Tractors Tbk (UNTR), PT Agincourt Resources menyampaikan bahwa perusahaan mengetahui pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP) oleh Satuan Tugas Penerbitan Kawasan Hutan (Satgas PKH). Namun, perusahaan enggan berkomentar lebih lanjut.
“Hingga saat ini Perseroan belum bisa memberikan komentar lebih lanjut mengingat Perseroan belum menerima pemberitahuan resmi dan mengetahui secara detail terkait keputusan tersebut,” tegas Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono pada keterangan resmi yang diterima SWA.co.id di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Meskipun demikian, perusahaan menghormati keputusan pemerintah atas pencabutan IUP tersebut. Agincourt Resources juga meminta pemerintah agar tetap menjaga hak perusahaan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
“Perseroan senantiasa menjunjung tinggi prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dan berkomitmen penuh untuk mematuhi seluruh peraturan,” tutup Katarina dari keterangan resmi tersebut.
Beberapa bulan sebelumnya, Agincourt Resources menyampaikan hasil eksplorasi di daerah Sibolga, Sumatra Utara pada periode Oktober-Desember 2025 mencapai US$730.980 atau Rp12.166.632.548. Sepanjang kuartal IV/2025, biaya kegiatan eksplorasi perusahaan mencapai US$313.618 atau Rp5.218.603.520 pada Oktober 2025.
Sedangkan pada November 2025, biaya eksplorasi menembus US$406.812 atau Rp6.770.978.928. Pada Desember 2025, biaya kegiatan eksplorasi membengkak US$10.550 atau Rp177.050.100.
Ketika banjir di Sumatra Utara terjadi pada awal Desember 2025, PT Agincourt Resources yang mengoperasikan Tambang Martabe, mengeklaim tidak terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan. Namun, perusahaan menghentikan sementara operasinya mulai 6 Desember 2025 untuk mendistribuskan bantuan kemanusiaan dan tanggap darurat bencana.
Induk usaha Agincourt Resources, yaitu United Tractors, belum berkomentar terkait hal ini. Saat penutupan perdagangan saham UNTR sore ini, harga saham UNTR terkoreksi 14,93% ke Rp27.200, atau turun 4.775 poin, melansir dari aplikasi IDX Mobile pada pukul 16.12 WIB.
Kapitalisasi pasar UNTR menembus Rp101 triliun, dengan volume transaksi sebanyak 46,18 juta saham. Nilai transaksinya mencapai Rp1,26 triliun, dengan frekuensi transaksi sebanyak 36.910 saham.
Secara year-to-date, harga saham UNTR anjlok hari ini dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Aplikasi IDX Mobile mencatat, harga saham UNTR di awal Januari 2026 bertengger di Rp30.100 saat 2 Januari 2026.
Kemudian, harga saham UNTR masuk ke titik kenaikan di minggu berikutnya ke Rp31.500 pada 9 Januari 2026. Namun, titik penurunan saham UNTR mulai terjadi pada tanggal 15 Januari 2026 ke Rp31.050. Setelah itu, harganya meluncur signifikan ke Rp27.200 pada 21 Januari 2026.
Koreksi ini juga termasuk signifikan dalam periode satu tahun, tetapi tidak sedalam pada Februari 2025. Sebab pada 21 Januari 2025, saham UNTR di Rp25.700. Anjloknya harga saham emiten perindustrian tersebut terus berlanjut hingga 28 Februari 2025 dan 30 Juni 2025, masing-masing ke Rp22.350 dan Rp21.450.
Beberapa bulan berikutnya, harga saham UNTR menunjukkan pemulihan pada 30 September 2025 ke Rp26.775. Setelah itu perlahan merangkak naik ke Rp26.900 pada 31 Oktober 2025. UNTR pun mencapai harga tertinggi di tahun tersebut ke Rp29.500 pada 30 Desember 2025, meski tidak setinggi di Rp33.850 31 Oktober 2022, dalam periode 5 tahun.(*)