Wakil Inggris Terlempar dari 4 Besar Klub Berpendapatan Tertinggi versi Deloitte: Real Madrid–Barca Perkasa
Di puncak piramida uang sepak bola Eropa, musim 2024–25 memberi satu pesan yang makin sulit dibantah: dominasi finansial tidak lagi otomatis milik Inggris, kendati English Premier League disebut-sebut sebagai liga terbaik di muka bumi.
Dominasi Madrid
Deloitte dalam Football Money League terbarunya yang membuat daftar "Rich List", menempatkan Real Madrid sebagai klub berpendapatan tertinggi dunia untuk tahun ketiga beruntun — dan untuk ke-15 kalinya dalam 21 musim — dengan torehan £975 juta (Rp22,1 triliun). Barcelona menyusul di posisi kedua, £819 juta (Rp18,6 triliun). (Lihat: Laporan Deloitte )
Yang menarik, lonjakan pendapatan Liverpool — yang menjadi klub Inggris kedua yang mencapai £702 juta (Rp15,9 triliun) saat melaju ke gelar Premier League — hanya cukup untuk menempatkan mereka di peringkat kelima dunia. Bahkan, untuk pertama kalinya dalam 29 tahun sejarah laporan Deloitte tersebut, tidak ada klub Inggris di empat besar.
Liverpool berada di peringkat kelima, melonjak dari posisi kedelapan pada musim 2023–24. Kenaikan ini tidak hanya didorong oleh keberhasilan tim asuhan Arne Slot di lapangan, tetapi juga oleh semakin banyaknya konser yang digelar di Stadion Anfield, menghadirkan artis-artis seperti Taylor Swift, Dua Lipa, dan Bruce Springsteen.
Marco D’Elia, Assistant Director di Deloitte Sport Business Group, menegaskan bahwa ini merupakan pertama kalinya Liverpool memuncaki peringkat pendapatan Premier League.
“Performa kuat Liverpool didorong oleh kinerja di lapangan, pendapatan dari Liga Champions, serta kenaikan 7 persen pada pendapatan komersial mereka,” ujar D’Elia.
“Peningkatan tersebut berasal dari fokus yang lebih besar pada aktivitas non-pertandingan di Anfield, termasuk konser Taylor Swift dan berbagai acara korporasi," dia melanjutkan. (Baca: The Guardian)
Namun, Deloitte (dan The Athletic, 22/1/2026) mengingatkan: daftar ini sering dilabeli “klub terkaya”, padahal itu istilah yang bisa menyesatkan. Pendapatan besar tidak otomatis berarti laba. Biaya operasional, termasuk gaji pemain, amortisasi, beban pertandingan, hingga pembiayaan stadion, dapat memakan pendapatan paling gemuk sekalipun.
Dari 10 klub dalam daftar 20 besar yang telah mempublikasikan laporan keuangan penuh untuk musim 2024–25, empat klub mencatat rugi sebelum pajak.
Barcelona adalah contoh tepat tentang paradoks ini: pendapatan mereka meroket hingga £819 juta, tetapi tetap berakhir pada defisit sebelum pajak £7 (Rp158 miliar) juta. Angka pendapatan tersebut juga mencakup £60 juta (Rp1,3 triliun) pemasukan “sekali jalan” dari penjualan lisensi kursi pribadi berdurasi 30 tahun di Camp Nou yang direnovasi: pemasukan yang pada dasarnya tidak dapat diulang selama tiga dekade.
Ada catatan metodologis penting: Deloitte hanya bisa memasukkan klub yang menyediakan data. Karena itu, dalam laporan lengkap (30 klub), nama Nottingham Forest dan Fulham tidak muncul. Bukan karena performa pendapatan mereka tak layak, tetapi karena tidak memberikan data yang dibutuhkan (Forest juga absen tahun lalu).
Pendapatan Komersial Mengalahkan Siaran
Jika satu tren perlu digarisbawahi untuk pembaca bisnis, itu adalah pergeseran mesin uang utama. Musim 2024–25 menjadi tahun ketiga berturut-turut di mana pendapatan komersial menjadi segmen pendapatan terbesar bagi klub-klub teratas — sesuatu yang dulu lebih sering didorong oleh uang TV. Total pendapatan komersial 20 klub teratas mencapai £4,46 miliar (Rp101,2 triliun), naik dari £4,2 miliar (Rp96,7 triliun) setahun sebelumnya.
Dan pertumbuhan itu makin terkonsentrasi pada “yang sudah kaya”. Dari kenaikan £261 juta (Rp5,9 triliun) pendapatan komersial antara edisi tahun ini dan edisi sebelumnya, £226 juta (Rp5,1 triliun) berasal dari klub-klub yang berada di 10 besar saat ini. Dengan kata lain: skala melahirkan skala.
Di sektor komersial, Real Madrid mencatat angka yang begitu besar untuk industri olahraga: £499 juta (Rp11,3 triliun) hanya dari komersial. Barcelona menyusul £439 juta (Rp9,9 triliun) dan menjadi satu-satunya klub lain yang menembus £400 juta (Rp9 triliun).
Di bawahnya: Bayern Munich £388 juta (Rp8,8 triliun), Manchester City £343 juta (Rp7,7 triliun), Manchester United £333 juta (Rp7,5 triliun), PSG £308 juta (Rp6,9 triliun), Liverpool £307 juta (Rp6,9 triliun). Sementara empat klub di 20 besar bahkan menghasilkan kurang dari £100 juta (Rp2,2 triliun) dari aktivitas komersial.
TV Bukan Lagi Raja Tunggal
Meski “disalip” komersial, pendapatan siaran masih raksasa: total £3,95 miliar (Rp89,6 triliun) pada skala 20 klub teratas. Real Madrid memimpin dengan £281 juta (Rp6,4 triliun), diikuti Manchester City £278 juta (Rp6,3 triliun), serta Arsenal £273 juta (Rp6,2 triliun) dan Liverpool yang meraup £269 juta (Rp6,1 triliun).
Poin pentingnya bukan sekadar nominal, melainkan korelasinya dengan performa. Deloitte menegaskan performa di lapangan tetap menjadi pengungkit utama untuk naik peringkat, apalagi di era turnamen klub Eropa dan internasional yang makin padat dan bernilai.
Dalam konteks ini, Piala Dunia Antarklub FIFA versi baru menjadi faktor yang membantu sejumlah klub — terutama sang juara (Chelsea). Bahkan disebutkan, pendapatan tahunan Chelsea akan turun bila tanpa “bounty” (tambahan pemasukan) dari turnamen musim panas yang digelar di Amerika Serikat itu.
Ketergantungan pada uang siaran, bagaimana pun, juga berisiko. Aston Villa, West Ham United, Benfica, dan Inter mengandalkan pendapatan siaran lebih dari 50% dari total pendapatan musim 2024–25.
Villa bahkan menjadikan TV sebagai 63,7% dari total pendapatan — yang membuat mereka rentan ketika prestasi Eropa berubah: pada 2025–26 mereka tidak mengulang perjalanan sampai perempat final Liga Champions, karena kini bermain di Liga Europa yang kurang menguntungkan.
Matchday: Stadion Jadi Agenda Besar
Di sisi “matchday”, ada cerita lain: empat klub Inggris (Villa, Arsenal, Manchester United, Tottenham) mencatat kenaikan lebih dari £20 juta (Rp453 miliar). Arsenal, dengan £154 juta (Rp3,4 triliun) pendapatan matchday, meningkatkan pemasukan Emirates lebih dari £50 juta (Rp1,1 triliun) hanya dalam dua musim.
Namun klub yang pertumbuhannya kecil atau negatif justru memantik alarm bisnis. Manchester City, Newcastle, dan West Ham mencatat pendapatan matchday lebih rendah dari setahun sebelumnya; Chelsea naik £7 juta (Rp158 miliar) namun tetap hanya peringkat ke-10 untuk pendapatan gerbang.
Empat klub ini memiliki benang merah: isu stadion. City memperluas Etihad, Newcastle masih “menggantung” soal St James’ Park, West Ham menghadapi isu kursi kosong dan boikot, sementara masa depan Chelsea di Stamford Bridge belum pasti.
Inggris Tetap Kuat
Apakah absennya klub Inggris dari empat besar berarti Premier League kehilangan “tahta uang”?
Deloitte melihatnya lebih sebagai sinyal bahwa performa lapangan, dinamika kompetisi Eropa, dan kapasitas komersial kini membentuk peta baru. Liverpool tertinggal kurang dari £1 juta (Rp22,6 miliar) dari PSG di posisi keempat; Manchester City dan Arsenal juga berada dalam jarak £10 juta (Rp226,9 miliar) dari angka £700 juta (Rp15,8 triliun).
Di saat yang sama, pergeseran peringkat Manchester United ikut menjelaskan perubahan lanskap. Klub yang lama “langganan” lima besar itu turun ke peringkat kedelapan, setelah pertumbuhan pendapatannya dinilai berjalan lambat sehingga memberi ruang bagi pesaing untuk menyalip.
Sementara PSG yang turun dari peringkat ketiga ke keempat juga menghadapi rapuhnya posisi bila mesin komersial melemah — mereka mencatat penurunan pendapatan komersial, dan posisinya akan lebih tertekan tanpa keberhasilan di Liga Champions.
Di sisi lain, Real Madrid dipotret sebagai “juggernaut” (kekuatan raksasa) dalam urusan pendapatan; Barcelona berharap renovasi Camp Nou akan menguatkan daya hasil mereka ke depan.
Sinyal Disiplin Biaya
Di tengah eskalasi pendapatan, laporan Deloitte juga menangkap sinyal disiplin biaya. Dari 18 klub yang muncul di daftar tahun ini dan tahun lalu, 13 klub menurunkan proporsi beban gaji terhadap pendapatan. Total rasio gaji terhadap pendapatan (19 klub yang menyediakan data gaji; Stuttgart tidak) berada di 55,5%, turun 5 poin persentase dari setahun sebelumnya.
Penurunannya didorong pendapatan gabungan yang naik dari £9,4 miliar (Rp213 triliun) menjadi £10,2 miliar (Rp231,5 triliun), sementara total gaji stagnan di £5,7 miliar (Rp129,3 triliun).
Dalam estimasi beban gaji yang diekstrapolasi, PSG disebut meraih gelar Liga Champions pertama dengan skuad bergaji tertinggi di Eropa meski memangkas sekitar £120 juta (Rp2,7 triliun) dari beban gaji 2024–25.
Liverpool juga menembus tonggak baru: musim juara Premier League membuat beban gaji mereka melampaui £400 juta (Rp9 triliun) untuk pertama kalinya, sekitar £421 juta (60% dari pendapatan), sekaligus menjadi klub Inggris ketiga yang melewati ambang itu dalam beberapa musim terakhir.
“Rich List” adalah Headline
Pada akhirnya, daftar Deloitte mencatat rekor simbolik: untuk pertama kalinya, 20 klub teratas menghasilkan gabungan pendapatan lebih dari £10 miliar (Rp226,9 triliun).
Tetapi cerita bisnisnya tidak berhenti pada angka pendapatan. Separuh dari 20 besar berpartisipasi di Piala Dunia Antarklub — pemasukan yang tidak akan terulang setidaknya empat musim sampai edisi berikutnya. Dan beberapa klub tetap merugi pada 2024–25, dengan risiko jumlahnya bertambah.
Bagi pembaca bisnis, pelajaran yang paling relevan mungkin sederhana: pendapatan tinggi adalah daya tarik, tetapi kesehatan finansial ditentukan oleh struktur biaya, kualitas pendapatan (berulang vs satu kali), dan ketahanan model bisnis ketika performa lapangan naik-turun.
Artinya, daftar “meraup pendapatan tertinggi” memang memikat. Namun, seperti perusahaan di sektor mana pun, itu baru satu sisi dari neraca. Baru headline. Masih banyak faktor yang membuat apakah satu klub itu benar-benar mencetak laba.
Ngomong-ngomong, klub favorit Anda ada di peringkat berapa dalam urusan mencetak pencapatan? (*)
Sumber: diolah dari The Athletic dan The Guardian
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.