Prospek Investasi Saham Obligasi dan Multi Aset di Asia 2026 dari Manulife Investment Management

Ilustrasi pergerakan indeks sektoral saham di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Jumat (19/9/2025). Foto oleh Nadia K. Putri/SWA
Ilustrasi pergerakan indeks sektoral saham di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Jumat (19/9/2025). (Foto oleh Nadia K. Putri/SWA)

Manulife Investment Management (MIM) merilis outlook pasar dan investasi Asia untuk paruh pertama 2026. Dalam pandangan mereka, lanskap ekonomi global kini lebih mudah dibaca, arah kebijakan pemerintah cenderung lebih terbuka, dan Asia tetap berada dalam posisi kuat sebagai sumber pertumbuhan sekaligus diversifikasi bagi investor.

Seiring inflasi yang mulai menurun dan kebijakan moneter yang bergerak lebih longgar, MIM menilai situasi saat ini lebih kondusif untuk mengambil risiko secara selektif — baik di pasar saham, obligasi, maupun portofolio multi-aset di Asia.

Memasuki awal 2026, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan tetap stabil. Pendorongnya antara lain penurunan suku bunga yang berlangsung bertahap, kinerja korporasi yang relatif kuat, serta investasi yang terus mengalir ke tema-tema peningkatan produktivitas seperti kecerdasan buatan dan digitalisasi.

Meski demikian, risiko geopolitik dan tantangan fiskal di negara-negara maju masih membayangi. Dalam konteks tersebut, Asia dinilai tetap menarik karena ditopang permintaan domestik yang kuat, ruang kebijakan yang lebih fleksibel, serta reformasi struktural yang terus memperkuat daya tarik investasi jangka panjang.

Yuting Shao, Senior Global Macro Strategist, menilai kondisi makro global semakin seimbang seiring pasar bergerak melampaui volatilitas ekstrem beberapa tahun terakhir. Menurutnya, pada 2026, arah makroekonomi global tampak lebih mudah diprediksi dibanding sebelumnya.

“Inflasi mulai turun di banyak negara besar, sehingga bank sentral dapat kembali fokus mendorong pertumbuhan ekonomi daripada hanya menahan kenaikan harga. Walaupun ketidakpastian kebijakan dan risiko geopolitik masih ada, arah kebijakan moneter kini lebih mudah diprediksi. Hal ini menciptakan lingkungan yang lebih positif bagi investor, baik secara global maupun di Asia,” katanya di Hong Kong, Kamis (22/1/2026).

Shao menambahkan, Asia berada dalam posisi yang kuat untuk memanfaatkan pelonggaran kebijakan moneter, potensi pelemahan dolar AS, serta faktor pertumbuhan domestik yang beragam di masing-masing negara. Siklus ekonomi Asia juga dinilai berbeda dari negara-negara maju, dan perbedaan ini terus membuka peluang investasi baru.

Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions sekaligus Senior Portfolio Manager dan Head of Multi-Asset Solutions Asia, mengatakan MIM tetap optimistis terhadap aset berisiko, namun dengan kehati-hatian moderat. Ia menekankan pentingnya diversifikasi dan disiplin portofolio.

Memasuki 2026, Browne masih sedikit lebih memilih saham dibanding obligasi, dengan pertimbangan kinerja yang tangguh, pengeluaran fiskal yang mendukung, serta pelonggaran kebijakan moneter yang berlangsung bertahap.

“Namun valuasi yang tinggi, inflasi, geopolitik, perdebatan terkait perdagangan dan AI, transisi energi, serta perubahan dalam komposisi Federal Reserve berarti keputusan alokasi aset perlu tetap dilakukan secara selektif dan dinamis,” ujarnya.

Pada kelas aset pendapatan tetap, Browne menyampaikan preferensi pada obligasi berdurasi lebih pendek serta peluang kredit yang dipilih secara selektif di Asia dan pasar negara berkembang, mengingat volatilitas yang masih bertahan pada kurva imbal hasil jangka panjang.

“Aset-aset Asia terus memainkan peran penting dalam portofolio multi-aset dengan menawarkan manfaat diversifikasi dan eksposur terhadap pendorong pertumbuhan yang tidak terlalu bergantung pada siklus pasar negara-negara maju,” tambahnya.

June Chua, Head of Asia Equities, menilai prospek ekuitas Asia tetap positif menjelang paruh pertama 2026, ditopang dinamika mata uang yang menguntungkan serta visibilitas laba yang membaik. Ia menyebut kinerja saham Asia di luar Jepang sangat kuat sepanjang 2025, didorong oleh pelemahan dolar AS dan pelonggaran kebijakan moneter.

“Ke depan, proyeksi kenaikan laba untuk 2026 dan 2027 terus mendukung valuasi saham, sementara alokasi investor global terhadap saham-saham Asia masih relatif kecil, menunjukkan adanya ruang untuk keterlibatan mereka kembali yang lebih besar,” kata Chua.

Menyoroti peluang struktural di Asia, Chua menjelaskan bahwa di China, kejelasan kebijakan dalam Rencana Lima Tahun ke-15 terus mendukung pertumbuhan berbasis inovasi pada sektor-sektor seperti kecerdasan buatan, energi baru, manufaktur canggih, dan kesehatan.

Taiwan, lanjutnya, tetap menjadi pusat penting dalam ekosistem AI global, didukung tingginya permintaan teknologi kemasan semikonduktor canggih serta pembangunan infrastruktur pusat data.

Di kawasan Asia lainnya, negara-negara ASEAN dinilai terus memperoleh manfaat dari diversifikasi rantai pasok, investasi infrastruktur, dan meningkatnya permintaan domestik—meski peluangnya berbeda di tiap pasar. Di India, kebijakan fiskal dan moneter terbaru membantu mendorong pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi domestik sekaligus meredam tekanan eksternal jangka pendek.

Sementara itu, Korea dinilai menunjukkan perbaikan dalam disiplin pengelolaan modal serta reformasi yang lebih berpihak pada pemegang saham, yang berpotensi mendukung kenaikan nilai pasar.

Chua menambahkan, perbedaan kinerja antar pasar dan sektor masih tinggi, sehingga pemilihan saham secara aktif tetap krusial, terutama dengan fokus pada perusahaan yang memiliki neraca kuat, pertumbuhan laba berkelanjutan, dan eksposur terhadap tema struktural jangka panjang.

Murray Collis, Head of Asia Fixed Income, mengatakan pasar obligasi Asia memasuki 2026 dengan momentum positif, didukung suku bunga yang lebih rendah dan cakupan pasar yang terus membaik. Meski beberapa tahun terakhir cukup menantang, ia menilai pasar obligasi Asia tetap tangguh, dan memperkirakan momentum positif ini berlanjut hingga 2026.

Menurut Collis, penurunan suku bunga di AS, perkembangan pasar obligasi berisiko tinggi di Asia, serta meningkatnya diversifikasi di luar dolar AS membuka peluang investasi yang menarik. Ia menambahkan, peluang pendapatan tetap di Asia kini semakin luas dan lebih seimbang. Obligasi berimbal hasil tinggi di kawasan ini juga dinilai semakin beragam dengan kualitas yang lebih baik dibanding sebelumnya.

“Selain itu, pasar obligasi dalam mata uang lokal juga semakin diminati investor, terutama karena tren de-dolarisasi dan upaya diversifikasi mata uang. Dinamika ini semakin memperkuat peran Asia sebagai sumber pendapatan dan diversifikasi dalam portofolio investasi,” ungkap Collis.

Ia menekankan, pengelolaan aktif tetap sangat penting karena arah kebijakan, fundamental kredit, dan kondisi teknis pasar berbeda signifikan antarnegara. “China, Jepang, dan India menonjol sebagai pasar kunci di mana dukungan kebijakan, kedalaman pasar, dan reformasi struktural memperkuat prospek investasi. Namun selektivitas dan manajemen risiko akan menjadi kunci dalam menghadapi 2026,” tambahnya.

Menjelang paruh pertama 2026, MIM memperkirakan Asia tetap menjadi destinasi utama bagi investor yang mengejar pertumbuhan, pendapatan, dan diversifikasi di tengah perubahan kondisi global. Walaupun volatilitas dan ketidakpastian masih mungkin muncul, meningkatnya visibilitas makroekonomi serta tren kebijakan yang lebih mendukung dinilai menciptakan lingkungan yang lebih stabil bagi investor jangka panjang.

“Kisah investasi Asia pada 2026 tidak bergantung pada satu pasar atau satu tema saja. Kekuatan Asia terletak pada ketahanan, diversifikasi, dan kemampuan untuk beradaptasi di tengah dunia yang terus berubah,” tutup Shao. (*)

# Tag