ETS Mau Jual Bisnis GRE dan TOEFL: Siap Dilepas Rp8,4 Triliun
Selama hampir satu abad, ujian standar seperti GRE dan TOEFL menjadi semacam gerbang tak tertulis menuju pendidikan tinggi global, khususnya di Amerika Serikat. Skor tes bukan sekadar angka, melainkan simbol kelayakan akademik, kesiapan intelektual, dan — dalam banyak kasus — status sosial.
Menyusut
Namun, simbol itu kini sedang digugat oleh perubahan zaman. Educational Testing Service (ETS), organisasi nirlaba yang memiliki GRE (Graduate Record Examination) dan TOEFL (Test of English as a Foreign Language), tengah menjajaki opsi strategis yang belum pernah terbayangkan sebelumnya: menjual aset ujian ikoniknya atau menggandeng investor strategis.
Dalam laporan The Wall Street Journal (24/1/2026), situasinya dirangkum lugas: “ETS, organisasi nirlaba pemilik GRE dan TOEFL, tengah menjajaki penjualan ujian tersebut atau menggandeng satu atau lebih investor strategis.”
Di saat yang sama, WSJ menyebut ETS mencari penawaran di kisaran US$500 juta (Rp8,4 triliun). Ini angka yang besar, tetapi juga menjadi penanda bahwa aset yang dulu dianggap “pasti” kini harus dibuktikan ulang nilai ekonominya.
Langkah ini mencerminkan tekanan struktural yang dihadapi industri pengujian global pascapandemi. Bukan semata karena penurunan jumlah peserta, tetapi karena bergesernya filosofi seleksi pendidikan tinggi itu sendiri. Pandemi Covid-19 menjadi katalis yang mempercepat sesuatu yang sebelumnya hanya dibicarakan di ruang akademik: apakah ujian standar masih relevan?
GRE, yang selama puluhan tahun menjadi syarat utama masuk program pascasarjana, kini semakin sering bersifat test-optional. Banyak universitas menilai bahwa skor GRE tidak selalu mencerminkan potensi riset, ketekunan, atau kreativitas mahasiswa.
Bahkan, sejumlah studi menguatkan logika tersebut. Salah satunya menyimpulkan: “Conclusion: Eliminating the GRE as an admissions requirement…does not result in loss of student quality or worse program performance.” (Removing GRE)
Konsekuensinya terlihat dalam angka. WSJ mencatat bahwa “Jumlah orang yang mengikuti ujian tersebut menurun dalam beberapa tahun terakhir seiring banyak universitas menjadikannya sebagai syarat opsional.”
Pada periode 2024–2025, sekitar 200.000 orang mengikuti ujian GRE — turun dari lebih dari 350.000 peserta pada 2020–2021. Penyusutan sebesar itu terlalu besar untuk dianggap sekadar anomali sesaat; ia tampak seperti tanda bahwa pasar sedang bergeser secara struktural.
Kompetisi digital
Tekanan serupa juga dialami TOEFL. Selama bertahun-tahun, TOEFL mendominasi pengujian kemampuan bahasa Inggris untuk keperluan akademik. Namun dominasi itu mulai tergerus oleh model baru yang lebih fleksibel, murah, dan berbasis digital.
Pergeseran tersebut dipercepat pandemi, ketika mobilitas terbatas dan ujian di pusat tes menjadi problem logistik. Di titik ini, WSJ menandai kompetisi yang menguat: “TOEFL dalam beberapa tahun terakhir menghadapi persaingan dari Duolingo, yang menawarkan tes yang dapat diikuti mahasiswa dari rumah selama masa pandemi."
Bagi generasi mahasiswa internasional pascapandemi, kemudahan akses menjadi faktor penentu. Ujian yang mengharuskan kehadiran fisik di pusat tes kini dipandang sebagai hambatan, bukan jaminan kualitas.
Perubahan preferensi itu juga terasa pada tingkat pengalaman personal peserta. Bagi banyak peserta, ujian berbasis daring menawarkan pengalaman yang lebih nyaman dan minim tekanan dibandingkan tes di pusat ujian, karena dapat dilakukan dari rumah tanpa kendala logistik.
Di titik inilah ETS berada dalam dilema strategis. Sebagai organisasi nirlaba dengan misi edukasi, ETS tidak bisa sekadar mengejar pertumbuhan komersial agresif. Namun sebagai pengelola produk global yang kini dinilai ratusan juta dolar, ETS juga tidak bisa mengabaikan realitas pasar: permintaan yang melemah di satu sisi, dan kompetisi digital yang memaksa perubahan model bisnis di sisi lain.
Upaya adaptasi
Pembicaraan dengan sejumlah pihak — mulai dari Hillhouse yang berbasis Singapura, firma ekuitas swasta seperti Nexus Capital dan Veritas Capital, hingga pengusaha pendidikan — menunjukkan ETS membuka diri terhadap berbagai skenario.
Salah satu skenario yang paling masuk akal bukan menjual “tes” itu sendiri, melainkan membuka investasi di unit komersial untuk ekspansi pasar, terutama ke Timur Tengah dan India. Polanya adalah memperluas jangkauan tanpa mengorbankan mandat institusional.
Pilihan tersebut menarik karena menunjukkan arah kompromi: ETS ingin bertumbuh tanpa kehilangan kontrol terhadap integritas akademik, sekaligus menghindari sensitivitas terkait data peserta. Dalam skenario investasi strategis — bukan akuisisi penuh — investor dapat mendorong ekspansi pasar tanpa otomatis memegang kendali substansi ujian dan data taker.
Namun tekanan ETS tidak hanya datang dari teknologi dan dinamika pasar. Faktor kebijakan ikut memberi lapisan ketidakpastian. Arus mahasiswa internasional sangat menentukan ekosistem pengujian global, terutama untuk tes bahasa Inggris. Ketika kebijakan imigrasi atau pendidikan tinggi berubah, dampaknya biasanya cepat terasa pada permintaan.
Karena itu, isu pembatasan mahasiswa internasional menjadi variabel yang terus diawasi pelaku industri. Bagi banyak program pascasarjana, mahasiswa internasional bukan hanya pelengkap; mereka sering menjadi salah satu sumber utama keberlanjutan finansial dan keragaman akademik.
Pada saat yang sama, meningkatnya peran private equity di sektor pendidikan menambah ketegangan lain: logika efisiensi, skala, dan pengembalian modal semakin masuk ke ruang yang sebelumnya lebih dipandu oleh misi dan tradisi akademik. Investasi di penyelenggara ujian masuk perguruan tinggi serta perusahaan manajemen pendaftaran menunjukkan bahwa pendidikan kini makin dipandang sebagai industri, bukan sekadar institusi.
Masuknya logika itu ke dunia pengujian memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah asesmen akademik akan tetap menjadi instrumen pedagogis yang menjaga standar akademik, atau bergeser menjadi produk teknologi yang dioptimalkan untuk pertumbuhan dan kemudahan akses?
Bagi ETS, pertanyaan itu bukan wacana. Keputusan strategis yang diambil hari ini akan menentukan apakah GRE dan TOEFL tetap menjadi standar rujukan, atau sekadar salah satu dari banyak opsi asesmen di pasar global yang semakin terfragmentasi dan cepat berubah.
Dalam konteks ini, potensi penjualan atau kemitraan bukanlah tanda kelemahan semata, melainkan upaya adaptasi di tengah perubahan struktural. Industri pengujian sedang berada di persimpangan jalan antara tradisi akademik dan realitas digital. Bertahan dengan model lama berarti risiko stagnasi; berubah terlalu cepat berisiko kehilangan legitimasi.
Apa pun hasil akhirnya, satu hal tampak semakin jelas: era ketika satu skor ujian menjadi penentu tunggal masa depan akademik seseorang perlahan memudar. Pendidikan tinggi sedang menegosiasikan ulang makna “kelayakan”, dan industri pengujian — termasuk ETS — dipaksa menemukan peran barunya di dalam lanskap tersebut. (*)