Dari Ngamen ke Dunia Arsitektur: Jejak Ghufroni Arsyad Membangun Ruang Komersial dan Publik Lintas Kota

Ghufroni Arsyad. (Dok: Pribadi)
Ghufroni Arsyad. (Dok: Pribadi)

Namanya mungkin belum lama terdengar di panggung besar industri properti nasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Ghufroni Arsyad bergerak seperti orang yang tahu betul apa yang sedang ia bangun: bukan sekadar bangunan, melainkan jejak.

Lulusan Sarjana Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) ini termasuk pendatang baru, tetapi laju karyanya melesat cepat — menembus berbagai kota dan segmen proyek yang tak bisa disebut kecil.

Titik Balik

Titik balik profesional Ghufroni terjadi pada 2021, saat ia mendirikan PT Desain Central Asia (DCA). Perusahaan ini bergerak di bidang desain arsitektur, interior, sekaligus jasa konstruksi. Dalam waktu relatif singkat, DCA tumbuh menjadi studio yang diperhitungkan, terutama di sektor hospitality dan komersial, wilayah yang menuntut karakter kuat, namun juga presisi fungsi dan kepekaan terhadap pasar.

Di tangan Ghufroni, arsitektur bukan semata urusan bentuk. Ia memosisikannya sebagai pengalaman ruang: bagaimana orang datang, bergerak, berhenti, menoleh, lalu mengingat. Ia memadukan estetika kontemporer dengan konteks lokal, menghadirkan desain yang bukan hanya menarik dipandang, tetapi juga relevan dengan lingkungan dan kebutuhan penggunanya.

Jejak karyanya tersebar di berbagai kota. Di Yogyakarta, karya Ghufroni dapat ditemui pada Ethes Cafe & Eatery, Kanwil Kementerian Keuangan DIY, HR House Chandhari Heaven, hingga interior Taman Wisata Candi Prambanan (TWC). Ia juga terlibat dalam desain Gerai Dagadu Pakuwon Mall serta pengembangan desain Mall Pakuwon, yang menjadi salah satu pusat perbelanjaan ikonik di kota budaya tersebut.

Outlet Dagadu, di Pakuwon Mall Jogja. (Foto: Radarjogja)
Outlet Dagadu, di Pakuwon Mall Jogja. (Foto: Radarjogja)

Kepercayaan terhadap kemampuannya juga datang dari proyek-proyek prestisius. Di Depok, Jawa Barat, Roni — sapaan yang akrab untuknya — berada di balik desain masjid yang kini menjadi simbol kebesaran Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Sementara di Kalimantan Timur, ia dipercaya menyusun master plan kawasan pariwisata Pulau Kumala dan Taman Tanjung di Tenggarong.

Tak berhenti di situ, ia juga terlibat dalam perancangan Desa Budaya Dieng, proyek yang menuntut kepekaan terhadap nilai lokal dan lanskap alam. Di luar Yogyakarta, sentuhan desainnya hadir di Bhumi Sanna (wilayah Pati–Magelang), lalu merambah Bandung melalui Padangan Tropical Village, Pendopo Ciherang, Candi Bentar Green Forest Resort, serta d’Botanical Mall. Di Bali, namanya tercatat dalam proyek Naomi Villas Canggu yang mengusung konsep resor modern dengan nuansa tropis yang kuat.

Candi Bentar Green Forest Resort, Bandung. (Dok: Ghufroni)
Candi Bentar Green Forest Resort, Bandung. (Dok: Ghufroni Arsyad)

Perjalanan Ruang

Di balik portofolio yang terus bertambah, Roni tetap sosok sederhana. Pria lajang ini memilih membiarkan karyanya berbicara. Baginya, arsitektur bukan soal popularitas, melainkan tanggung jawab menghadirkan ruang yang bermakna.

Ia mengembangkan gagasan bahwa arsitektur — terutama di industri hospitality — bukan sekadar “tempat yang cantik”, tetapi identitas merek. Melalui berbagai proyek restoran dan hotel, ia menghadirkan desain yang kuat secara visual, kontekstual, sekaligus relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

Mengusung pendekatan experience-based design, setiap karya dirancang sebagai perjalanan ruang. Tamu tidak hanya datang untuk makan atau menginap, tetapi merasakan pengalaman menyeluruh: mulai dari area kedatangan, transisi ruang, hingga titik-titik visual yang secara alami menjadi daya tarik fotografi dan media sosial.

Dalam proyek-proyeknya, Roni banyak mengeksplorasi arsitektur tropis kontemporer berjiwa Nusantara. Ia memadukan material lokal seperti kayu dan batu alam dengan struktur modern, yang menciptakan ruang yang hangat, nyaman, dan menyatu dengan alam, sekaligus membangun karakter brand yang membumi dan autentik.

Museum gerabah Kasongan milik Timbul Raharjo, didesain Ghufroni Arsyad. (Dok: Ghufroni Arsyad)
Museum gerabah Kasongan milik Timbul Raharjo, didesain Ghufroni Arsyad. (Dok: Ghufroni Arsyad)

Tak hanya itu, untuk brand yang ingin tampil ikonik, Ghufroni juga menghadirkan desain futuristik dengan bentuk sculptural dan siluet kuat. Arsitektur diposisikan sebagai landmark, memperkuat positioning brand dan meningkatkan nilai komersial melalui citra yang mudah dikenali dan diingat.

“Arsitektur dalam hospitality harus mampu bercerita dan membangun emosi. Ketika desain jujur pada konteks dan nilai brand, daya tarik visual akan hadir dengan sendirinya,” ujar Roni kepada SWA.co.id.

Ragam pekerjaannya pun tidak berhenti pada hospitality dan komersial. Ghufroni juga menangani proyek residens, industri, hingga bangunan religius atau tempat ibadah. Spektrum ini memperlihatkan fleksibilitas sekaligus kedalaman pendekatannya; kualitas penting bagi arsitek yang ingin bertahan dan berkembang di industri yang kompetitif.

Ngamen

Namun, perjalanan menuju profesionalisme itu dibangun dari fondasi yang tak terlihat: karakter, disiplin, dan daya tahan mental. Kisah remaja Roni bukanlah paket ideal yang lazim ditemukan dalam profil orang-orang sukses. Ia pernah dikenal bandel dan sulit diatur. Saat SMP, dirinya termasuk salah satu dari anak bermasalah yang harus dibina secara khusus di barak militer; langkah yang bukan sekadar sanksi, melainkan upaya membentuk disiplin.

Latar keluarganya sederhana. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan. Dari situ, Roni mengenal konstruksi bukan sebagai jargon industri, melainkan sebagai kerja keras yang membuat sebuah keluarga bertahan.

Roni muda percaya pendidikan tinggi adalah jalan keluar dari keterbatasan. Ia memilih SMKN 1 Purworejo jurusan bangunan, lalu membidik ITB. Ia gagal, mengevaluasi diri, dan akhirnya memutuskan menempuh studi arsitektur di UII Yogyakarta.

Tantangan sesungguhnya datang setelah diterima. Orang tua hanya mampu membayar biaya kuliah. Untuk biaya hidup (kos, makan, transport) Roni harus mencari jalan sendiri. Berbekal kemampuan bermain gitar, ia memilih mengamen di jalanan, hampir tiga tahun lamanya. Pilihan yang tidak lazim bagi mahasiswa arsitektur, tetapi baginya martabat tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan.

Ghufroni Arsyad. (Dok: Pribadi)
Bagi Roni, arsitektur dalam hospitality harus mampu bercerita dan membangun emosi. (Dok: Pribadi)

Penghasilan yang tidak menentu membuatnya sering berada di ambang krisis. Beberapa kali, uang kiriman orang tua yang seharusnya digunakan untuk membayar kuliah terpaksa dialihkan untuk bertahan hidup.

Akibatnya, ia kerap terlambat membayar uang semester dan hampir tak bisa mengikuti ujian. “Hanya ngamen yang bisa saya lakukan saat itu,” katanya.

Dalam tekanan itu, ia mempelajari pelajaran kepemimpinan diri yang sederhana namun menentukan: keberanian untuk berkomunikasi dan membangun kepercayaan. Ia mendatangi dekan, menjelaskan kondisi sebenarnya, dan meminta surat rekomendasi agar diizinkan mengikuti ujian.

Pendekatan yang jujur dan terbuka membuahkan hasil. Sang dekan tidak hanya memberi izin, tetapi juga dukungan moral berkelanjutan; relasi profesional itu berkembang menjadi mentor–mentee.

Memasuki tahun keempat perkuliahan, arah hidupnya mulai berubah. Ia meminta pekerjaan kepada dosen yang punya proyek sambilan di luar kampus. Ia dipercaya membantu membuat desain dan gambar arsitektur; jembatan antara dunia akademik dan praktik profesional. Ia belajar berpikir sistematis, membaca kebutuhan klien, serta menyelaraskan idealisme desain dengan keterbatasan teknis dan anggaran.

Kemampuannya berkembang pesat. Puncaknya, Roni menyelesaikan studi tepat waktu, dengan laporan tugas akhir terbaik di jurusannya. Prestasi itu menjadi validasi: ketekunan dan ketahanan mental mampu mengalahkan keterbatasan struktural.

Hari ini, dalam sunyi ruang kerja dan panjangnya jam menggambar, Roni terus menorehkan jejak. Dari satu bangunan ke bangunan lain, ia membuktikan bahwa dedikasi dan kepekaan adalah fondasi terkuat bagi seorang arsitek, terutama di dunia hospitality yang menuntut lebih dari sekadar keindahan. Dan bila jejak itu terus bertambah, mungkin karena ia sejak awal paham: membangun selalu dimulai dari sesuatu yang paling mendasar: cara seseorang bertahan, memaknai, lalu menuntaskan. (*)

# Tag