Bittersweet 2026: Pahit-Manis Datang, Rindu pada Cromboloni Bertahan
Di tengah kehidupan yang makin digital, kita dikelilingi bittersweet: tentang hal-hal yang awalnya manis, lalu perlahan terasa pahit. Di situ, kita rindu pada manisnya Cromboloni: pengingat untuk kembali hadir, sederhana, dan utuh.
Awal tahun —tak terkecuali 2026— selalu datang seperti halaman baru yang masih berbau tinta, tapi manusia jarang benar-benar memulai dari nol. Ada sisa-sisa tahun lalu yang masih menempel: kebiasaan kecil, rasa cemas yang tidak sempat dibahas, dan tren-tren yang diam-diam membentuk cara kita melihat diri sendiri. Dan di sela semua itu, selalu ada rasa yang akrab —rasa “Cromboloni”: ringan, hangat, dan bikin kita ingat bahwa hidup bukan cuma soal menang-kalah, tapi juga soal menyempatkan diri bernapas.
Di tengah suasana itu, Rio Christiawan menawarkan satu cara pandang yang terasa jujur: Hidup memang sering tidak bisa dipilah rapi antara bahagia dan getir. “Itulah yang disebut bittersweet. Dua sisi kehidupan,” katanya dalam Podcast Cromboloni episode 3.
“Dan, bittersweet itu seperti refleksi kehidupan kita di 2025. Refleksi manusia itu selalu punya dua sisi,” tambahnya.
Yang ia maksud bukan semata nostalgia akhir tahun, melainkan pola yang terus berulang: Sesuatu terasa manis ketika baru muncul —segar, menjanjikan, memberikan identitas— lalu perlahan menjadi pahit saat beban sosial dan standar baru ikut terbentuk.
Di sini, budaya pop bukan sekadar daftar hal yang sedang ramai. Ia adalah mekanisme bersama yang memproduksi “yang dianggap keren”, sekaligus memproduksi rasa takut tertinggal. Tahun berganti, nama tren berganti, tetapi kebutuhan manusianya tetap sama: ingin diterima, ingin punya tempat, ingin merasa “cukup”.
Dan, justru ketika standar itu makin berisik, kita diam-diam mulai rindu pada sesuatu yang sederhana: tawa yang tidak perlu dibuktikan, pertemuan yang tidak harus dipamerkan, obrolan yang membuat kita pulang dengan dada lebih lapang. Rindu pada manisnya Cromboloni —rindu pada rasa hangat yang tidak menuntut kita jadi siapa-siapa.
Rio menariknya ke contoh yang paling dekat dengan keseharian: benda-benda yang tampak sepele, tapi bisa mengatur suasana hati. Tumbler, misalnya, terdengar seperti kemenangan kecil: membawa botol sendiri, mengurangi plastik, hidup lebih sadar.
Di permukaan, ini manis. Namun, di lapisan bawah, benda yang “baik” bisa berubah menjadi bahasa status. Ketika harga, merek, desain, dan gengsi ikut menempel, tumbler bukan lagi sekadar wadah minum; ia berubah menjadi penanda sosial. Orang membeli bukan hanya untuk fungsi, melainkan untuk sinyal: Aku ikut, aku paham, aku bagian dari ini.
Padahal, rindu pada manisnya Cromboloni juga rindu pada fungsi awal hal-hal kecil seperti itu: sesuatu yang membantu hidup, bukan menekan hidup. Kita kangen memakai sesuatu tanpa perlu menjelaskannya kepada siapa pun.
Hal yang sama terjadi pada sepatu. Ada fase ketika sepatu olahraga terasa seperti simbol niat: hidup sehat, rajin bergerak, lebih disiplin. Lalu, muncul fase berikutnya: model makin banyak, rilis makin cepat, dan dorongan “koleksi” mengalahkan dorongan “bergerak”.
Di titik itu, tren memindahkan pusat makna: dari tubuh ke tampilan, dari kebutuhan ke pembuktian. Sepatu menjadi cerita tentang siapa kita, bukan hanya bagaimana kita berjalan. Dan, ketika cerita itu dipasang di ruang publik —di unggahan, di tongkrongan, di komentar— rasa manisnya mulai punya ekor pahit.
Rio menyederhanakan semua paradoks ini ke satu kalimat yang terasa seperti kaca: “Sebenarnya bittersweet itu bukan pada objek bendanya. Tapi pada manusianya. Pada kitanya.” Artinya, yang membuat sesuatu menekan bukan selalu barangnya, melainkan cara kita menaruh harga diri di atas barang itu.
Yang bergerak, sebenarnya, adalah standar. Kita cepat jatuh cinta pada sesuatu, lalu cepat pula menertawakannya ketika gelombang berikutnya datang. Kadang kita menyebutnya “selera”, kadang menyebutnya “perkembangan zaman”, padahal sering itu adalah cara manusia bertahan di tengah perubahan yang terlalu cepat.
Karena standar bergerak, manusia jadi piawai memakai dua ukuran sekaligus, dan ini terjadi tanpa perlu niat buruk. Rio mengucapkannya dengan ringan, tapi keras: “Jadi, mengapa Cromboloni episode 3 ini mengangkat judul ‘Bittersweet’? Karena, manusia itu selalu menggunakan standar ganda. Hari ini mencintai besok benci.”
Kontradiksi itu paling terasa ketika obrolan masuk ke dunia digital. Kita sempat berada pada masa ketika koneksi dianggap jawaban untuk hampir semuanya. Dan memang, ada sensasi yang sulit ditolak ketika merasa bisa hadir di mana saja, kapan saja. Rio menyebut euforianya apa adanya: “Hype sekali ketika terhubung secara digital gitu, ya. Ketika terhubung di medsos.”
Namun, awal 2026 membuat satu hal kian jelas: koneksi punya ongkos. Yang jauh bisa terasa dekat, tetapi yang dekat sering terasa jauh. Orang duduk semeja, tapi pikirannya terpencar; satu keluarga berkumpul, tapi masing-masing larut pada layar. Kedekatan fisik tidak otomatis berarti pertemuan yang sungguh-sungguh.
“Sebenarnya bittersweet itu bukan pada objek bendanya. Tapi pada manusianya. Pada kitanya.”
Rio Christiawan Penggagas Cromboloni & Co.
Masalahnya bukan teknologi semata —karena teknologi juga melahirkan sisi manis: memudahkan koordinasi, membuka ruang solidaritas, membuat bantuan bergerak cepat. Yang menjadi pahit ialah ketika kita menyerahkan terlalu banyak fungsi “hadir” kepada perangkat, lalu lupa bagaimana rasanya menatap orang tanpa buru-buru mengalihkan perhatian.
Mungkin karena itulah, muncul kerinduan baru: Orang mencari alasan untuk bertemu secara nyata. Kita melihatnya lewat komunitas hobi, kegiatan bareng, olahraga yang mendadak jadi ruang sosial. Ada kebutuhan yang sederhana: berbagi energi yang tidak bisa ditransfer lewat emoji.
Padel, misalnya, sering diperdebatkan sebagai simbol kelas dan panggung gaya. Kritiknya masuk akal: mahal, eksklusif, bisa berubah menjadi “fashion show”. Namun, di sisi lain, ia memberikan sesuatu yang jarang disadari: alasan untuk keluar rumah, bergerak, bercakap, dan merasa menjadi bagian dari kerumunan yang hangat.
Di sanalah bittersweet bekerja seperti dua rasa yang datang bersamaan. Satu tren bisa mengandung hal yang menyebalkan sekaligus hal yang menyelamatkan. Ia bisa memunculkan tekanan sosial, tetapi juga bisa menghidupkan paguyuban; sebuah kata lama yang diam-diam kita rindukan dalam kehidupan modern.
Rio dengan lincah lalu menjelaskan bahwa ketika standar terus berganti, kita sering salah menempatkan energi: mengejar yang sedang ramai, lalu lelah, lalu sinis, lalu mengejar lagi. Padahal, yang lebih penting mungkin bukan mengikuti atau menolak tren, melainkan memeriksa ulang: Apakah ini membuat hidupku lebih utuh, atau hanya membuatku lebih gelisah?
Di awal 2026, pelajaran yang ditawarkan Rio terasa praktis: menerima bahwa hidup tidak akan sepenuhnya manis, dan tidak akan sepenuhnya pahit. Ada hari-hari yang bekerja seperti kopi: pahit tapi menyadarkan. Ada hari-hari yang bekerja seperti gula: manis tapi mudah membuat lupa diri.
Yang kita butuhkan bukan hidup tanpa pahit, melainkan daya untuk mengelolanya: tidak berlebihan saat manis datang, tidak runtuh saat pahit muncul. Dan, itu menuntut satu sikap yang sering terdengar klise, tetapi justru paling sulit dilakukan: konsisten pada hal-hal yang esensial, bukan pada hal-hal yang sedang viral.
Karena itulah, kalimat Rio yang paling pas dibawa ke tahun baru bukan tentang tren apa yang akan naik, melainkan tentang cara memandang langkah yang akan diambil. “Maka yang harus kita lakukan adalah optimis memandang 2026,” katanya dengan pandangan berbinar.
Optimistis, di sini, bukan berarti menutup mata dari kenyataan. Ia adalah keberanian berjalan sambil tetap sadar bahwa dua rasa itu akan selalu ada. Juga bukan berarti menunggu hidup jadi manis terus. Optimistis adalah menjaga supaya rasa manis yang kecil itu tetap ada: percakapan yang jujur, pertemuan yang sederhana, tawa yang tidak dibuat-buat. Di situlah Cromboloni tinggal, dan di situlah kita selalu bisa kembali.§