Bukan Nike, Bukan Adidas: Anta, Raksasa China yang Diam-diam Membesar, Mengambil 29,06% Saham Puma
Ada momen-momen dalam bisnis global ketika sebuah nama yang jarang terdengar di obrolan sehari-hari di Indonesia tiba-tiba memaksa kita menoleh. Bukan karena gimik pemasaran, bukan karena jersey klub sepak bola Eropa, melainkan karena langkah yang terlalu besar untuk diabaikan. Apa itu?
Bukan pendatang baru
Anta Sports, raksasa sportswear asal China, sepakat membeli 29,06% saham Puma. Langkah ini otomatis membuatnya jadi pemegang saham terbesar merek sepatu Jerman yang sudah puluhan tahun akrab di telinga dunia. (Wall Street Journal, 27/1/2026). (WSJ)
Nilainya tidaklah kecil: €1,51 miliar (sekitar US$1,8 miliar atau Rp30 triliun) dalam transaksi tunai. Reuters (27/1/2026) mencatat Anta membayar €35 per saham, atau sekitar 62% premium dibanding harga penutupan Puma sebelumnya. Ini angka yang membuat transaksi terasa seperti “pembelian kunci” ke ruang tamu merek Eropa, bukan sekadar investasi portofolio.
Pasar bereaksi cepat. WSJ menulis saham Puma naik sekitar 10% saat kabar itu keluar, sementara saham Anta naik sekitar 2% di Hong Kong. Reuters bahkan mencatat lonjakan awal Puma sempat mencapai 15% di Frankfurt. Artinya: pasar membaca ini sebagai pergeseran struktur kepemilikan yang membawa konsekuensi strategis, bukan hanya perpindahan saham.
Bagi pembaca Indonesia, yang lebih menarik dari angka-angka itu adalah pertanyaan yang lebih “sosiologis”: Anta itu siapa? Kenapa ia bisa masuk ke meja makan bisnis Eropa dengan cek sebesar itu — sementara namanya tidak sepopuler Nike, Adidas, atau bahkan Puma sendiri?
Jawaban singkatnya: Anta adalah pemain yang membesar diam-diam. Perusahaan yang berdiri di tahun 1991 ini membangun kekuatan lewat portofolio, disiplin operasional, dan strategi akuisisi merek — seperti cara konglomerat membangun kerajaan, bukan seperti brand yang bertarung hanya lewat iklan.
Di halaman profil korporasinya sendiri, Anta menyebut memiliki portofolio merek lintas segmen — dari mass market sampai high-end — termasuk FILA (di China), Descente, Jack Wolfskin, dan statusnya sebagai pemegang saham terbesar Amer Sports — kelompok merek global yang menaungi Arc’teryx, Salomon, Wilson, dan lain-lain. (Profil Anta)
Di sinilah konteksnya menjadi terasa istimewa: Anta bukan pendatang baru yang sekadar mengejar sensasi, melainkan perusahaan yang sudah lama menyiapkan jalan ke pasar global. Dan Puma — dengan warisan merek Barat, jaringan distribusi, serta simbolisme Eropa — adalah pintu yang sangat strategis.
Transaksi ini juga punya sisi lain: pihak penjualnya adalah Artemis, kendaraan investasi keluarga Pinault (pendiri Kering, induk Gucci). Reuters menulis penjualan ini membantu Artemis mengurangi beban utang dan menajamkan fokus aset strategisnya. Jadi, ini bukan cuma kisah Anta “masuk”, tapi juga kisah pemilik lama yang “menata ulang” portofolionya.
Lalu, apakah ini takeover?
Ruang tumbuh
Anta menyatakan bukan. Setidaknya untuk sekarang. Reuters menekankan Anta menutup pintu untuk pengambilalihan penuh pada tahap ini. Financial Times (27/1/2026) menambahkan konteks penting: dengan porsi 29,06%, Anta menjadi pemegang saham terbesar tanpa memicu kewajiban tender offer (mandatory takeover) di bawah aturan Jerman, karena posisinya berada tepat di bawah ambang yang relevan. Namun Anta disebut tetap berniat mengamankan kursi dewan setelah transaksi tuntas.
Penutupan transaksi diproyeksikan terjadi hingga akhir 2026, masih menunggu persetujuan regulator dan syarat penutupan lain. Dari sisi pembiayaan, disebutkan bahwa transaksi ini didanai dari kas internal. Ini sebuah sinyal bahwa langkah ini bukan manuver spekulatif, melainkan keputusan yang sudah dihitung dalam neraca.
Tapi, pertanyaan lainnya muncul: mengapa Puma?
Karena Puma sedang berada dalam fase “reparasi mesin”. WSJ menulis perusahaan ini merombak bisnisnya sejak Arthur Hoeld (eks Adidas) mengambil alih pada 2025; tarif Presiden Trump ikut menekan; dan Puma berupaya menyegarkan lini produk.
WSJ juga mencatat Puma pada Oktober 2025 menyatakan akan memangkas 900 pekerjaan dan menargetkan kembali tumbuh mulai 2027, sebagai bagian dari rencana turnaround.
Dan ada satu detail yang membuat kepingan puzzle itu terasa lebih jelas: Puma punya ruang tumbuh di China. Reuters menyebut Puma saat ini hanya meraup sekitar 7% pendapatan dari China. Angka itu terdengar “kecil” untuk merek global, dan justru itulah yang membuatnya menarik bagi Anta.
Bagi Anta, China bukan sekadar pasar; ia adalah rumah yang memahami perilaku konsumen, kanal ritel, dan mesin eksekusi. Dalam logika itu, Puma terlihat seperti merek global yang belum sepenuhnya “diterjemahkan” untuk China, sementara Anta menawarkan diri sebagai pemegang saham besar yang paham medan.
Di titik inilah tampaknya pembaca Indonesia perlu “ngeh”: Anta bukan sekadar perusahaan China yang kaya. Ia adalah contoh bagaimana merek Asia bisa naik kelas dengan cara yang tidak selalu gaduh di media sosial. Ia bergerak lewat kepemilikan strategis, menyusun portofolio, mengakumulasi kompetensi, lalu masuk ke pusat simbolisme industri — Eropa — tanpa harus menjadi “nama yang paling ramai disebut”.
Dan kita di Indonesia mungkin baru akan semakin akrab dengan nama Anta bukan saat ia memasang billboard, tetapi ketika dampak langkahnya mulai terasa di peta industri: dari cara merek-merek Barat membaca ulang strategi mereka, sampai cara pemain Asia membuktikan bahwa kompetisi tak lagi hanya soal sepatu di etalase, melainkan juga soal siapa yang duduk di meja pemegang saham.
Kalau dulu pertanyaan besarnya “siapa yang akan menyaingi Nike dan Adidas?”, cerita terbaru ini memberi petunjuk lain: mungkin jawabannya bukan satu merek tunggal, melainkan konglomerat merek — dan Anta sedang membangun itu, pelan-pelan, tapi pasti. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.