Kegiatan Usaha Bali Cenderung Melambat di Akhir 2025, Pertanian Jadi Penopangnya

Kegiatan Usaha Bali Cenderung Melambat di Akhir 2025, Pertanian Jadi Penopangnya
Wisatawan di Desa Wisata di Bali. (Foto :Istimewa).

Kinerja kegiatan dunia usaha di Provinsi Bali pada kuartal IV di 2025 itu cenderung melandai dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia, survei triwulanan Bank Indonesia yang melibatkan 130 pelaku usaha di Bali, mencakup 17 kategori lapangan usaha, yang menunjukkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 35,46%, turun dari 53,17% pada kuartal ketiga tahun lalu itu.

Perlambatan ini terutama dipicu oleh melemahnya sektor unggulan pariwisata. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat kontraksi dari 19,12% menjadi -0,67%, sementara sektor transportasi dan pergudangan turun dari 0,55% menjadi -0,92%. Bank Indonesia menilai kondisi cuaca ekstrem menjadi faktor utama penurunan kinerja tersebut.

Sepanjang kuartal IV 2025, curah hujan tinggi dan cuaca yang tidak menentu membatasi aktivitas wisata. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan peningkatan frekuensi hujan lebat ekstrem di Bali sebesar 20% secara kuartalan.

Dampaknya terlihat pada arus kunjungan wisatawan. Data Bandara I Gusti Ngurah Rai mencatat jumlah kedatangan wisatawan nusantara dan mancanegara turun 13% , dari 3,4 juta orang pada triwulan III 2025 menjadi 2,9 juta orang pada triwulan IV 2025. Selain sektor pariwisata, kinerja administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib juga melambat, dari 5,55% menjadi 4,16%.

Penurunan ini sejalan dengan pengetatan belanja dan perubahan prioritas kebijakan yang berdampak pada perlambatan serapan anggaran pemerintah di akhir tahun. Meski demikian, pelemahan ekonomi Bali tertahan oleh menguatnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Sektor ini mencatat peningkatan kinerja dari 9,07% menjadi 12,34%, memberikan sinyal optimisme bagi dunia usaha.Bank Indonesia mencatat peningkatan tersebut didorong oleh ketersediaan air yang lebih baik seiring musim penghujan, serta berlangsungnya musim panen gadu padi pada periode Oktober–November 2025.

Kondisi ini menopang aktivitas ekonomi di tengah tekanan pada sektor berbasis pariwisata. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan bahwa meski terjadi perlambatan, struktur ekonomi Bali masih memiliki daya tahan, terutama dari sektor pertanian yang berperan sebagai penyangga di tengah dinamika eksternal dan faktor cuaca. (*)

# Tag