Harga Emas Anjlok 15% dalam Dua Hari, Analis Ingatkan Dampak Bagi Emiten Tambang Emas
Pasar komoditas global dikejutkan oleh aksi jual besar-besaran pada instrumen emas. Harga emas di pasar spot tercatat merosot tajam sekitar -15% hanya dalam dua hari perdagangan terakhir.
Setelah dibuka di level US$5.375/oz pada Jumat (30/1/2026), harga logam mulia ini terjun bebas ke level US$4.586/oz pada Senin (2/2) pagi, sebelum akhirnya bergerak konsolidasi di rentang US$4.600 – US$4.700/oz.
Melansir laporan Bloomberg, penurunan drastis ini dipicu oleh kombinasi efek squeeze akibat aksi ambil untung (profit taking) masif dan penguatan signifikan mata uang Dolar AS. Sentimen utama yang menggerakkan pasar adalah pengumuman penunjukkan Kevin Warsh sebagai Kepala The Fed menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei 2026.
Kevin Warsh dikenal sebagai sosok yang kritis terhadap besarnya neraca keuangan The Fed saat ini. Penunjukkannya memberikan sinyal kuat kepada investor bahwa era kebijakan moneter longgar akan segera berakhir. Pasar kini mulai mengantisipasi kebijakan pengetatan neraca (QT) dan penurunan peran The Fed dalam pasar keuangan untuk memulihkan kredibilitas kebijakan moneter.
Penurunan harga emas dunia ini langsung memberikan tekanan bagi sektor pertambangan emas dalam negeri. Berdasarkan analisis dari Theodorus Melvin, Investment Analyst Stockbit Sekuritas, koreksi ini berpotensi membawa sentimen negatif jangka pendek bagi sejumlah emiten kakap.
"Penurunan harga emas berpotensi menurunkan Average Selling Price (ASP) atau harga jual rata-rata serta volume transaksi perseroan," tulis Melvin pada risetnya di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Para pelaku pasar kini cenderung wait and see sembari memantau pernyataan lanjutan dari Kevin Warsh terkait peta jalan kebijakan moneter AS ke depannya.(*)
Daftar emiten yang terdampak antara lain:
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
- PT @Emas (EMAS)
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)