AXA Mandiri: Menegakkan Tata Kelola sebagai Kompas Strategi

AXA Mandiri. (Ist)
AXA Mandiri. (Ist)

Di tengah dinamika industri jasa keuangan yang terus bergerak cepat, AXA Mandiri memosisikan tata kelola perusahaan bukan sekadar sebagai kewajiban kepatuhan, melainkan sebagai fondasi strategis yang memungkinkan perusahaan tetap adaptif, gesit, tapi tetap akuntabel.

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dijalankan secara konsisten sebagai kerangka kerja utama dalam setiap pengambilan keputusan, mulai dari level strategis hingga operasional.

Terus berkembang

“AXA Mandiri senantiasa menerapkan prinsip GCG yang meliputi keterbukaan, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran,” kata Rudi Kamdani, Direktur Kepatuhan AXA Mandiri. Penerapan prinsip tersebut tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang seiring dengan perubahan lingkungan bisnis, regulasi, dan teknologi.

Kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan adaptif menjadi salah satu tantangan utama industri keuangan. Di AXA Mandiri, tantangan ini dijawab melalui mekanisme tata kelola yang dirancang fleksibel tapi tetap terkendali. Pembentukan working group lintas fungsi, koordinasi intensif antar-unit, pengawasan berbasis data, serta audit dan review berkala menjadi bagian dari sistem yang memastikan setiap keputusan strategis tetap berada dalam koridor akuntabilitas.

“Penerapan nilai-nilai tata kelola yang disertai kemampuan beradaptasi memungkinkan AXA Mandiri mengambil keputusan secara cepat, adaptif, dan akuntabel,” kata Rudi.

Seluruh mekanisme tersebut kemudian dilembagakan dalam kebijakan, prosedur, dan ketentuan internal yang menjadi rujukan bersama dalam menjaga integritas perusahaan serta kepercayaan para pemangku kepentingan.

Dalam konteks sensing capability atau kemampuan organisasi untuk membaca perubahan, AXA Mandiri menempatkan governance sebagai sistem saraf yang memungkinkan perusahaan menangkap sinyal pasar, tren teknologi, serta pergeseran kebutuhan nasabah secara sistematis.

Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan oleh unit kerja terkait, didukung oleh penerapan kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang terintegrasi. Melalui pendekatan ini, risiko dan peluang tidak diperlakukan sebagai dua hal yang terpisah, melainkan sebagai spektrum yang harus dikelola secara seimbang.

“Penerapan GRC mengintegrasikan pemantauan risiko, peluang perbaikan, pengelolaan feedback internal dan eksternal, serta evaluasi terhadap pengambilan keputusan,” Rudi menjelaskan.

Rudi Kamdani, Direktur Kepatuhan AXA Mandiri. (Dok: Pribadi)
Rudi Kamdani, Direktur Kepatuhan AXA Mandiri. (Dok: Pribadi)

Proses berkelanjutan

Salah satu peluang yang tengah dikembangkan adalah eksplorasi jalur distribusi perbankan baru dan optimalisasi platform digital. Sementara dari sisi internal, inisiatif Ideation Challenge menjadi ruang terstruktur bagi karyawan untuk melahirkan gagasan yang mampu menghilangkan pain point nasabah.

Kerangka tata kelola AXA Mandiri juga dirancang untuk memfasilitasi proses reconfiguring dan transforming ketika terjadi perubahan signifikan pada lingkungan bisnis. Transformasi tidak dipandang sebagai proyek sesaat, melainkan sebagai proses berkelanjutan yang membutuhkan pengawasan aktif, kolaborasi lintas fungsi, serta mekanisme umpan balik yang jelas.

“AXA Mandiri terus memperkuat kapabilitas perusahaan secara solid untuk memastikan keberlanjutan strategi transformasi,” ungkap Rudi. Strategi tersebut dijalankan melalui pemantauan perubahan lingkungan, pengembangan teknologi, pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), penguatan tata kelola, serta perhatian terhadap aspek lingkungan dan keberlanjutan.

Dalam pandangan manajemen, keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk membangun kemampuan dinamis yang berujung pada keunggulan kompetitif jangka panjang.

Pembelajaran organisasi menjadi elemen penting lain dalam praktik GCG di AXA Mandiri. Setiap inisiatif strategis dan aktivitas utama didokumentasikan secara sistematis dalam bentuk laporan kinerja, lesson learned, dan best practices, yang kemudian disimpan dalam sistem manajemen pengetahuan internal. Pendekatan ini memastikan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada individu atau unit tertentu, melainkan menjadi aset organisasi.

“Evaluasi rutin dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang dihasilkan benar-benar diterapkan dan memberikan nilai tambah bagi pengembangan organisasi,” kata Rudi. Dengan demikian, governance tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai enabler bagi pembentukan kapabilitas adaptif jangka panjang.

Keseimbangan

Keseimbangan antara eksplorasi dan eksploitasi juga menjadi perhatian utama dalam kerangka tata kelola AXA Mandiri. Inovasi digital, eksperimen, dan riset pengembangan didorong secara aktif, tapi tetap berada dalam batasan kehati-hatian dan etika bisnis. Seluruh inisiatif inovasi dijalankan melalui mekanisme persetujuan yang terukur, studi kelayakan, pilot project, hingga proof of concept, sehingga risiko dapat dikelola sejak tahap awal.

“Dengan pendekatan ini, AXA Mandiri memastikan penggunaan sumber daya yang prudent dan etis, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan,” kata Rudi. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan menjaga kinerja jangka pendek tanpa mengorbankan kesiapan menghadapi dinamika jangka panjang.

Dari sisi SDM, pipeline talenta dan kepemimpinan dirancang selaras dengan prinsip GCG. Rekrutmen berbasis kompetensi, program pengembangan berkelanjutan, serta perencanaan suksesi memastikan ketersediaan pemimpin yang adaptif dan berintegritas. Budaya organisasi dibangun untuk mendorong keberanian mengambil risiko yang terukur, pengambilan keputusan berbasis data, serta kepatuhan pada etika.

Fondasi ini diperkuat dengan mekanisme feedback loop yang memungkinkan organisasi belajar dari kesalahan, keberhasilan, masukan regulator, serta umpan balik dari pasar dan pemangku kepentingan lainnya. Seluruh masukan tersebut diintegrasikan ke dalam siklus perencanaan, manajemen risiko, dan inovasi dengan pengawasan yang ketat.

Melalui penerapan GCG yang menyeluruh dan hidup dalam praktik sehari-hari, AXA Mandiri tidak hanya merespons perubahan secara reaktif, tetapi juga secara proaktif membangun ketahanan organisasi. Tata kelola menjadi ruang strategis tempat nilai, etika, dan adaptasi bertemu, memastikan pertumbuhan bisnis berjalan seiring dengan integritas dan keberlanjutan jangka panjang. (*)

# Tag