PMI Manufaktur Menguat ke 52,6, Permintaan Domestik Jadi Mesin Utama

PMI Manufaktur Menguat ke 52,6, Permintaan Domestik Jadi Mesin Utama

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansif pada Januari 2026, naik menjadi 52,6 dari 51,2 pada bulan sebelumnya. Penguatan ini terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan kenaikan output produksi.

Di tengah tantangan berupa gangguan rantai pasok global serta pelemahan pesanan ekspor, fundamental industri nasional dinilai tetap terjaga.

“Pemerintah akan terus memperkuat iklim usaha dan mendorong daya saing industri melalui berbagai langkah, termasuk percepatan penyelesaian hambatan usaha (debottlenecking) guna memperkuat iklim investasi,” ujar Febrio Kacaribu, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan, Senin (2/2/2026).

Kinerja sektor manufaktur tersebut sejalan dengan sejumlah indikator ekonomi domestik yang menunjukkan tren positif pada akhir 2025. Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,4% (yoy), didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.

Perbaikan konsumsi juga tercermin pada penjualan kendaraan bermotor yang menguat pada akhir 2025, dengan penjualan sepeda motor meningkat 14,5% dan penjualan mobil tumbuh 17,9%.

Sementara itu, aktivitas ekonomi turut tercermin dari penjualan listrik yang tumbuh 4,8%, dengan konsumsi pada segmen bisnis mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Sejalan dengan itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 bertahan pada level optimistis 123,5.

Dari sisi harga, inflasi Januari 2026 meningkat menjadi 3,55% (yoy), lebih tinggi dibanding Desember 2025 sebesar 2,92% (yoy). Kenaikan ini dipengaruhi oleh basis yang rendah pada awal tahun lalu akibat kebijakan diskon listrik.

Kondisi tersebut terlihat pada komponen harga diatur pemerintah (administered price) yang meningkat tajam menjadi 9,71%. Meski sedikit di atas sasaran, tekanan inflasi ini dinilai bersifat temporer dan diperkirakan akan mengalami normalisasi pada Maret 2026.

Namun, secara bulan ke bulan (mtm), tercatat deflasi -0,15%, dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas pangan seperti aneka cabai, bawang, daging ayam ras, telur ayam, dan aneka sayuran.

Penurunan harga tersebut mendorong inflasi harga bergejolak (volatile food) turun tajam menjadi 1,14%. Sementara itu, inflasi inti naik menjadi 2,45%, didorong kenaikan harga emas yang tumbuh pada kisaran 76,5%.

“Pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali pada sasaran, khususnya inflasi pangan pada kisaran 3-5% di tengah tantangan cuaca melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi. Daya beli terus dijaga didukung stimulus diskon transportasi dan bantuan pangan," pungkas Febrio. (*)

# Tag