Outlook Moody’s untuk RI Turun ke Negatif, Rating Baa2 Bertahan: IHSG Rawan Koreksi?

Outlook Moody’s untuk RI Turun ke Negatif, Rating Baa2 Bertahan: IHSG Rawan Koreksi?
Pengunjung memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada 3 Februari 2026. Foto: Nadia K. Putri/SWA

Lembaga pemeringkat kredit global, Moody’s Ratings (Moody’s) menurunkan proyeksi (outlook) kredit pemerintah Indonesia menjadi Negative dari Stable, dan mempertahankan peringkat penerbit jangka panjang dalam mata uang lokal dan asing ke level Baa2.

Untuk peringkat utang tak terjamin senior dalam mata uang lokal dan asing dipertahankan pada Baa2, sementara peringkat utang tak terjamin senior untuk surat utang jangka menengah (MTN) dan program utang tak terjamin senior dalam mata uang asing dipertahankan ke level (P)Baa2.

“Perubahan prospek ini didorong oleh berkurangnya ketidakpastian dalam pembentukan kebijakan, yang berisiko mengganggu efektivitas kebijakan dan menandakan melemahnya tata kelola,” tegas Moody’s dari laporan yang terbit di situs resminya pada Kamis malam (5/2/2026).

Moody’s menegaskan, jika ketidakpastian kebijakan ini terus berlanjut, ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbentuk, yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi, termasuk makroekonomi, fiskal, dan keuangan.

Selain itu, Moody’s telah mengonfirmasi bahwa peringkat surat utang senior tak terjamin yang didukung mata uang asing, serta peringkat program surat utang jangka menengah tak terjamin didukung mata uang dari sertifikat US dollar trust yang diterbitkan oleh Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia III (PPSI III), masing-masing di level Baa2 dan (P)Baa2.

Moody’s menilai, prospek PPSI III adalah negatif. PPSI III adalah entitas kendaraan khusus (SPV) yang didirikan oleh Pemerintah Indonesia. Sertifikat kepercayaan yang diterbitkan oleh PPSI III merupakan kewajiban langsung, tanpa syarat dan tidak subordinat dari pemerintah Indonesia dan memiliki peringkat yang sama dengan utang senior tanpa jaminan lainnya dari pemerintah.

Adapun, Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) mengonfirmasi peringkat kredit tersebut. Menurut Kemenkeu RI, ini adalah tahapan akhir dari proses asesmen Moody’s dari rangkaian kunjungan tanggal 27-29 Januari 2026 di Jakarta.

Kemenkeu RI mengeklaim, lembaga peringkat itu telah berdiskusi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Kemenkeu, Bank Indonesia (BI), BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BPI Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.

“Pemerintah mengapresiasi asesmen Moody’s yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada posisi Baa2, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif. Pemerintah terus melakukan transformasi ekonomi dan menghidupkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi,” klaim Kemenkeu RI, lewat Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu RI, Deni Surjantoro dari keterangan resmi yang diterima SWA.co.id malam ini.

Namun, analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana memandang penurunan proyeksi Moody’s tersebut menjadi sinyal bagi pelaku pasar modal. Hendra menilai, Indonesia belum kehilangan layak investasi, tetapi tingkat risiko dinilai meningkat, khususnya dari sisi tata kelola dan kepastian kebijakan.

“Bagi pasar modal, ini bukan kabar yang bisa diabaikan, karena sentimen global saat ini sangat sensitif terhadap isu kredibilitas kebijakan dan stabilitas institusi,” tegas Hendra dari keterangan resmi kepada awak media pada malam ini (5/2/2026).

Hendra memproyeksikan, dampak utama penurunan proyeksi Moody’s ini akan terasa pada psikologi pasar dan peningkatan risiko premium, bukan pada pelemahan fundamental ekonomi jangka pendek. Di pasar surat utang, khususnya SBN tenor panjang, terjadi kenaikan yield, pelebaran spread obligasi, serta tekanan arus dana asing di pasar saham, khususnya di emiten berkapitalisasi besar dan emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sehingga secara jangka pendek, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan rentan koreksi. Ini juga ditandai dengan reaksi investor untuk penjualan selektif, bukan penjualan dengan kepanikan psikologis.

Hendra menilai, emiten-emiten BUMN atau terkait dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) akan tertekan, mulai dari tekanan dividen, peran negara dominan, serta potensi kewajiban yang disorot Moody’s, yaitu BPI Danantara.

Secara teknikal, IHSG berpeluang di level 8.000. Namun, ruang koreksi tetap terbuka ke level support di kisaran level 7.888. Di sisi atas, IHSG berada di level resistance di 8.200, yang diperkirakan menjadi tantangan selama sentimen global dan domestik belum sepenuhnya pulih.

“Namun koreksi ini lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi yang sehat, bukan awal dari tren bearish structural,” tutup Hendra dalam keterangan resminya. (*)

# Tag