Analis dan Ekonom Komentari Peringkat Kredit Indonesia Turun Baa2 oleh Moody’s, Saham Apa yang Terdampak?

Analis dan Ekonom Komentari Peringkat Kredit Indonesia Turun Baa2 oleh Moody’s, Saham Apa yang Terdampak?
Ilustrasi pergerakan komposit Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), indeks likuid 45 saham (LQ45), dan indeks terpilih 30 saham (IDX30) di Mainhall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Jumat (6/2/2026). Foto: Nadia K. Putri/SWA

Sejumlah analis dan ekonom merespons atas penilaian lembaga peringkat kredit global, Moody’s Ratings (Moody’s), yang menurunkan proyeksi (outlook) kredit pemerintah Indonesia menjadi Negatif dari Stabil, serta peringkat surat utang dalam mata uang lokal dan asing ke level Baa2. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menegaskan penurunan proyeksi Moody’s tersebut menjadi peringatan terhadap seluruh kebijakan presiden terpilih saat ini.

“Salah satunya kebijakan sulit diprediksi, rmasuk pengambil alihan 28 izin perusahaan ke Danantara yang dimaknai sebagai nasionalisasi aset swasta. Meski mencatat pertumbuhan ekonomi 5,11% pada 2025, risiko kebijakan bisa membuat hambatan pertumbuhan pada 2026,” tegas Bhima pada keterangan tertulis kepada awak media Jumat (6/2/2026).

Bhima menyoroti komunikasi kebijakan dilakukan secara premature, termasuk rencana pelebaran defisit anggaran. Hal ini diproyeksi dapat mengganggu disiplin fiskal. Bhima juga menyoroti soal rencana revisi Undang-Undang (UU) keuangan Negara 2003, dengan mengganti deficit 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini juga menimbulkan penolakan dari sisi investor.

Adapun, \PT MNC Sekuritas menyoroti penurunan peringkat kredit itu membuat sentiment risiko yang lebih hati-hati di seluruh kelas aset. Pasar obligasi atau surat utang berpeluang mengalami tekanan imbal haasil dan selisih yang lebih lebar akibat risiko negara lebih tinggi dan aliran modal asing lebih volatil.

“Saham yang mungkin menghadapi tekanan valuasi jangka pendek, terutama di sektor perbankan, BUMN, dan sektor yang berutang tinggi mengingat sensitivitas terhadap biaya pendanaan dan kredibilitas kebijakan,” jelas Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana dari risetnya pada pagi ini.

Sementara, analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana memandang bahwa penurunan peringkat Moody’s akan memicu koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara jangka pendek. Ini ditandai dengan reaksi investor untuk penjualan emiten-emiten secara selektif, bukan penjualan dengan kepanikan psikologis.

Hendra menilai, misalnya, emiten-emiten yang dinaungi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau terkait dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) akan tertekan. Tekanan itu berupa tekanan dividen, peran negara yang dominan, serta peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara)—yang menjadi perhatian Moody’s.

“Peringatan dari Moody’s tidak bisa dianggap enteng. Jika ke depan terjadi penurunan peringkat kredit yang nyata, disertai memburuknya kualitas regulasi, lemahnya perlindungan investor, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan, maka persepsi global terhadap pasar Indonesia bisa tertekan lebih dalam,” tutur.

Adapun, IHSG pada jelang jeda sesi pertama bergerak koreksi hampir mendekati 3%, yaitu di level 7.8890 atau sekitar 2,6%, melansir dari aplikasi IDX Mobile pada pukul 11.16 WIB. Koreksi ini masih terus berlanjut hingga jeda sesi perdagangan siang ini.

Aplikasi IDX Mobile mencatat, indeks sektor keuangan (IDXFinance) melemah hingga 2% atau sekitar level 1.447 siang ini. Sejumlah bank raksasa seperti PT Bank Central Asia (Tbk) atau BCA (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau Bank Mandiri (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI) terpantau koreksi.

Aplikasi IDX Mobile juga menghimpun data bahwa BBCA turun 1,92% ke Rp7.650, BBNI turun 1,31% ke Rp4.510, BBRI turun 1,30% ke Rp3.800, dan BMRI turun tipis 0,99% ke Rp5.000.(*)

# Tag