Couplepreneur Berbisnis Merakit Kertas yang Menghasilkan Fulus
Sejumlah booth di area Main Lobby JCC (Jakarta Convention Center) Senayan itu dipenuhi para pengunjung yang menyambut hari pertama penyelenggaraan The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2026 di Rabu pekan lalu. Saat menelusuri dan mengamati sejumlah booth yang menjajakan produk di Inacaraft, pandangan SWA.co.id ini tersedot pada robot Gundam Jepang yang setinggi dua meter.
Figura ikonik ini pun menjadi pemikat utama pengunjung, khususnya generasi 1980-an dan 1990-an. Usai membeli produk, para konsumen berfoto bersama dengan Gundam. Tak disangka-sangka, robot Gundam itu dibuat hanya dengan lipatan kertas. Ichinogami Papercraft Expert menjadi penggagas seni melipat kertas di Indonesia. Rauf Raphanus dan Putri Ayu Pratami merupakan pasangan suami istri yang mendirikan bisnis ini sejak 2022.
"Ichinogami pada awalnya terbentuk dari sebuah hobi. Kami memiliki sebuah komunitas bernama Perikertas. Dari komunitas tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan hobi ini menjadi sebuah kegiatan yang bernilai ekonomi," cerita Ferry, Manajemen dari Ichinogami Papercraft Expert kepada SWA.co.id seperti ditulis di Jakarta, pada Senin (9/2//2026).
Ichinogami dinukil dari bahasa Jepang. Ichi yang berarti satu, lalu no sebagai penghubung, dan gami yang berarti merakit kertas. Dengan demikian, Ichinogami diartikan sebagai satu kesatuan dalam merakit kertas.
Potensi Pasar
Ferry menjelaskan, Ichinogami mempunyai tiga tingkatan pada produknya: level pemula (beginner), menengah (medium), dan lanjutan (advanced). Untuk level pemula sebagian besar ditujukan bagi anak-anak sebab proses perakitannya tidak memerlukan gunting. Anak-anak cukup menarik, melipat, dan merekatkan bagian-bagian sesuai pola nomor yang sama menggunakan lem.
Sementara pada level menengah dan lanjutan, proses perakitan memerlukan pengguntingan sesuai dengan pola yang telah ditentukan. Semakin tinggi levelnya, maka akan semakin detail pula pola melipat kertasnya.
Dalam penjualannya, Ichinogami menyasar B2C (business to consumer) dan B2B (business to business). Adapun konsumen B2C, difokuskan kepada anak-anak. Bagi Ferry, papercraft tak hanya sekadar mainan tapi juga bernilai edukatif yang dapat melatih kemampuan motorik halus anak, meningkatkan tingkat fokus, serta mendorong kreativitas. "Kami juga mengangkat pesan utama untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai," imbuhnya.
Salah satu lokakarya Ichinogami dengan dengan Gaikindo Jakarta Auto Week, mengusung konsep yang merekatkan relasi orang tua dan anak-anak pada kegiatan merakit dan mewarnai papercraft agar mengrekasikan interaksi dan kedekatan yang positif.
Sementara untuk konsumen B2B, Ichinogami berkolaborasi dengan berbagai perusahaan. Seperti Transjakarta untuk membuat papercraft berbentuk bus Transjakarta dan halte. Kemudian, Taman Mini Indonesia Indah untuk memproduksi papercraft bertemakan karakter dongeng; hingga peluncuran karakter Smurf pada pemutaran film perdana di Indonesia.
"Terdapat banyak karakter yang ingin kami kembangkan. Namun, dalam praktiknya menghadapi keterbatasan intellectual property (IP). Oleh karena itu, kami memilih untuk menjalin kerja sama dengan mitra B2B," ucap Ferry.
Pendapatan segmen B2B itu memberikan kontribusi terbesar terhadap total pendapatan Ichinogami Papercraft Expert. Sebab, volume pemesanan cukup besar dalam jumlah ribuan unit. Sementara segmen B2C memiliki jumlah peminat yang banyak, namun rata-rata jumlah pemesanan per transaksi relatif kecil. Alhasil, kontribusi pendapatan B2C di bawah B2B.
Kertas SNI dan Ramah Lingkungan
Ichinogami menggunakan kertas ramah lingkungan dan sudah bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Jenis kertas yang digunakan adalah art carton dengan ketebalan 210 gram yang bersifat tahan air terhadap cipratan ringan.
"Dalam satu kali proses produksi, kami biasanya mencetak sekitar 1.000 lembar papercraft dan proses ini dapat dilakukan dua hingga tiga kali, tergantung pada ketersediaan stok," ungkap Ferry.
Di Indonesia, lanjut Ferry, tren seni melipat kertas masih sangat terbatas. Ichinogami pun menyiapkan strategi lewat edukasi pasar seperti aktif bekerja sama dengan sekolah melalui kegiatan lokakarya, hingga perusahaan-perusahaan dalam kegiatan internal seperti family gathering.
Dari sisi pemasaran digital, konsisten memanfaatkan media sosial. Melalui promosi digital, Ichinogami berkolaborasi dengan pusat perbelanjaan dan tempat hiburan anak untuk mengenalkan papercraft.
Kanal Penjualan Offline
Ichinogami mempunyai gerai merchandise di sejumlah titik pusat kota Jakarta: Taman Mini Indonesia Indah, Alun-Alun Grand Indonesia, Sarinah, Stasiun KCIC Halim hingga Ancol (Dufan, Sea World, dan Samudera).
Adapun gerai di Taman Mini Indonesia Indah dan Ancol, menjadi gerai dengan performa penjualan tertinggi. "Alasan utama ketertarikan konsumen terhadap produk merchandise tersebut adalah keunikan produk. Papercraft dinilai berbeda karena mampu menghadirkan bentuk tiga dimensi hanya dari bahan kertas, sehingga menarik sebagai cendera mata," tutur Ferry.
Dari sisi kontribusi penjualan, kanal offline masih menjadi penyumbang terbesar yang berkisar 80–90% dari total penjualan. Kanal ini sangat efektif lantaran apabila lokasi gerai sesuai dengan target pasar.
Targetkan Ekspor
"Kami tengah menyusun pola dan strategi pengembangan produk ke depannya. Selain itu fokus utama kami adalah upaya untuk mengekspor produk papercraft ke luar negeri," ucap Ferry.
Ferry bercerita bahwa Ichinogami telah mengikuti pameran di beberapa negara seperti Belanda, Rusia dan Jepang. Meskipun produknya sudah dikenal dan diminati, ekspor secara berkelanjutan masih memerlukan kesiapan dari sisi jalur distribusi dan mekanisme pengiriman.
Oleh karena itu, Ichinogami pada tahun mendatang adalah mulai merealisasikan ekspor secara lebih terstruktur. "Untuk tahap awal, kami menargetkan negara terdekat seperti Singapura dan Malaysia," pungkasnya. Semoga terealisasi ekspornya ya! Amin. (*)