CEO Danantara Indonesia Menjabarkan 4 Proyek di Luar Negeri Senilai Rp202 Triliun
Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) atau Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, menjabarkan rencana sejumlah proyek yang digarap sepanjang tahun 2026.
Rosan merincikan proyek paling besar berupa pengembangan fasilitas pengolahan sampah atau limbah menjadi energi listrik atau Waste to Energy (WTE) di 33 kota. Proyek bertajuk Wamena itu diproyeksikan menyedot investasi senilai Rp84 triliun.
Kemudian, proyek pengembangan fasilitas soda kaustik untuk menyokong industri hilirisasi, yang disebut proyek Cordova. Investasi di proyek ini senilai Rp13,4 triliun.
Selanjutnya, proyek pusat atau data centre, bernama Fukuoka dengan nilai investasi sebesar Rp21 triliun. Proyek ini menggandeng operator pusat data global.
Terakhir, proyek investasi di bidang agrikultur bernama Johor sebesar Rp84 triliun. Proyek tersebut akan menggandeng perusahaan Australia, dan diklaim menciptakan lapangan kerja di Indonesia. Seluruh proyek-proyek tersebut bakal mengakseleras pertukaran wawasan atau transfer knowledge.
“Ini adalah beberapa proyek yang tahun ini, selain 20 proyek realisasi, tetapi juga adalah waste to energy, investasi di soda kaustik, di perkembangan data center platform bersama operator global, dan investasi di Australia, itu kurang lebih nilai-nilai investasinya,” jelas Rosan dalam pemaparan di acara Indonesia Economy Outlook 2026 di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta pada Jumat (13/2/2026). Total investasi di seluruh proyek tersebut mencapai Rp202,4 triliun.
Adapun, 6 proyek hilirisasi yang telah dilakukan groundbreaking pada 6 Februari 2026, total investasinya diklaim mencapai sekitar US$7 miliar. Dari sisi mineral, ada dua proyek alumina menjadi aluminium dan proyek bauksit menjadi smelter-grade alumina. Keduanya digarap di Mempawah, Kalimantan Barat.
Dari sisi energi, ada dua proyek bioavtur dari UCO di Cilacap, Jawa Tengah dan proyek bioetanol di Banyuwangi, Jawa Timur. Terakhir, dari sisi pangan dan agrikultur, terdapat proyek pengembangan bisnis ayam di berbagai wilayah di Indonesia. Kemudian, proyek pengolahan garam industri di Gresik, Jawa Timur.
Selebihnya, masih ada 14 proyek lain dengan total investasi mencapai US$19 triliun. Di sisi mineral, ada hilirisasi batu bara ke dimetil eter (DME), produksi copper rod, wire dan tube, pengolahan aspal buton (asbuton), produksi besi baja dari pasir besi.
Masih di sisi mineral, Danantara Indonesia juga menggarap proyek produksi stainless steel slab dari nikel, manufaktur modul surya yang terintegrasi dari bauksit dan silika, serta pengolahan mangan sulfat.
Kemudian di sisi energi, ada dua proyek, yaitu pengembangan pemurnian minyak domestik (oil refinery) dan pengembangan kapasitas penyimpanan minyak bumi.
Selebihnya, 5 proyek pangan dan agrikultur. Ini mulai dari hilirisasi rumput laut menjadi karagenan, pengembangan produk turunan minyak sawi (oleofood), hilirisasi pala menjadi oleoresin, pengembangan ekosistem produksi ikan tilapia (nila) dan hilirisasi kelapa terintegrasi. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.