Nagita Slavina Mau Menjadi Pengendali Satu Visi Putra, RANS Entertainment Diduga Backdoor Listing di VISI
Nagita Slavina sedang bernegosiasi untuk mengakuisisi dan menjadi calon pengendali baru PT Satu Visi Putra Tbk (VISI). Manajemen VISI menyampaikan proses masih dalam tahap awal dan belum berdampak signifikan terhadap operasional, aspek hukum, maupun kondisi keuangan perseroan. Investor berspekulasi bahwa langkah ini berpotensi menjadi jalan backdoor listing bagi RANS Entertainment lantaran rencana IPO RANS yang sudah lama beredar namun belum terealisasi.
“Aksi ini masih bersifat event driven dan spekulatif karena belum ada detail terkait nilai transaksi, struktur pengambilalihan, maupun rencana bisnis pasca-akuisisi. Dalam jangka pendek, sentimen figur publik berpotensi mendorong volatilitas harga saham VISI,” demikian pernyataan dari tim periset PT BRI Danareksa Sekuritas di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Namun untuk jangka menengah-panjang, arah pergerakan saham akan sangat bergantung pada kejelasan skema transaksi, potensi dilusi, serta fundamental bisnis yang akan dimasukkan ke dalam entitas publik. Pada perdagangan 12 Februari 2026 saham VISI justru terkena tekanan jual dan turun auto reject bawah (ARB) yang mencerminkan aksi sell on news setelah reli tajam lebih dari 300% dalam sebulan terakhir.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama Satu Visi Putra, David Dwiputra, mengeklaim masuknya Nagita Slavina selaku calon pengendali baru tidak berdampak signifikan terhadap kegiatan operasional, hukum, keuangan, hingga kelangsungan usaha perseroan.
“Pada 11 Februari 2026, perseroan telah menerima surat pemberitahuan atas pengumuman negosiasi yang dilakukan oleh Nagita Slavina, selaku calon pengendali baru, dengan pemegang saham penjual atas rencana pengambilalihan saham-saham PT Satu Visi Putra Tbk,” terang David pada keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di pekan lalu.
Sebelumnya, manajemen VISI belum dapat mengungkapkan pemilik manfaat atau Ultimate Beneficial Ownership (UBO), yang diumumkan di keterbukaan informasi BEI pada 9 Februari 2026.“Perseroan belum memahami secara menyeluruh tata cara pengisian Form E009 terkait Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek dan/atau Perubahan Struktur Pemegang Saham,” jelas David.
Saat itu, perseroan mengonfirmasikan UBO perorangan adalah David Dwiputra, selaku pemegang saham pengendali VISI sekaligus Direktur Utama VISI. Sebelumnya, manajemen VISI menyampaikan laporan bulanan registrasi pemegang efek yang berakhir pada 31 Desember 2025. Hasilnya, David Dwiputra masih menjadi pengendali perseroan. Saat itu, David memegang 71,54% saham VISI atau sebanyak 2,2 miliar saham.
Kemudian, Direktur VISI, yaitu Farrel Yonathan, tercatat menjadi pemegang saham perseroan dalam laporan tersebut. Farrel menguasai 200 juta saham atau 6,51%. Sedangkan Komisaris VISI, Robert Putra Sampurna memegang 60 juta saham atau 1,95%.
VISI melantai di BEI atau IPO pada 27 Februari 2024. Emiten yang bergerak di industri peralatan kantor ini tercatat mengalami fluktuasi harga saham sejak IPO. Misalnya pada 31 Juli 2024, harga VISI melonjak ke Rp585. Lalu turun ke Rp195 pada 30 Agustus 2024 dan melonjak ke Rp416 pada 31 Oktober 2024.
Harga saham VISI juga pernah turun signifikan ke Rp90 pada 30 Desember 2024, kemudian harganya stagnan di rentang Rp132 sampai Rp157 sejak 31 Januari 2025 sampai 30 September 2025. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.