Bangsa Besar yang Terlihat Kecil di Rumah Sendiri: Catatan Founder MAK soal Industri Manufaktur Indonesia
Kantor Mega Andalan Technopark yang tenang di Yogyakarta menjadi latar percakapan di medio Februari 2026 itu. Buntoro, pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK) tidak sedang membicarakan lini produksi secara teknis. Perhatiannya justru berulang kali kembali pada satu hal yang lebih luas: posisi industri dalam negeri di pasar domestik.
MAK adalah perusahaan manufaktur peralatan rumah sakit. Di situs resminya (Mega Andalan Kalasan), perusahaan ini memosisikan diri sebagai engineering dan manufacturing company dengan portofolio hospital equipment — mulai dari kategori beds hingga perlengkapan operating room. MAK juga menampilkan skala operasinya: 29 tahun pengalaman, 700+ karyawan, area produksi 140.000 meter persegi, kapasitas produksi setara 150.000 bed per tahun, serta klaim ekspor ke 51 negara.
Kegelisahan
Dari skala itulah, Buntoro membaca kontras yang mengganggunya: sebuah pabrik yang mampu memproduksi hospital equipment dan menembus pasar ekspor, tetapi tetap harus berhadapan dengan derasnya arus barang jadi dari luar negeri di pasar domestik. Ia mengatakan, setiap kali melihat kapal-kapal raksasa bersandar di pelabuhan dan menurunkan kontainer berisi barang impor, ia merasakan pertanyaan yang sama kembali muncul.
Kegelisahan serupa muncul ketika ia berjalan di pusat perbelanjaan dan membaca label “Made in” dari berbagai negara. Dari pengamatan-pengamatan itu, satu pertanyaan terus berulang dalam pikirannya: di mana produk kita, dan di mana kebanggaan kita.
“Kita ini seperti hanya menyiapkan karpet merah untuk produk asing,” ujarnya lirih namun tegas kepada SWA.co.id. “Sementara industri dalam negeri dibiarkan berjalan sendirian, tertatih-tatih.”
Buntoro mengatakan pengamatannya bukan datang dari kejauhan. Di sektor hospital equipment yang digelutinya, ia melihat pemain global masih sangat dominan.
Ia juga menunjuk fenomena yang menurutnya makin mudah ditemukan: banyak kawasan industri yang justru diisi perusahaan asing, sementara perusahaan lokal jumlahnya jauh lebih sedikit. “Sungguh memprihatinkan bila kondisi ini terus dibiarkan,” katanya.
Sebagai pelaku manufaktur, ia menyebut memahami betul proses membangun industri dari nol. Ia bercerita tentang perizinan yang berlapis, biaya produksi yang terus naik, hingga persaingan harga yang kerap tidak seimbang.
Namun, yang paling mengganggunya bukan semata kompetisi global. Ia mengatakan persoalan yang lebih mendasar adalah ketika negara, dalam pandangannya, seolah belum sepenuhnya hadir.
Dari pengalaman itu, ia melihat ironi yang menurutnya sulit diabaikan: Indonesia memiliki sumber daya besar, populasi ratusan juta jiwa, dan pasar domestik luas, tetapi tetap bergantung pada barang jadi dari luar negeri. “Kita ini bangsa besar, tapi terlihat kecil di rumah sendiri,” katanya lirih.
Dalam pandangannya, posisi Indonesia yang lebih sering menjadi pasar membuat nilai tambah banyak tercipta di luar negeri. Ia mengaitkan masuknya produk impor dengan rangkaian konsekuensi: lapangan kerja terbuka di negara lain, teknologi berkembang di tempat lain, sementara generasi muda Indonesia menghadapi keterbatasan peluang.
Baginya, ini bukan sekadar persoalan ekonomi. “Sampai kapan kita begini?” tanyanya masygul.
Lebih produktif
Meski demikian, Buntoro menolak melihat situasi ini sebagai jalan buntu. Ia mengatakan tidak ada kata terlambat bagi Indonesia untuk memperkuat basis produksi sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Dalam gagasannya, salah satu kunci praktis adalah memaksimalkan pemanfaatan lahan untuk kegiatan industri, dengan penataan yang terencana dan tanpa mengabaikan peran pertanian.
“Tanah itu jangan hanya diam. Ia harus bekerja lebih produktif, ” ujarnya tegas.
Ia menjelaskan masih banyak lahan di berbagai daerah — terutama di Jawa — yang pemanfaatannya belum optimal. Apa yang dilihatnya?
Di satu sisi, kebutuhan penciptaan kerja meningkat. Di sisi lain, potensi lahan industri belum tergarap secara sistematis. Karena itu ia membayangkan setiap kabupaten memiliki zona industri terencana, sentra manufaktur berbasis potensi lokal, klaster produksi terintegrasi dengan UMKM, serta ekosistem pendukung seperti logistik, pelatihan tenaga kerja, dan pemasok.
Bagi Buntoro, industrialisasi bukan sekadar membangun pabrik, melainkan membangun rantai nilai ekonomi yang saling terhubung. Ia kerap menyampaikan ilustrasi perbandingan yang menurutnya sederhana: satu hektar lahan pertanian hanya menyerap tenaga kerja terbatas dan menghasilkan nilai ekonomi relatif kecil, sedangkan satu hektar lahan industri dapat menyerap puluhan tenaga kerja, menghasilkan nilai produksi lebih besar, memicu usaha pendukung, dan menggerakkan ekonomi lokal.
“Kalau satu hektar bisa menciptakan 50 pekerjaan, bayangkan jika ribuan hektar dioptimalkan,” katanya.
Dari sudut pandangnya, pengangguran bukan semata persoalan jumlah penduduk, tetapi juga kurangnya aktivitas ekonomi bernilai tambah tinggi. Karena itu ia menempatkan industri sebagai salah satu motor pencipta lapangan kerja formal: mulai dari pekerjaan tetap hingga pembentukan keahlian teknis.
Ia juga menilai dampaknya akan lebih cepat terasa jika pemerintah daerah berani menyusun master plan pemanfaatan lahan berbasis industri. “Jangan biarkan tanah menganggur sementara rakyat menganggur,” katanya.
Nilai tambah
Buntoro menegaskan gagasannya bukan untuk menyingkirkan pertanian. Pangan, menurutnya, tetap vital. Namun untuk mendorong lompatan ekonomi, ia menilai Indonesia membutuhkan sektor yang mampu menciptakan nilai tambah lebih tinggi, sebagaimana negara-negara maju yang bertumbuh melalui industrialisasi.
“Kita punya pasar besar. Mengapa tidak kita isi dengan produk sendiri?” ujarnya.
Menjelang akhir percakapan, nadanya kembali tenang. Ia mengatakan siap berbagi pengalaman kepada siapa pun yang ingin membangun industri. Ia juga menegaskan dirinya bukan anti-asing. Yang ia dorong adalah posisi yang lebih seimbang bagi industri nasional di pasar domestik.
“Bangsa besar tidak boleh puas hanya menjadi pasar.” (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.