JPMorgan Lempar Skenario “Gila”: Emas Bisa Tembus US$8.000 per Ons di 2028

JPMorgan Lempar Skenario “Gila”: Emas Bisa Tembus US$8.000 per Ons di 2028

Di tengah reli harga emas yang terus mencetak rekor tertinggi baru, pasar komoditas global dikejutkan oleh sebuah proyeksi jangka panjang yang cukup provokatif. JPMorgan Chase memperkirakan bahwa dalam skenario pasar paling menguntungkan, harga emas berpotensi melonjak hingga US$8.000 per ons pada 2028.

Proyeksi ini termasuk salah satu asumsi paling optimistis sejak masa pandemi, sekaligus menandakan keyakinan analis bahwa emas mungkin memasuki “siklus besar” (super cycle) baru.

Berbeda dengan lonjakan harga pada krisis keuangan 2008 maupun era pandemi 2020, kenaikan kali ini berlangsung di bawah lanskap ekonomi yang jauh lebih kompleks. Mengacu pada laporan yang dikutip dari The Economic Times pada Kamis (26/2), emas dinilai tidak lagi sekadar merespons inflasi, tetapi juga risiko sistemik global: utang publik yang meningkat, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, serta tekanan restrukturisasi pada sistem keuangan.

Menurut JPMorgan, pendorong utama berada pada pergeseran struktural alokasi aset global. Jika sebagian kecil saja arus modal internasional bergeser lebih besar ke emas sebagai lindung nilai strategis, harga saat ini berpotensi mengalami “penilaian ulang” ke level yang jauh lebih tinggi.

Faktor lain adalah pembelian emas oleh bank sentral. Dalam dua tahun terakhir, pembelian bersih global konsisten berada di level tertinggi dalam beberapa dekade. Aliran ini cenderung bersifat jangka panjang, kurang spekulatif, dan umumnya tidak cepat dilepas hanya karena koreksi harga kecil.

Selain itu, prospek penurunan suku bunga global dalam jangka menengah juga dipandang sebagai katalis potensial. Ketika suku bunga turun, biaya peluang memegang emas ikut menurun, sehingga daya tarik logam mulia ini meningkat.

Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, JPMorgan menyusun skenario di mana nilai emas dapat naik signifikan — bahkan berlipat dari level saat ini — sebelum 2028.

Meski prospek jangka panjangnya terlihat menarik, pasar emas tetap tidak kebal terhadap koreksi. Sejarah menunjukkan, setiap fase kenaikan yang kuat kerap diikuti penurunan tajam sekitar 10–20% dalam waktu relatif singkat.

Jika ekonomi global pulih lebih baik dari perkiraan, imbal hasil obligasi kembali naik, atau terjadi pergeseran modal yang agresif ke ekuitas dan aset berisiko, emas berpotensi berada di bawah tekanan. Selain itu, perubahan mendadak arah kebijakan moneter juga dapat memicu volatilitas yang signifikan.

Namun, ada satu perbedaan penting dibanding siklus sebelumnya: basis pendorongnya kini tampak lebih luas. Alih-alih bergantung pada satu faktor seperti inflasi, momentum emas didorong dari berbagai arah—mulai dari strategi cadangan, lindung nilai risiko, hingga reposisi portofolio global.

Meski demikian, tidak semua lembaga keuangan memasang target setinggi itu. Sejumlah analis lain memperkirakan kisaran US$4.500–5.500 dalam beberapa tahun ke depan, dengan argumen bahwa tren kenaikan tetap berlanjut, tetapi kecil kemungkinan “meledak” terlalu cepat.

Perbedaan pandangan ini menegaskan satu hal: pasar emas sedang berada di titik kritis. Satu kubu meyakini dunia memasuki periode ketidakstabilan berkepanjangan sehingga emas menjadi lindung nilai strategis. Kubu lain menilai laju kenaikan saat ini bisa melambat jika kondisi ekonomi membaik.

Untuk saat ini, emas masih mempertahankan permintaan yang relatif stabil bahkan ketika pasar mengalami koreksi jangka pendek. Stabilnya arus modal menunjukkan bahwa logam mulia ini kian dipandang melampaui peran tradisionalnya sebagai pelindung nilai dari inflasi.

Jika tren akumulasi strategis terus meluas dan ketidakpastian global tidak mereda, peluang emas mencapai level harga yang belum pernah terjadi sebelumnya tetap sulit untuk dikesampingkan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag