Ekspor CPO Indonesia Naik 59% di Awal 2026, Permintaan Terbesar dari India
Ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya mengawali tahun 2026 dengan kinerja positif. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), nilai pengiriman komoditas andalan Indonesia ini naik signifikan pada Januari, meski pertumbuhan tersebut belum cukup untuk menahan tren penyusutan surplus neraca perdagangan nasional.
Nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari 2026 tercatat mencapai US$ 2,29 miliar. Angka ini menunjukkan lompatan besar dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya sebesar US$ 1,44 miliar.
"Ekspor minyak sawit kita naik 59,63% secara tahunan (year-on-year/yoy)," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (2/3).
Dari sisi volume, juga terjadi kenaikan signifikan sebesar 77,07% (yoy), dari 1,27 juta ton menjadi 2,24 juta ton. Sektor sawit kini menyumbang sekitar 10,78% dari total nilai ekspor non-migas Indonesia pada bulan pertama tahun ini.
Meskipun volume ekspor menunjukkan kenaikan, dinamika harga di pasar internasional menunjukkan tren yang beragam. Harga CPO global pada Januari menguat 1,81% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month), dengan rata-rata US$ 997,82 per metrik ton. Namun, jika dibandingkan dengan Januari tahun lalu, harga tersebut sebenarnya masih terkoreksi sebesar 6,77%.
Di sisi lain, performa ekspor sawit yang kuat ini masih belum bisa mengangkat posisi surplus perdagangan Indonesia secara keseluruhan. Neraca perdagangan barang Indonesia tercatat merosot tajam menjadi hanya US$ 950 juta pada awal tahun ini, turun drastis dari US$ 2,51 miliar pada Desember 2025. Angka ini juga jauh di bawah surplus Januari 2025 yang mencapai US$ 3,49 miliar.
Meski menyusut, Indonesia masih berhasil mempertahankan rekor surplus perdagangan selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Dinamika Pasar: India Menguat, China Melambat
Pasar global terus menunjukkan volatilitas. Permintaan kuat datang dari India, pembeli sawit terbesar dunia, yang mencatatkan kenaikan impor sebesar 51% pada Januari ke level tertinggi dalam empat bulan. Harga sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak kedelai mendorong para penyuling di India meningkatkan pembelian secara masif.
Namun, sentimen pasar sedikit tertahan oleh melemahnya data indeks manajer pembelian (PMI) dari China, yang mengindikasikan perlambatan ekonomi di negara konsumen utama tersebut. Sementara itu, persaingan dari Malaysia juga membayangi seiring penguatan mata uang Ringgit yang cenderung menekan daya saing ekspor mereka.
Di tengah optimisme ekspor, arah kebijakan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan pergeseran prioritas. Pemerintah kini lebih menekankan pemanfaatan minyak sawit untuk kebutuhan dalam negeri sebagai bagian dari agenda kemandirian energi.
Pemerintah tengah menggenjot produksi biodiesel dan bahan bakar aviasi (bioavtur) berbasis sawit. Kebijakan ini mengarahkan CPO dan produk sampingannya—termasuk minyak goreng bekas—untuk produksi biofuel domestik, yang diprediksi akan memperketat keran ekspor di masa depan.
Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan menstabilkan biaya energi nasional. Meski demikian, para pelaku industri memperingatkan bahwa tanpa pertumbuhan produksi yang signifikan, kebijakan ini berpotensi memicu tarik-ulur antara kebutuhan mandat domestik dan potensi devisa dari ekspor global. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.