Pendapatan Watsons Indonesia (DAYA) Melonjak ke Rp2,76 T dan Laba Rp73,74 M pada 2025

Pendapatan Watsons Indonesia (DAYA) Melonjak ke Rp2,76 T dan Laba Rp73,74 M pada 2025

PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) atau pengelola merek Watsons Indonesia (DAYA) membukukan laba bersih sebesar Rp73,74 miliar pada 31 Desember 2025. Kinerja tersebut melesat signifikan hingga 61,46% dari Rp45,46 miliar pada 31 Desember 2024. Sementara pendapatan perseroan turut melonjak pada tahun 2025. Hal ini ditunjukkan dengan kinerja pada tahun 2025 sebesar Rp2,76 triliun, meroket 34,34% dari Rp2,06 triliun pada tahun 2024.

Secara umum, pendapatan perseroan berasal dari penjualan barang dan kegiatan promosi. Perseroan mengoperasikan dan mengelola bisnis dalam satu segmen yang menjual produk kesehatan dan kecantikan, parfum dan kosmetik di Indonesia. Segmen ini mencatat pendapatan sebesar Rp1,69 triliun dari Rp1,24 triliun. Kemudian, penjualan konsinyasi sebesar Rp1,06 triliun dari Rp818,63 miliar.

“Sepanjang tahun 2025 dan 2024, Grup tetap berfokus pada strategi dan langkah-langkah untuk mempertahankan bisnis dan melanjutkan arah kebijakan untuk menjadi pengecer pilihan untuk kesehatan dan kecantikan pada offline plus online (O2o) di Indonesia,” jelas manajemen Duta Intidaya pada laporan keuangan di laman keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Minggu (8/3/20260.

Strategi O2O tersebut diklaim memberikan pengalaman ritel di toko fisik dan daring yang lancar, fokus pada penawaran produk dan layanan, inisiatif untuk meningkatkan pengalaman berbelanja, hingga mengembangkan jangkauan lewat situs dan aplikasi.

Manajemen perseroan juga mengeklaim, telah menggunakan konektivitas pelanggan lebih kuat untuk meningkatkan pertumbuhan dan margin laba, serta arus kas perseroan.

Namun, beban pokok pendapatan membengkak 33,50% menjadi sebesar Rp1,83 triliun dari Rp1,37 triliun. Sehingga ini membuat laba bruto DAYA menjadi sebesar Rp931,65 miliar, meningkat 36,04% dari Rp684,80 miliar.

Sejumlah beban meningkat pada tahun 2025. Misalnya, beban usaha membengkak sebesar Rp795,76 miliar dari Rp594,71 miliar. Biaya keuangan juga membengkak lebar sebesar Rp26,30 miliar dari Rp16,44 miliar.

Namun, kerugian selisih kurs bersih berhasil ditekan menjadi Rp746,01 juta dari Rp3,42 miliar. Beban lain-lain yang bersih juga berhasil disusut menjadi Rp1,49 miliar dari Rp4,99 miliar. Sedangkan penghasilan keuangan, melesat sebesar Rp1,87 miliar dari Rp1,55 miliar.

Dari sisi neraca, DAYA mempertahankan jumlah aset sebesar Rp1,24 triliun pada tahun 2025. Pos ini meningkat 27,39% dari Rp975,10 miliar pada tahun 2024.

Total aset tersebut meroket karena persediaan bersih menembus Rp101 miliar, yang berasal dari penambahan pembelian barang dagangan yang disertai dengan kenaikan jumlah gerai. Per 31 Desember 2025, perseroan memiliki 226 gerai dari 179 gerai pada 31 Desember 2024.

Adapun, jumlah liabilitas perseroan membengkak 21,22% menjadi Rp1,10 triliun pada tahun 2025. Padahal, DAYA sebelumnya mencatatkan jumlah liabilitas sebesar Rp912,02 miliar pada tahun 2024.

Penyebabnya, dipicu oleh utang usaha sebesar Rp94,2 miliar, penarikan pinjaman bank jangka pendek dari PT HSBC Indonesia Rp82 miliar, dan liabilitas imbalan kerja jangka pendek sebesar Rp16,8 miliar.

Terkait jumlah tenaga kerja, DAYA mencatat terjadi peningkatan per 31 Desember 2025 sebanyak 1.738 karyawan. Tahun sebelumnya, sebanyak 1.445 karyawan per 31 Desember 2024.

Dari sisi laba per saham, DAYA membukukan kenaikan sebesar Rp30,47 per saham pada tahun 2025. Padahal sebelumnya, laba per saham perseroan hanya Rp18,87 per saham pada tahun 2024.

“Grup secara berkelanjutan melakukan penghematan biaya operasional di berbagai lini, baik di kantor pusat maupun di toko-toko offline, sekaligus memastikan investasi yang tepat sasaran dalam mempromosikan kesadaran terhadap brand Watsons,” tutup manajemen perseroan. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag