Handojo G. Kusuma: Membangun Kepemimpinan Berbasis Kepercayaan

Handojo G. Kusuma: Membangun Kepemimpinan Berbasis Kepercayaan
Handojo G. Kusuma, Presiden Direktur PT AXA Mandiri Financial Services. (Dok: Pribadi)

Di tengah dinamika industri jasa keuangan yang dinamis —ditandai oleh percepatan digitalisasi, ekspektasi nasabah yang kian tinggi, serta tuntutan tata kelola yang semakin ketat — peran CEO tak lagi sekadar sebagai pengambil keputusan strategis. Seorang CEO dituntut menjadi penjaga kepercayaan, penggerak budaya, sekaligus penunjuk arah masa depan organisasi.

Berakar pada Kepercayaan

Itulah yang diyakini Handojo G. Kusuma, Presiden Direktur PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri). “Saya berupaya membangun kepemimpinan yang berakar pada kepercayaan (trust) dan manusia sebagai pusat strateginya,” kata profesional yang menduduki posisi CEO di perusahaannya ini sejak November 2018.

Bagi Handojo, kepercayaan bukanlah sesuatu yang muncul secara instan, melainkan fondasi yang harus dibangun secara konsisten dan terukur. Menurutnya, komunikasi yang transparan dan empatik membantu semua stakeholder menepati komitmen dan memahami alasan di balik setiap keputusan. Adapun komunikasi yang terbuka dengan pelanggan membangun rasa aman dan kredibilitas. Namun, semua itu harus terukur untuk memastikan semua berjalan dengan tepat.

Salah satu hal penting bagi pemimpin ialah mengomunikasikan visi perusahaan. Menurut Handojo, para pemimpin di AXA Mandiri mengomunikasikan visi melalui cerita, konsistensi, keteladanan, dan keterlibatan seluruh tim.

“Komunikasikan visi perusahaan secara jelas, sederhana, dan bermakna agar mudah dipahami serta diingat,” katanya. Dalam beberapa kesempatan, penyampaian visi dikemas dalam bentuk narasi tentang tujuan besar AXA Mandiri dan dampak yang ingin diciptakan.

Untuk mewujudkan visi perusahaan, fokus utama perusahaan asuransi ini ialah berinvestasi pada peningkatan kualitas SDM. “Kami percaya bahwa strategi apa pun hanya dapat berjalan efektif ketika dijalankan oleh talenta yang kompeten, memiliki pola pikir kepemimpinan yang tepat, dan beroperasi dalam budaya kerja yang sehat,” kata pemegang gelar Master Computer Science & Finance dari Western Michigan University ini.

AXA Mandiri mengembangkan program pelatihan kepemimpinan yang unik dan berjenjang. Pelatihan ini tidak hanya memperkuat kemampuan manajerial, tetapi juga membangun karakter pemimpin yang adaptif dan empatik.

Selain itu, pihaknya pun menanamkan budaya kolaborasi, baik di internal maupun dalam relasinya dengan para mitra strategis. Ia percaya bahwa inovasi dan percepatan hanya dapat tercapai ketika setiap individu dan unit bekerja erat, saling mendukung, dan berbagi pengetahuan.

Melalui investasi pada SDM dan penguatan budaya kerja, Handojo ingin memastikan strategi perusahaan tidak hanya direncanakan dengan baik. Namun, juga dijalankan dengan penuh komitmen dan rasa kepemilikan oleh semua awak AXA Mandiri.

Ketegasan Handojo sebagai CEO tecermin dalam pengelolaan prioritas dan alokasi sumber daya. “Prinsip saya adalah menempatkan sumber daya perusahaan pada titik yang paling berdampak terhadap keberhasilan strategi,” katanya.

Selain itu, perusahaan menetapkan pula Key Performance Indicators (KPI) yang terukur dan relevan, sehingga arah eksekusi menjadi jelas dan fokus. Menurut Handojo, KPI ini bukan hanya indikator kinerja, tetapi juga alat untuk menjaga disiplin organisasi dalam menjalankan prioritas.

“Sebagai CEO, saya percaya bahwa pengelolaan prioritas bukan sekadar memilih apa yang dikerjakan, tetapi juga berani menentukan apa yang tidak perlu dilakukan,” ia menegaskan.

Bagi AXA Mandiri, budaya inovasi juga merupakan hal penting, yang berangkat dari filosofi Care & Dare for Progress. “Inovasi bukan dimulai dari teknologi, melainkan dari mindset,” ujarnya.

Karena itu, ia menanamkan keberanian untuk mencoba, kesiapan merespons perubahan, serta rasa memiliki terhadap perusahaan. Melalui berbagai program pembelajaran dan kampanye internal, setiap karyawan didorong untuk merasa bahwa ide mereka memiliki arti.

Setelah fondasi pola pikir terbentuk, perusahaan ini membangun ekosistem yang aman dan kolaboratif, lengkap dengan psychological safety —mulai dari inisiatif seperti TDAI (Teknologi Data & AI), innovation sprint, hingga forum ide yang membuat siapa pun bisa menyumbangkan gagasan tanpa batasan jabatan. Tahap berikutnya, Ideation Challenge dan pengembangan platform ide digital untuk memastikan bahwa gagasan yang muncul tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diterjemahkan menjadi solusi nyata.

AXA Mandiri. (Foto: axa-mandiri.co.id)
AXA Mandiri. (Foto: axa-mandiri.co.id)

Pipeline Kepemimpinan

Dalam konteks pengembangan kualitas SDM, Handojo memberikan perhatian besar terhadap pengembangan pemimpin masa depan. Untuk itu, AXA Mandiri membangun pipeline kepemimpinan yang terintegrasi, memastikan organisasi memiliki calon pemimpin yang adaptif dan berintegritas. AXA Mandiri juga menanamkan nilai-nilai adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada pengambilan keputusan berbasis data.

Nilai-nilai tersebut diperkuat melalui kurikulum kepemimpinan yang dikembangkan bersama dengan AXA Group dan Bank Mandiri, termasuk pelatihan global, exposure internasional, serta akses terhadap praktik terbaik dalam industry-leading leadership development. Dengan kombinasi proses talent management yang sistematis, pengembangan kepemimpinan yang terstruktur, serta budaya perusahaan yang mendukung pembelajaran dan kolaborasi, AXA Mandiri membangun fondasi kuat untuk mencetak para pemimpin masa depannya.

Selama memimpin AXA Mandiri, Handojo merasa pelajaran terbesar yang diperolehnya ialah bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh strategi dan proses, tetapi juga oleh kemampuan untuk berkolaborasi secara tulus dan transparan sebagai satu tim. Keterbukaan dalam berbagi informasi, tantangan, dan solusi menjadi fondasi kepercayaan sekaligus membantu mempercepat pengambilan keputusan.

Pengalaman itu membentuk gaya kepemimpinannya menjadi lebih kolaboratif, inklusif, dan berorientasi pada solusi. Ia juga menekankan prinsip customer first agar setiap keputusan bisnis selaras dengan kebutuhan nasabah dan mendorong organisasi bergerak lebih adaptif dan inovatif.

Sebagai pemimpin di industri asuransi, Handojo ingin meninggalkan legacy berupa kemudahan akses untuk perlindungan asuransi bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang sosial-ekonomi. Strateginya, dengan mengembangkan produk yang inklusif dari asuransi mikro, memberikan solusi komprehensif bagi segmen mass affluent, serta perluasan distribusi lewat kolaborasi dengan Bank Mandiri dan integrasi digital seperti Livin’ by Mandiri.

“Warisan kepemimpinan yang paling bermakna adalah ketika semakin banyak masyarakat Indonesia terlindungi dan lebih tangguh secara finansial dalam menghadapi ketidakpastian,” katanya. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag