Friderica Widyasari Dewi Gemar Berinvestasi Properti dan Emas
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rapat Paripurna di 12 Maret 2026 menetapkan lima Anggota Dewan Komisioner (ADK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). DPR menetapkan antara lain Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kiki, demikian sapaan akrabnya Friderica, pernah mengemban amanah sebagai Direktur Pengembangan Pasar PT Bursa Efek Indonesia periode 2009-2015. Kemudian, dia menjabat Direktur Keuangan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) periode 2015-2016. Sebelum Kiki menjabat Direktur Keuangan KSEI, Majalah SWA memuat artikel mengenai strategi Kiki menyisihkan penghasilannya untuk berinvestasi properti dan emas. Rubrik Investasi di Majalah SWA edisi 14 - 28 Oktober 2015 itu menyajikan pengalaman Kiki melipatgandakan asetnya.
Kala itu, portofolionya lebih banyak di properti. Ia “ketagihan” membeli apartemen dan rumah di pasar sekunder. Investasi di properti membutuhkan dana tunai yang cukup jumbo. Dia bisa menyiasati dan meraup keuntungan. Bagaimana triknya?
Produk investasi itu bermacam-macam jenisnya. Ada yang berupa produk efek, properti ataupun emas. Itu menjadi pilihan berinvestasi bagi setiap investor. Umumnya, ruang gerak investor lebih leluasa untuk memilih jenis investasinya. Namun, pengecualian diberikan kepada investor yang mengemban jabatan sebagai direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), selaku otoritas di pasar modal. Ruang geraknya agak terbatas untuk membeli produk efek, terutama saham.
Hal itu terkait dengan aturan yang tidak memperkenankan regulator dan pengelola pasar modal membeli saham secara langsung. Direksi BEI harus mematuhinya. Friderica Widyasari Dewi, misalnya, mematuhi aturan tersebut. Mantan Direktur Pengembangan Bursa BEI periode 2009-2015 ini, membeli reksa dana saham sebagai pilihan investasinya.
Saham merupakan aset dasar (underlying asset) reksa dana saham. Manajer investasi mengelola modal nasabahnya untuk diinvestasikan di saham prospektif. Dengan demikian, investor tidak langsung membeli saham, sehingga ia memilih skema berinvestasinya di reksa dana tersebut.
Kiki meretas kariernya di BEI setelah merampungkan kuliah pascasarjana di Amerika Serikat tahun 2002-2004. Ia semakin akrab dengan dunia investasi ketika tinggal di negeri adidaya itu. Menurutnya, investasi adalah topik perbincangan sehari-hari di AS. Sementara di Indonesia topik ini kurang akrab di telinga, khususnya bagi masyarakat awam.
“Waktu kuliah di sana, saya tinggal di house family Amerika. Anggota keluarganya sering membicarakan dunia investasi sebagai topik perbincangan di sela-sela waktu luangnya,” ujar wanita yang menyandang gelar MBA bidang keuangan dari California State University of Fresno, AS ini mengenang seperti dikutip SWA.co.id di Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Warga AS rata-rata melek investasi dan saham, serta berinvestasi di properti. Kiki acap kali bertukar pikiran dengan anggota keluarga tersebut selama kuliah di AS. Komunikasinya semakin intensif hingga pada suatu momentum, keluarga itu memberikan kepercayaan kepada Kiki sebagai manajer investasi untuk mengelola modalnya.
“Saya menjadi semacam manajer investasi pribadi mereka yang tugasnya memutar dana anggota keluarganya di berbagai instrumen investasi,” tutur Kiki. Hasilnya, tidaklah mengecewakan karena mencapai imbal hasilnya sesuai dengan target. Menurut Kiki, setiap pemodal mengharapkan keuntungan tiap kali membenamkan dananya di suatu instrumen investasi. Akan tetapi, dia mengingatkan faktor risiko yang ditanggung investor. Semakin besar imbal hasilnya (return), maka semakin besar pula risikonya.
Maka, dia selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kiki berkata, dirinya sejak remaja sudah terbiasa berinvestasi. “Waktu saya masih kecil, ibu saya sering kali mengajarkan caranya mengatur uang jajan dan membelanjakannya di barang-barang yang bermanfaat. Dan sejak SMA, saya menyisakan uang jajan untuk disimpan di deposito,” tutur sulung dari 6 bersaudara ini.
Ketika Kiki kembali ke Tanah Air usai menyelesaikan studi program masternya di AS, ia sempat menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi swasta sebelum bekerja di BEI. Dia meretas kariernya sebagai Kepala Unit BEI tahun 2004. Setahun kemudian, jabatannya melonjak sebagai Head of Corporate Communication, dan naik lagi posisinya sebagai Sekretaris Korporat BEI tahun 2007-2009.
Kariernya menanjak sebagai salah satu direksi BEI yang diembannya sejak tahun 2009 hingga Juni tahun ini. Itulah sebabnya, Kiki tidak diperkenankan membeli saham agar tidak terbentur konflik kepentingan.
Karenanya, wanita yang pernah didapuk sebagai karyawan terbaik BEI di tahun 2005 ini memilih properti. “Pilihan investasi saya terbatas. Saya pun membeli apartemen di pasar sekunder yang dicicil melalui kredit pemilikan apartemen (KPA). Saya memulainya kira-kira tahun 2006,” ungkapnya.
Dia memburu apartemen di daerah pinggiran Jakarta yang lokasinya prospektif di kemudian hari.Untuk lokasi dan nama apartemen, Kiki tidak berkenan menyebutkannya. “Yang pasti masih murah, tapi harganya cepat naik,” ujarnya.
Karena itu, Kiki mempertimbangkan lokasi, akses jalan dan ketersediaan infrastrukturnya. Apabila akses jalan dan infrastruktur pendukungnya masih minim atau sedang dibangun, Kiki tetap meliriknya. “Kondisi itu menjadi peluang bagi saya membeli apartemen yang murah, tapi harganya berpotensi naik jika pembangunan infrastrukturnya rampung. Harganya pasti melonjak,” ujarnya yakin.
Trik seperti itu bukanlah isapan jempol. Kiki pernah merasakan manisnya jual beli apartemen di pasar sekunder. “Saya pernah dapat capital gain 25% hanya dalam waktu kurang dari setahun,” katanya sambil melempar senyum. Lalu, wanita ini menggunakan keuntungannya untuk membeli apartemen lainnya. Lokasi apartemen yang dibelinya di pinggiran Jakarta, tetapi menawarkan capital gain yang menggiurkan.
Pasar properti cukup semarak ketika industri properti booming tahun 2006-2012. Pada periode itu, pasar properti belum jenuh. Harganya meroket dalam jangka waktu pendek dan memberikan keuntungan yang menjanjikan bagi investornya. Harga di pasar sekundernya pun terkerek. Sebagai ilustrasi, harga apartemen di pasar sekunder daerah Depok, Cibubur, Tangerang, Serpong dan Bekasi, menunjukkan tren peningkatan di tahun 2012 .
Kiki menambah apartemennya di lokasi lain. “Saya membeli apartemen medium. Hunting apartemen dibantu broker properti yang sudah dipercaya dan sering saya gunakan jasanya. Jadi, jadwal kerja saya tidak tersita karena terbantu oleh informasi yang dipasok oleh broker itu,” ujar Kiki mengenai strateginya dalam mencari apartemen.
Ia cukup selektif memilih apartemen meski mendapat pasokan informasi dari broker. Kiki memilah-milah informasi tersebut, menelusurinya lebih lanjut ke berbagai macam sumber atau referensi. Putri pasangan Soegih Hidayat dan Caecilia Hanggarini ini juga menelusuri legalitas apartemen yang dibelinya. Jurus ini untuk memudahkan Kiki menjual kembali apartemennya ke calon pembeli.
“Untuk meminimalisasi risiko, saya harus memastikan surat-suratnya, sertifikat dan semua aspek legalnya,” ia menambahkan. Ini juga yang membuatnya cukup mudah meraih capital gain dalam waktu yang cepat.
Sejauh ini, jumlah apartemen yang dijualnya itu sudah tidak bisa dihitung dengan jari.Aspek legalitas juga diterapkannya saat ia beralih dari jual beli apartemen ke rumah (landed house). Tahun 2011-2012, Kiki mencari rumah bekas di pinggiran Jakarta atau daerah yang berpotensi menjadi kawasan hunian premium. Rumusnya sama dengan yang dilakoninya di investasi apartemen, misalnya mencicilnya melalui kredit pemilikan rumah (KPR).
“Saya membeli rumah yang lahannya tidak begitu luas dengan harga jual yang reasonable agar bisa terjangkau konsumen. Kemudian, desain rumahnya unik,” tuturnya.
Setelah rumah terjual, lanjut Kiki, dia akan melunasi cicilan KPR-nya seperti yang dilakukannya untuk melunasi KPA. Dia mengklaim sangat aktif mengucurkan modalnya di properti. Ia tidak menampik investasinya dengan cara seperti itu membuat dompetnya semakin tebal. Apabila menyimak riset SWA, peningkatan harga rumah bekas tahun 2012 di daerah perbatasan Jakarta bisa naik 4%-15% bergantung pada lokasinya.
Berbicara investasi properti itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sebab, pembeli harus menyediakan uang tunai sebagai uang muka. Mantan aktris sinetron ini menyiasatinya dengan menggelontorkan dana cukup besar dari gajinya.
“Saya konsisten menyisakan 60% sampai 70% dari gaji sejak saya pertama kali bekerja sampai menjabat direksi bursa,” ungkap Sekjen Masyarakat Ekonomi Syariah 2014-2018 ini. Dia menyebutkan, portofolionya dibagi ke properti sebanyak 60%, sisanya ke reksa dana 30% dan emas 10%. “Keuntungan dari properti saya belikan reksa dana dan emas,” Kiki menambahkan.
Dana yang ditempatkan di reksa dana dibagi lagi ke reksa dana saham, pendapatan tetap dan syariah. Komposisi dananya dibagi rata dalam tiga reksa dana itu. Wanita yang menghabiskan masa kanak-kanaknya di Yogyakarta ini memercayakan pengelolaan dananya ke beberapa perusahaan manajer investasi. Dia memilih reksa dana yang rekam jejak return-nya konsisten.
“Jadi saya tidak mudah pindah ke manajer investasi,” ia menandaskan. Horison investasinya diselaraskan dengan targetnya. Sebagai contoh, lanjut Kiki, reksa dana saham dipegangnya hingga 10-15 tahun untuk persiapan membiayai pendidikan putra semata wayangnya yang kala itu masih berusia tiga tahun.
Perempuan kelahiran 28 November 1975 ini awalnya sempat ketar-ketir karena volatilitas IHSG tahun ini cukup tinggi. “Tapi, saya tidak redemption walau pasar saham sedang bergejolak,” ucapnya. Saham-saham di BEI menjadi aset dasarnya (underlying asset) di reksa dana saham. Kinerja pasar saham domestik per 22 September 2025 itu masih melorot – lantaran level IHSG minus 18,8% – ke posisi 4.224 poin. Jakarta Islamic Index yang menjadi acuan reksa dana syariah juga berada di zona merah di level 561 poin atau minus 18,74%.
Jika mengacu data PT Infovesta Utama, performa reksa dana saham hingga Agustus 2015 (year to date) masih minus 17,56%, dan reksa dana campuran turun 9,17%. Sementara reksa dana pendapatan tetap masih di zona hijau (positif) karena memberikan return 0,82%. Risiko investasi pada reksa dana diminimalisasi oleh Kiki dengan berbagai cara. Pertama, menetapkan horison investasinya jangka panjang untuk reksa dana saham.
Kedua, diversifikasi di beberapa jenis reksa dana dan disebarkan ke beberapa perusahaan manajer investasi. Ketika IHSG berfluktuasi biasanya nilai aktiva bersih reksa dana turun. Jadi, dirinya tidak melakukan redemption di reksa dananya kendati IHSG bergejolak.
“Sebagai investor saya juga khawatir aset saya bisa turun. Tapi, saya yakin kondisi ini akan berubah ke arah yang lebih baik karena fundamental perekonomian Indonesia masih baik,” ungkap Kiki, yang tidak spesifik menargetkan imbal hasil dari reksa dananya.Sejauh ini, Kiki belum menyatakan minatnya menambah aset, khususnya membeli saham.
Saat ini, IHSG masih berfluktuasi dan memberikan peluang bagi investor meraih imbal hasil dari saham unggulan yang harganya sudah terdiskon. Setelah tidak lagi menjabat direksi BEI, ruang geraknya lebih leluasa untuk membeli saham. “Tapi, saya hold dulu untuk membeli saham,” ucap Kiki.
Kiki mengemukakan, dirinya adalah investor yang mengutamakan investasi jangka panjang. Ke depan, sejumlah rencana investasi akan dilakukannya, tetapi dia belum bisa memerincinya lebih lanjut. “Saat ini, saya fokus ke karier. Mudah-mudahan saya lolos due diligence sebagai direksi di salah satu perusahaan keuangan nasional,” kata wanita yang hobi seni rupa dan menonton teater ini. (*)
Komposisi Portofolio:
· Properti: 60%
· Reksa dana: 30%
· Emas: 10%
Formula Friderica Widyasari mengelola asetnya:
· Membeli apartemen dan rumah di pasar sekunder.
· Mencicil lewat KPA dan KPR.
· Memburu properti dari informasi broker properti yang dipercayainya.
· Selektif memilih lokasi dan ketersediaan infrastrukturnya.
· Membeli apartemen medium.
· Membeli rumah yang tidak begitu luas dan desainnya unik.
· Memutar keuntungannya untuk membeli reksa dana dan emas.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.