Rugi US$322,48 Juta di 2025, Garuda Indonesia (GIAA) Bidik 2026 sebagai Tahun Pemulihan
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, atau rugi bersih, sebesar US$322,48 juta pada tahun yang berakhir 31 Desember 2025. Angka tersebut membengkak 343,52% dibandingkan rugi bersih tahun 2024 yang sebesar US$72,70 juta.
Membengkaknya rugi bersih itu sejalan dengan penurunan total pendapatan usaha GIAA sebesar 5,85% secara tahunan. Pada 2025, GIAA mencatat total pendapatan usaha sebesar US$3,21 miliar, yang ditopang oleh pendapatan dari penerbangan berjadwal sebesar US$2,51 miliar, penerbangan tidak berjadwal US$340,87 juta, dan pendapatan lain-lain US$361,05 juta.
Sebagai perbandingan, pada 2024 Garuda Indonesia masih mencatat total pendapatan usaha sebesar US$3,41 miliar, yang berasal dari penerbangan berjadwal US$2,74 miliar, penerbangan tidak berjadwal US$333,75 juta, dan pendapatan lain-lain US$340,36 juta.
Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang terbit di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 17 Maret 2026, pendapatan penerbangan berjadwal terutama berasal dari penumpang sebesar US$2,34 miliar, turun dari US$2,57 miliar pada 2024. Sementara itu, pendapatan dari kargo dan dokumen naik tipis menjadi US$165,85 juta dari US$164,70 juta.
Pada segmen penerbangan tidak berjadwal, pendapatan dari penerbangan haji turun menjadi US$180,16 juta dari US$227,47 juta. Sebaliknya, pendapatan charter meningkat menjadi US$160,70 juta dari US$106,27 juta.
Untuk segmen pendapatan lain-lain, kontribusi terbesar berasal dari pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar US$141,61 juta, naik dari US$102,71 juta. Setelah itu, pelayanan terkait penerbangan menyumbang US$67,74 juta dari sebelumnya US$98,68 juta, biro perjalanan US$60,60 juta dari US$40,96 juta, dan jasa boga US$52,29 juta dari US$58,72 juta.
Adapun pendapatan lain-lain juga berasal dari fasilitas sebesar US$17,29 juta dari US$18,46 juta, hotel US$12,20 juta dari US$12,07 juta, transportasi US$2,02 juta dari US$2,29 juta, serta pos lainnya US$7,37 juta dari US$6,46 juta.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menjelaskan bahwa penurunan kinerja perseroan terutama dipengaruhi kapasitas produksi yang masih terbatas pada semester I/2025. Kondisi tersebut terjadi karena jumlah unserviceable aircraft masih cukup tinggi dan menunggu pemeliharaan terjadwal (scheduled maintenance).
Dari sisi biaya, total beban usaha turun tipis 0,16% menjadi US$3,102 miliar dari US$3,107 miliar pada 2024. Penurunan ini terutama dipengaruhi beberapa pos beban yang lebih rendah, seperti beban operasional penerbangan yang turun menjadi US$1,54 miliar dari US$1,66 miliar.
Selain itu, beban kebandaraan turun menjadi US$249,14 juta dari US$252,27 juta, beban pelayanan penumpang menjadi US$216,35 juta dari US$221,62 juta, serta beban umum dan administrasi menjadi US$206,68 juta dari US$212,22 juta.
Beberapa beban lain juga mencatat penurunan, seperti beban operasional hotel menjadi US$19,48 juta dari US$20,14 juta, beban operasional transportasi menjadi US$11,76 juta dari US$12,42 juta, serta beban operasional jaringan menjadi US$4,96 juta dari US$5,03 juta.
Namun, tidak semua pos beban menurun. Beban pemeliharaan dan perbaikan justru naik menjadi US$661,36 juta dari US$536,95 juta. Beban tiket, penjualan, dan promosi juga meningkat menjadi US$192,70 juta dari US$179,30 juta.
Setelah memperhitungkan pendapatan dan beban usaha tersebut, Garuda Indonesia mencatat rugi usaha sebesar US$468,21 juta pada 2025, membengkak 20,02% dibandingkan rugi usaha 2024 yang sebesar US$390,07 juta. Kenaikan rugi usaha ini antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya beban keuangan menjadi US$525,79 juta dari US$479,89 juta.
Selain itu, bagian laba entitas asosiasi turun menjadi US$5,64 juta dari US$7,37 juta. Perseroan juga membukukan rugi selisih kurs neto sebesar US$1,20 juta, berbalik dari posisi untung US$18,04 juta pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, pendapatan keuangan meningkat menjadi US$22,72 juta dari US$9,20 juta. Namun, pendapatan lain-lain neto turun menjadi US$30,41 juta dari US$55,18 juta.
Dari sisi neraca, perseroan mencatat total aset sebesar US$7,43 miliar pada 2025, naik 12,28% dari US$6,61 miliar pada 2024. Kenaikan ini antara lain ditopang oleh lonjakan kas dan setara kas menjadi US$943,40 juta dari US$219,17 juta.
“Arus kas tersebut yang akan dioptimalkan untuk memaksimalkan fundamental operasional perusahaan ke depannya,” jelas Glenny dalam keterangan resmi yang diterima SWA.co.id, Minggu (22/3/2026).
Di sisi lain, total liabilitas perseroan turun 7,91% menjadi US$7,33 miliar dari US$7,97 miliar. Sementara itu, total ekuitas berbalik menjadi positif sebesar US$91,91 juta, dari sebelumnya defisit US$1,35 miliar.
Glenny menambahkan, perseroan menempatkan tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja. Untuk itu, Garuda Indonesia menyiapkan 11 inisiatif strategis utama, yakni optimalisasi jaringan rute, peningkatan kapasitas armada, transformasi platform digital, keunggulan manajemen pendapatan, peningkatan monetisasi kargo, optimalisasi pendapatan tambahan, pembentukan aliansi strategis, peningkatan tata kelola biaya, digitalisasi operasional, sinergi struktur organisasi, dan peningkatan pengalaman pelanggan.
“Garuda Indonesia optimistis dapat mempercepat langkah menuju fase turnaround yang lebih solid, sekaligus memperkuat perannya sebagai national flag carrier yang kompetitif,” tutup Glenny.
Saat ini, saham GIAA masih tercatat di Papan Pemantauan Khusus BEI pada sektor transportasi dan logistik. Garuda Indonesia sendiri melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada 11 Februari 2011. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.