Laba Bersih Sat Nusapersada (PTSN) Terbang 75,85% di 2025, Pendapatan Ditopang Omset Merek Xiaomi, Motorola, dan Asus
Emiten teknologi, PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN), membukukan pendapatan sebesar US$242,78 juta dalam laporan laba rugi konsolidasian yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025. Pos pendapatan itu melonjak signifikan hingga 97,61% dari sebesar US$122,85 juta pada 31 Desember 2024.
Melansir dari laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Sabtu (28/3/2026), PTSN merinci pendapatan tersebut berasal dari penjualan – neto (bersih) senilai US$176,12 juta, meningkat dari US$63,22 juta. Kemudian, jasa perakitan senilai US$66,66 juta dari US$59,63 juta.
“Seluruh penjualan dan jasa perakitan dilakukan dengan pihak ketiga,” jelas manajemen Sat Nusapersada Tbk di laporan keuangan tahunan yang terbit sore ini di keterbukaan informasi BEI.
Adapun, rincian pelanggan dengan nilai pendapatan neto melebihi 10% dari total pendapatan neto PTSN antara lain PT Xiaomi Technology Indonesia sebesar US$39,98 juta dari US$42,61 juta, Motorola Mobility LLC US$32,69 juta yang baru tercatat di 2025, dan PT Motorola Mobility Indonesia US$31,53 juta dari US$26.540.
Kemudian Asustek Computer Incorporation US$26,95 juta dari US$131.982, Murata Manufacturing Company. Ltd. US$24,60 juta dari US$21,98 juta, dan Allied Telesis International (Asia) Pte. Ltd. US$18,06 juta dari US$17,96 juta.
Dari sisi pendapatan industri, sejumlah pelanggan seperti Motorola Mobility LLC, PT Motorola Mobility Indonesia, Asustek Computer Incorporation, Murata Manufacturing Company. Ltd., Allied Telesis International (Asia) Pte. Ltd., dan PT Asus Technology Indonesia Jakarta menyumbang total pendapatan PTSN.
Dari sisi pendapatan jasa perakitan, sejumlah pelanggan ini juga menyumbang total pendapatan PTSN. Mereka adalah PT Xiaomi Technology Indonesia, Jolly World Holdings Limited (TCL), dan PT Pegaunihan Technology Indonesia (sebelumnya bernama PT Pegatron Technology Indonesia).
Meski pendapatan melonjak, PTSN harus berhadapan dengan beban pokok pendapatan yang membengkak sampai 116,81% pada tahun 2025. Sehingga nilai beban pokok pendapatan sebesar US$210,15 juta, dari US$96,92 juta pada tahun 2024.
Untungnya, PTSN mampu mencetak laba kotor sebesar US$32,62 juta pada tahun 2025. Pos laba bruto tersebut meroket 25,85% dari US$25,93 juta pada tahun 2024.
Sejumlah beban meningkat pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024. Misalnya, beban usaha sebesar US$15,42 juta dari US$14,84 juta dan beban keuangan sebesar US$1,43 juta dari US$1,30 juta.
Selebihnya, PTSN mencatat sejumlah keuntungan dari laba penjualan sisa produksi senilai US$262.287 dari US$241.261. Pos laba penjualan aset tetap berbalik untung US$700.469 dari sebelumnya rugi US$260.576.
Laba selisih kurs – neto juga berbalik untung senilai US$16.493 dari sebelumnya membengkak rugi senilai US$1,12 juta. Untuk lain-lain, tercatat meningkat sebesar US$756.700 dari US$488.901. Sementara, rugi divestasi entitas anak terakhir tercatat pada tahun 2024 saja yang nilainya sebesar US$9.307.
Setelah dikurangi laba sebelum pajak hingga pajak penghasilan, PTSN mencetak laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih senilai US$14 juta pada tahun 2025. Pos laba bersih itu meroket 75,85% dari US$7,96 juta pada tahun 2024.
Hal ini membuat laba tahun berjalan per 1.000 saham dasar ikut meningkat sebesar US$2,63 per saham pada tahun 2025. Padahal sebelumnya, PTSN mencatat laba per saham dasar tersebut senilai US$1,50 per saham pada tahun 2024.
Dari sisi neraca, total aset PTSN meroket 46,47% menjadi US$228,83 juta pada tahun 2025, dari US$156,22 juta pada tahun 2024. Direktur Keuangan Sat Nusapersada Tbk, Kustina menjabarkan, terdapat peningkatan piutang usaha kepada pihak ketiga, persediaan, serta aset tetap – setelah dikurangi akumulasi penyusutan.
“Piutang usaha dan persediaan: peningkatan persediaan perseroan terutama dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas produksi untuk produk smartphone merek Motorola serta laptop/desktop merek Asus dan Lenovo,” jelas Kustina dalam laporan keuangan tahunan tersebut.
Sedangkan di sisi aset tetap, berasal dari pembangunan pabrik baru untuk menunjang peningkatan pemesanan yang diterima perseroan. Nilai pembangunan tersebut per 31 Desember 2025 tercatat di aktiva dalam penyelesaian senilai US$35 juta dan masih berlangsung.
“Perseroan juga melakukan investasi penambahan modul dan lini mesin SMT [Surface Mount Technology] dan peralatan kerja untuk lini produksi sehubungan dengan peningkatan forecast dari beberapa pelanggan, seperti TCL (Jolly World) dan Motorola,” lanjut Kustina.
Sementara, total liabilitas perseroan ikut membengkak signifikan hingga 147,45% menjadi US$101,61 juta pada tahun 2025, dari US$41,06 juta pada tahun 2024. Kustina menjabarkan, liabilitas meningkat karena kenaikan utang usaha kepada pihak ketiga, utang lain-lain, dan utang bank.
Rinciannya, utang usaha kepada pihak ketiga berkaitan dengan pembelian bahan baku untuk produksi smartphone Motorola dan laptop/desktop Asus dan Lenovo.
Utang lain-lain berhubungan dengan pembangunan pabrik dan penambahan modul dan lini SMT.
Terakhir, utang bank berasal dari penambahan fasilitas kredit investasi dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dengan saldo US$28,83 juta per 31 Desember 2025. Pendanaan tersebut ditujukan untuk pembiayaan pembangunan pabrik baru. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.