Ditopang Indomaret Cs, Laba Indoritel Makmur Internasional (DNET) Melonjak 17% ke Rp1,25 Triliun
PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp1,69 triliun pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025. Angka ini tumbuh 18,87% dibandingkan Rp1,42 triliun pada 2024.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Selasa (31/3/2026), pendapatan tersebut terutama berasal dari jasa pihak ketiga. Segmen korporasi menyumbang Rp851,26 miliar, meningkat dari Rp777,32 miliar. Sementara itu, segmen ritel mencapai Rp725,62 miliar dari sebelumnya Rp564,15 miliar, serta pendapatan lain-lain sebesar Rp120,29 miliar.
DNET juga mencatat adanya konsentrasi pendapatan dari pelanggan utama. PT Cyberindo Aditama menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp854,69 miliar atau setara 51,08% dari total pendapatan 2025, meningkat dari Rp646,35 miliar atau 45,27% pada 2024.
“Pendapatan dari PT Cyberindo Aditama merupakan pendapatan yang berasal dari segmen ritel dan korporasi dan lain-lain,” jelas manajemen PT Indoritel Makmur Internasional Tbk dalam keterbukaan informasi BEI.
Di sisi lain, sejumlah beban mengalami peningkatan. Beban penjualan naik menjadi Rp1,19 triliun dari Rp988,41 miliar. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp210,50 miliar dari Rp185,12 miliar, sementara beban lainnya – neto tercatat sebesar Rp2,76 miliar dari Rp2,06 miliar.
Meski demikian, kontribusi dari entitas asosiasi dan ventura bersama tetap menjadi penopang kinerja. DNET membukukan bagian laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp1,11 triliun, naik dari Rp914,15 miliar pada tahun sebelumnya.
Entitas asosiasi tersebut antara lain PT Indomarco Prismatama (Indomaret) dengan kepemilikan 40%, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) sebesar 25,77%, dan PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) sebesar 37,51%. Sementara itu, ventura bersama melibatkan PT Jaringan Mega Sedayu dan PT Teknologi Mega Sedayu, masing-masing dengan kepemilikan 50%.
Sepanjang 2025, Indomarco Prismatama mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp116,67 triliun dari Rp112,80 triliun. ROTI membukukan Rp3,75 triliun dari Rp3,93 triliun, sedangkan FAST mencatatkan Rp4,88 triliun dari Rp4,87 triliun. Kinerja entitas asosiasi dan ventura bersama ini berkontribusi melalui bagian laba, bukan sebagai pendapatan langsung perseroan.
Kombinasi pertumbuhan pendapatan dan kontribusi dari entitas asosiasi tersebut mendorong laba usaha DNET naik 20,49% menjadi Rp1,40 triliun pada 2025, dari Rp1,16 triliun pada tahun sebelumnya.
Setelah memperhitungkan biaya dan pajak, DNET membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,25 triliun, meningkat 17,11% dari Rp1,07 triliun pada 2024.
Kenaikan laba ini turut mendorong laba per saham meningkat menjadi Rp88,52 per saham pada 2025, dari Rp75,58 per saham pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat 10,95% menjadi Rp23,70 triliun pada 2025, dari Rp21,35 triliun pada 2024. Total liabilitas naik 15,26% menjadi Rp8,21 triliun, sementara total ekuitas tumbuh 8,80% menjadi Rp15,48 triliun.
Dari sisi pergerakan saham, DNET bergerak ke Rp8.875, koreksi 2,20% dari Rp9.075, melansir dari aplikasi IDX Mobile pada pukul 14.27 WIB. Kapitalisasi pasar saham DNET menembus Rp125 triliun, dengan volume transaksi sebanyak 2.300 saham. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.